Mobil yang kendarai Pak Ujang, dengan ada Aku dan Dania juga didalam-nya telah sampai di sebuah rumah makan. Rumah makan yang hanya menyediakan satu menu saja, yaitu menu gado – gado. Walaupun hanya satu menu makanan saja yang disajikan rumah makan tersebut, namun pembelinya pun tidak kalah dengan rumah makan yang menyediakan banyak varian menu. Dan jika dilihat dari banyak pembeli saat itu, sepertinya gado – gado yang dijual pun benar – benar enak.
Dan saat sampai, dengan awalan hanya Pak Ujang saja yang turun, Dania pun ikut turun dengan Ia mengajak-ku. “Non, mau makan disini atau dibungkus Non?” Tanya Pak Ujang pada Dania yang juga langsung menjawab, “Bungkus aja Pak, Aku juga kan sekalian mau belajar nih sama Guru Fajar.” Sedikit-ku membalas perkataan Dania sembari tersenyum pula, “Yehhh Guru apa?? Rese..”
Pak Ujang pun juga menghormati-ku walaupun Ia tidak mengenal-ku siapa. Hal itu aku anggap karena Ia pun menanyai-ku secara baik, sama seperti kepada Dania pula. “Kalo Kamu... siapa nama teman-nya Non?” Jawab-ku dengan spontan, “Fajar Pak, hehehe.” Lanjut Pak Ujang, “Ohhiyaa Fajar.. Fajar mau makan sini atau bungkus seperti Non Dania?”
Pertanyaan Pak Ujang kali itu sepertinya sangatlah tidak masuk akal. Jadi aku pun menjawab-nya dengan sedikit guyonan, yang sekaligus agar hubungan emosional-ku dengan Pak Ujang semakin dekat. “Yang pasti bungkus juga sama kaya Dania Pak.. Kalau saya makan sini, masa Dania dan Pak Ujang harus nunggu saya makan, hehehehe.” Ujar-ku dengan tertawa kecil. “Ohiyaa bener juga yah, hahahaha. Yasudah Pak Ujang pesen dulu ya gado – gadonya Non.” Ucap Pak Ujang dengan wajah bingung dan tangan yang menggaruk – garukkan kepala-nya.