Kami pun menuju rumah Dania dengan tujuan utamanya adalah, Dania meminta-ku untuk mengajari-nya tentang mata pelajara yang kurang Ia mengerti. Yang sebelumnya pun Dania sudah jelas mengatakan, pada hari itu Ia ingin Aku mengajari-nya yaitu, mata pelajaran Matematika. Mata pelajaran yang jika Dania kurang mengerti karena mungkin kurang disukai-nya. Maka hal itu berbanding terbalik dengan-ku yang sangat menyukai matetematika.
Senang juga rasanya Aku bisa mengajari Dania tentang pelajaran yang kurang Ia mengerti. Aku senang bukan karena fikiran yang aneh – aneh atau apapun itu. Tapi, Aku senang karena setidaknya kali itu Aku yang berguna dan menolong Dania.
Dan Aku pun berfikir, mungkin memang sudah jalan Tuhan dengan memberikan Aku teman baik seperti Dania, dan memberikan teman yang kurang berguna seperti-ku. Dania yang kurang dalam sisi ilmu pengetahuan namun diberikan rezeki lebih. Begitupun dengan Aku yang mempunyai rezeki dibawah Dania tapi, memiliki ilmu pengetahuan di atas-nya.
Aku berkata demikian bukan lantas Aku mengatakan Dania bodoh atau Aku lebih pintar jika dibandingkan dengan Dania. Akan tetapi, memang Dania sendiri-lah yang mengakui hal tersebut. Maka dari itu, Dania meminta mengajari-ku.
Itu bukanlah soal siapa yang rendah dan siapa yang tinggi. Ataupun perihal siapa yang pintar, ataupun siapa yang paling bodoh. Tapi adalah, tentang siapa yang mau mengakui kekurangan masing – masing yang dimiliki dalam hidup ini. Dan disaat kita telah mengetahui kekurangan yang kita miliki, sudah sepantasnya kita mencari, apa atau siapa yang bisa mengisi kekurangan kita.