Pada hari itu setelah Aku selesai mengajarkan Dania belajar, Aku yang mengajarkan pun karena memang Ia minta, kembali dengan berjalan kaki seperti biasanya. Aku dengan sengaja menolak tawaran dari Dania apakah Aku ingin pulang di antar-nya kembali ata tidak. Aku menolak karena Aku yakin, pasti saat dimobil hendak mengarah ke rumah-ku, perbincangan usai sholat pun akan berlanjut.
Aku hanya tidak ingin terlalu banyak mengetahui tentang permasalahan yang ada didalam keluarga Dania. Tidak inginnya Aku mengetahui lebih banyak perihal masalah apa saja yang ada didalam rumah Dania ialah, bukan karena Aku tidak peduli. Tapi Aku takut saja, jikalau ada yang Aku ikuti campuri yang secara tanpa sadar, nantinya justru melewati batas. Yang tentu saja itu akan berimbas pasa pertemanan-ku dengan Dania.
Hari saat Aku mengajarkan Dania perihal materi yang kurang Ia mengerti disekolah, ialah hari sabtu. Yang dimana, hari sabtu ialah sebagai hari penanda bahwa setelahnya tidak masuk sekolah selama 1 hari. Atau mungkin bahasa yang digunakan oleh hampir seluruh guru adalah, belajar dirumah.
Aku rasa sedikit keliru dan harus perbaiki kalimat tersebut. Karena menurut-ku, saat murid berlibur sekolah dan digunakan sebuah kalimat, belajar dirumah, itu adalah suatu kekeliruan besar. Justru saat seorang murid yang berangkat dari rumah-nya, Ia membuat kalimat yang sangat tepat. Kalimat yang seperti semua guru harus memahami-nya yaitu, “Bermain disekolah.”
* * *
Karena hari itu Aku pulang dengan berjalan kaki, jadi tujuan-ku tidaklah langsung pulang melainkan ketempat yang kalian semua sudah tahu, yaitu tempat Ayah-ku bekerja. Dan terlalu sering-nya Aku ketempat kerja Ayah, bahkan teman – teman Ayah pun mengetahui siapa diri-ku. “Pak Suryo, Ayah lagi kerja ya?” Tanya-ku pada salah satu teman Ayah yang Aku kenal, yang sepertinya sedang beristirahat. Ia pun menjawab pertanyaan-ku yang wajah ini langsung Ia kenali, “Eehhh kamu Jar..” Pak Suryo yang menonggakkan kepala-nya ke arah-ku yang berdiri di hadapan-nya, “Sudah istirahat..” lanjut Pak Suryo, “Darmooo..!!, anak-mu sudah datang..!!!” Teriak Pak Suryo yang memanggilkan Ayah untuk-ku.