Hadiah dari TUHAN

Rizky Ade Putra
Chapter #8

Mau kalau Aku sampai teriak?!

Kita tidak akan mengetahui tentang suatu hal apabila, kita tidak langsung mencari tahu dan melihat, mendengar, ataupun membuktikannya sendiri. Dengan Aku yang baru pertama kali saat itu menaiki mobil mewah dengan AC di dalam-nya, membuat-ku kepala-ku seorang membuat tanya jawab. “Wihhh, ternyata setiap hari Dania naik mobil mewah ini kesekolah, nyaman banget ya.” Suara dalam hati dengan mata yang melihat isi dalam mobil-nya.

Dan saat itu Dania pun sepertinya menyadari akan hal yang Aku lakukan dengan Aku yang bersikap sangat amat norak ketika hendak baru saja masuk ke dalam mobil-nya dengan seorang bapak supir di depan. “Kamu kenapa Jar?” Tanya Dania dengan Aku yang masih menggenjot – genjotkan bokong di atas kursi mobil yang empuk. “Enak ya punya mobil mewah kaya kamu gini.” Tutur-ku yang tersenyum dengan Dania yang menatap-ku sembari tersenyum heran. “Bukan... ini bukan punya-ku Jar.”

Ucapan Dania membuat-ku sedikit terheran karena Ia berkata bahwa ternyata mobil itu bukalah milik-nya. “Hah?!, terus ini mobil siapa?” dengan nada yang lirih aku berbisik pada tania yang duduk berbelahan dengan-ku di kursi bagian tengah. Dan lagi – lagi Dania membuat-ku menjadi kagum dengan cara pola fikirnya yang, Aku sendiri pun tidak bisa menyangkal. “Yang kaya adalah orang tua-ku, bukan Aku. Dan ini bukan milik-ku, tapi milik Orang tua-ku.” Dengan nada lirih kembali berbisik pada-ku dan sedikit menyeringai. “Astaga Dania, itu sama aja punya-muu.. Kamu kan anak-nya.” Tania pun langsung membuat-ku skak mat dan diam seribu kata, “Aku memang anak Orang tua-ku..., Tapi tetap saya ini bukan punya-ku karena, mobil ini dibeli oleh hasil kerja Orang tua-ku, bukan hasil kerja-ku. Benerrr tohh??” Ucapan-nya yang ditutup dengan senyuman, dengan Aku pula yang hanya bisa berkata, “Heheheh bener juga sih... sekarep-mu lah Dan...”

Menurut-ku, Dania adalah seorang anak perempuan yang mempunyai fikiran teramat unik. Unik karena menurut-ku Ia berfikir berbeda dari pada yang lain. Dan yang lebih parahnya adalah, fikiran-nya yang unik itu adalah suatu hal yang sebenarnya adalah kenyataan.

Karena sekaya apapun orang tua kita dengan banyak barang atau apapun yang kita gunakan, itu tetap saja bukan milik kita. Dan tidak pantas pula kita membanggakan hal tersebut dengan akhiran yang membuat orang lain merasa rendah. Tidak seperti anak perempuan disekolah-ku yang lain atau yang pernah Aku temui. Aku mengatakan tidak pantas dengan ada maksud kalimat lain di dalam-nya yaitu, “Tidak pantas merendahkan orang lain jika itu bukanlah milik kita.”

Dan menurut-ku, hal apa yang dilakukan Dania ialah sangat pantas untuk ditiru. Untuk apa membanggakan harta yang masih milik orang tua kita. Walaupun itu adalah harta orang tua kandung kita, tapi sekali lagi Aku tanyakan pada kalian, “Untuk apa?”. Sedangkan orang tua kita sendiripun belum tentu berlaku sombong dan merendahkan orang lain yang padahal, itu adalah hasil jeripaya mereka. Atau mungkin pula, karena memang mereka terlalu sibuk untuk berusaha mendapatkan apa yang menjadi keinginan mereka masing – masing, mereka sampai lupa untuk bersikap sombong dan membuat orang lain terasa rendah derajat-nya.

Saat berada di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan menuju rumah Dania, Aku pun dibuat heran dengan Dania yang mengatakan pada supir-nya, “Pak Ujang, ketempat yang Aku bilang tadi yaa..” Dengan anggukan kepala Pak Ujang, “Ohh siap non..”.

Aku sangat heran sebenarnya Dania ingin mengajak-ku kemana pada saat itu?. Yang pasti menurut-ku tidaklah kerumah-nya. Karena menurut-ku tidak logis dengan apa yang Dania katakan pada Pak Ujang, yang itu adalah supir-nya. Jika arah yang ditempuh mobil dengan Pak Ujang yang menjadi supir-nya untuk menuju rumah-nya, Aku rasa sedikit tidak masuk akal. Untuk apa Dania mengatakan ketempat yang Ia bilang?. Dan apa yang Ia katakan pada Pak Ujang pun Aku tidak tahu. Karena seingat-ku pada saat itu, yang dikatakan-nya pada Pak Ujang saat itu hanyalah, “Ayook Pak jalan..” Dan seterusnya, Ia berbicara dengan gaya kuda bisik dengan-ku yang bergaya norak.

Lihat selengkapnya