Hadiah dari TUHAN

Rizky Ade Putra
Chapter #9

Awas ya, akan tiba hari pembalasan !

Dan setelah keluar dari mall tersebut yang sebelumnya Dania berasalan untuk berbelanja pun selesai. Tapi seperti fikiran-ku biasanya bahwa, Aku akan berfikiran keras disaat suatu hal atau kejadian telah terlewat. Saat itu Aku tidak marah walaupun sebenarnya Aku seperti dibohongi oleh Dania yang mengatakan ia ingin berbelanja.

Tapi setelah Aku fikir – fikir, Dania hanya mengatakan bahwa Ia hanya ingin berbelanja. Dan tidak menyebutkan barang yang Ia beli nanti apa dan untuk siapa. Namun, ada sedikit hal yang membuat-ku heran pada Dania yang secara tiba – tiba membelikan-ku sepatu baru. Maksud-ku bukan dari maksudnya melainkan hal yang sebenarnya tidak penting juga Aku fikirkan. Hanya saja, agar Aku tidak digiring oleh opini otak-ku sendiri, jadi Aku tanyakan saja langsung pada-nya saat Kami sudah kembali lagi di mobil.

Aku sebenarnya ragu untuk menanyakan ini karena tidak teramat penting. Tapi tidak apalah, hitung – hitung agar fikiran-ku puas dan tidak tersasar. “Dan.. Aku mau tanya sesuatu sama kamu boleh ga?” tengok-ku pada Dania yang duduk bersebelahan dengan-ku seperti saat perjalanan menuju mall. “Yaaa tanya aja gapapa.. “ balas tengok wajah-nya ke arah-ku. “Sebelumnya Aku mau ngucapin terimakasih banget sama kamu karena udah mau beliin aku sepatu baru.. Aku gatau harus balesnya pake apa dengan sepatu mahal kaya gini, hehehehe.” Bergumam sedikit mulut-ku.

“Kamu ini ngomong apasih.. santai aja kali Jar.. teman itu harus saling bantu tanpa mengharap balasan apapuuun... Begituuu.. Yakan?” Senyuman tulusnya sebagai seorang teman pada-ku. “Ohhiyaa tadi kamu katanya mau nanya.. Mau nanya apa?” Tanya kembali Ia pada-ku. “Kok kamu bisa tahu ukuran sepatu Akusih, (Chikk)” suara mulut yang kubuat. “Hah?” ucap Ia dengan Aku yang langsung menggubris-nya, “Hah apa Dan.. ada yang salah dari pertanyaan-ku?” Tanya-ku pada Dania yang kemudian malah langsung tertawa, “Hahahahaha...”

Aku seketika dibuat heran pada-nya karena secara tiba – tiba Ia tertawa saat Aku mengatakan pertanyaan yang sudah Aku katakan bahwa sebenarnya tidaklah terlalu penting. “Jadi kamu mau tanya sama Aku dengan wajah serius kaya tadi.. hanya untuk menanyakan, kenapa Aku bisa tahu ukuran sepatu-mu padahal Aku tidak tanya pada-mu? Iyaa? Hahahaha.” Mengulang pertanyaan-ku dengan Ia yang tertawa lagi. “Ii.. Iiyaa, hehehehe.” Dengan sedikit tercengir sampai terlihat gigi-ku pada-nya.

Tapi saat itu Ia malah terus tertawa sampai terbahak – bahak karena Aku yang bertanya seperti itu. Bahkan karena terlalu berlarut pada tawa-nya, Aku harus berbicara kembali untuk agar Ia berhenti tertawa. “Daniaa.. Aku nanya sama kamu... Tapi kok malah ketawa, aneh..” Ucapan-ku yang langsung digubris olehnya, “Kamu yang aneh.. masa soal gitu aja bingung...haduh.. hahaha” dengan sisa tawa-nya yang masih mengiringi. “Yaudah kalo gamau jawab gapapa, gapenting juga kok.”

Setelah Aku berpura – murah meraju pada-nya, Ia pun mulai ingin berbicara dengan berusaha menghentikan tawa-nya. “Okee okey.. hahaha.” Lanjut-ku, “Apaa..?” wajah-ku yang mengkerut dan tak menghadap ke arah-nya. “Aku.. bisa tahu nomor sepatu kamu itu karena kan Kamu lepas sepatu-mu saat jam olahraga itu.. Nah saat kamu meletakkannya di dekat pohon dan Aku pun juga meletakkan sepatu-ku di tempat yang sama.. Aku melihat ukuran sepatu-mu yang sepertinya kamu gasadaar.. Begetooo..” Lanjut Dania mengatakan, “Udah dijawab kan?, hahahaha.” Justru Ia kembali tertawa lebih terbahak – bahak dari sebelumnya. “Oooouuhh gii.. tuu...” Hanya dengan anggukan kepala-ku.

Lihat selengkapnya