Setelah Aku berhasil membuat Dania sadar, Aku juga tersadar dengan Aku yang langsung mengajari-nya belajar, tanpa pempelajari diri-nya sendiripun adalah suatu kesalahan. Dan saat itu, Aku menjadi tahu kesulitan yang di hadapi oleh seorang guru disekolah. Ternyata kesulitan seorang guru disekolah dalam mengajarkan materi pembelajaran bukanlah merasa kesulian tentang apa yang harus Ia ajarkan. Karena seorang Guru pastilah orang yang pintar dan sudah menguasai betul atas materi yang Ia mereka paparkan.
Tapi kesulitan seorang guru yang sebenarnya adalah, bagaiman Ia bisa membuat para muridnya ingin belajar, dan menyukai materi pembelajaran yang Ia sampaikan. Karena sepintar apapun guru menjelaskan sebuah materi pembelajaran pada seorang murid. Hal itu tidaklah lebih hanya masuk telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri tanpa bertamu ke dalam otak sang murid. Karena memang, murid tersebut tidak mau membukakan pintu agar materi pembelajaran tersebut bisa mampir ke dalam otak-nya.
Aku pun memutuskan untuk memberhentikan kegiatan Aku yang mengajari Dania pada hari itu. Bukan karena Aku tidak mau mengajari-nya. Justru otak Dania sendirilah yang memang tidak mau membukakan pintu untuk materi pembelajaran yang Aku sampaikan pada-nya, agar bisa masuk ke dalam otak-nya itu. “Sekarang, mending kita akhiri dulu belajar hari ini..” dengan Dania yang langsung mengatakan, “Tapi Aku kan belom mengerti Jarr..” Lanjut-ku, “Bukan persoalan kamu belum mengerti. Tapi, ini persoalan kamu ingin mengerti atau tidak.” Ujar-ku padanya dengan pensil yang ku tempelkan di kening-nya.
Aku pun merapihkan buku – buku yang berserakan di atas dan beberapa buku yang berserakan dibawah meja pula. Dan setelah Aku merapihkan buku – buku yang berantakan dan berdiri, pun kebetulan Dania bertanya. “Terus kalo belajar-nya udahan, Kamu mau langsung pulang?” Tanya Dania dengan wajah mengkerut seolah tidak mengizinkan Aku untuk pulang.
Sebenarnya memang benar apa yang dikatakan Dania dengan Aku yang ingin langsung pulang karena Aku sudah selesai mengajari-nya. Tapi, karena ada hal yang sebenarnya membuat-ku heran, dan ingin Aku tanyakan dari sebelumnya. Jadi, Aku memutuskan untuk tidak langsung pulang melainkan Aku mengajak Dania untuk melakukan suatu hal. “Yaa Aku mau pulang..” Ucap-ku yang langsung dibalas kembali dengan wajah murung Dania, “Yahh..”. Lanjut-ku, Tapi Aku mau numpang sholat dulu.. Boleh?” Jawab langsung Dania yang masih dengan wajah masam, “Yaaboleh..”
Aku pun langsung pergi ke kamar mandi yang berada di dekat dapur rumah Dania, untuk Aku berwudhu terlebih dahulu sebelum sholat. Dan setelah itu, Aku pun bertanya pada Dania, “Boleh Aku meminjam sajadah?” Tanya-ku yangdijawab oleh Dania, “Ohh boleh.. sebentar yaa Aku ambilkan dulu.” Pungkas-nya yang setelah itu langsung pergi yang sepertinya ke arah lantai atas.