Tapi justru, karena hinaan – hinaan kecil mereka yang juga membuat banyak goresan di dalam hati-ku, itu membuat-ku semakin kebal akan hinaan mereka selanjutnya. Ditamabah lagi, saat itu sudah ada Dania yang selalu men-supportku. Jadi Aku tidak hanya bisa mencurahkan isi hati dengan cara bercerita hanya kepada Ayah saja, melainkan juga dengan Dania. Dania yang menerima-ku apa adanya walaupun, sudah melihat seperti apa rumah-ku dan melihat sedikitnya kehidupan-ku.
Dengan lontaran hinaan yang semakin terasa perih di hati-ku, Aku pun terus juga merasa masa bodo atas apapun yang mereka katakan pada-ku. Aku terus berjalan menyusuri lorong – lorong sekolah yang bergema dengan suara orang – orang sombong, karena memang letak kelas-ku berada di lantai 2 dari 3 lantai sekolah dan berada dibagian ujung.
Setiap kali Aku menuju kelas atau dari kelas menuju ke kamar mandi, mushola, kantin atau pulang pun pasti selalu melewati kelas Dania yang terletak 2 kelas dari kelas-ku yang berada di ujung. Saat setelah Aku melewati lorong yang penuh dengan suara cacian dan hinaan, Aku pun bertemu dengan Dania saat hampir ingin sampai ke kelas-ku. Seperti judul buku Ibu R.A Kartini, “habis gelap terbitlah terang.”
Perumpamaan saat Aku berjalan melewati lorong adalah sisi gelap, dan bagian terbitlah terangnya adalah saat bertemu Dania. “Heii Jar.. Baru dateng??” Sapa Dania yang tepat berada di depan kelas-nya. Aku pun langsung saja segera berlari menuju Dania yang menegur-ku. “Heii.. Iyaa baru dateng..” Jawab-ku.
Saat itu ternyata Dania langsung melihat ke arah bagian bawah yaitu, bagian sepatu. “Wihhh.. lumayan kerenlah ya teman-ku ini.” tutur-nya dengan Aku yang tersipu malu, “Alaahh bisa aja..” Ucap-ku dengan menyenggol tubuh Dania.