Hadiah dari TUHAN

Rizky Ade Putra
Chapter #15

Jangan merusak, jika tidak ingin dirusak.

“(Teng nong.. Teng nong.. Teng nong..)” Bunyi suara bel yang menandakan waktu istirahat berakhir.

Suara bel pun berbunyi kembali yang menandakan bahwa waktu istirahat sudah selesai. Dan seperti biasa dan seharusnya pula, para murid dari kelas 7 sampai keas 9 pun kembali masuk kedalam kelas masing – masing untuk kembali melakukan kegiatan belajar mengajar. “Ehh udah bel masuk tuh Dan..” Ucap-ku yang seorang mengajak Dania untuk turut mendengar suara bel masuk. Dengan spontan Dania pun juga langsung merapihkan bekal yang sebelumnya Aku dan Dania makan berdua di bangku taman. “Ohiya.. yuu, yuu.. buruan.. Ntar telat masuk abis deh sama guru.” Pungkas-nya yang kemudian Aku dan Dania langsung berlari menuju kelas masing – masing.

Yang benar, Kami berdua harus berlari karena tempat kami beristirahat ialah di taman. Dan seperti yang Aku katakan sebelumnya, jarak dari taman dengan kelas Kami masing – masing lumayan cukup jauh untuk ukuran sekolah. Jadi, tentunya kami harus berlari dan tidak bisa berjalan santai saat masuk Aku dan Dania hendak ke pergi ke taman.

Dan kalau untuk urusan belajar, Aku tidaklah kalah dibanding teman – temanku yang lain. Teman – temanku yang kebanyakan dari mereka, dan jika dilihat dari gelagat masing – masing hanya menganggap sekolah bermain – main.

Memang benar ada sebuah perkataan, “Anggaplah belajar seperti bermain.” Tapi bukan bermain – main di dalam kelas. Karena menurut-ku yang dimaksudkan dengan “Anggaplah belajar seperti bermain.” Ialah kita harus menikmati waktu saat belajar agar kita senang, dan enjoyable menjalani-nya. Dan perumpamaannya adalah, tidak ada orang yang tidak suka bermain karena bermain ialah suatu kesenangan.

Tapi bukan berarti kita bermain, bercanda, atau berbicara dengan teman satu sama lain dalam kelas, disaat guru sedang memaparkan materi di depan kelas. Jikalau anggapan dari kata, “Anggaplah belajar seperti bermain.” Dengan cara seperti itu. Maka menurut-ku itu adalah suatu kekurang ajaran seorang murid terhadap seorang pahlawan tanpa tanda jasa, yaitu Guru.

Aku belajar dengan serius bukan hanya karena ingin pintar, untuk menghargai perjuangan Ayah-ku, mengubah nasib, atau hanya sekedar mencari teman. Tapi di dalam belajar, hal yang paling adalah bagaimana cara kita menghargai Guru, murid lain, atau bahkan petugas kebersihan sekolah. Sebuah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang bapak – bapak yang tidak terlalu Tua bernama Pak Jono.

Pak Jono adalah salah seorang petugas kebersihan disekolah-ku yang memberishkan seluruh ruang kelas disaat kegiatan belajar mengajar disekolah sudah berakhir. Dan Pak Jono juga, selain membersihkan seluruh ruang kelas, pun mengurus taman sekolah. Yaitu yang menurut-ku adalah, menjadi tempat paling favorite bagi-ku karena kenyamanannya. Dan kenyamanan itu dicipatakan oleh Pak Jono yang secara rutin membersihkan taman, menyiram tumbuhan yang ada disekeliling taman, sekaligus juga merapihkan-nya.

Lihat selengkapnya