Hadiah dari TUHAN

Rizky Ade Putra
Chapter #24

Terus berjalan bersama, namun saling diam.

Dan setelah Aku yang sudah terlalu banyak berbicara ngawur, Ayah pun langsung terbangun dari duduk-nya untuk mengajak-ku pulang. Mengajak-ku pulang karena memang selain pekerjaan Ayah sudah selesai, pun langit semakin berwarna hitam. Jadi, memang sudah memenuhi syarat dari kedua belah pihak untuk Aku dan Ayah kembali ke istana gubuk kami.

Disaat sebelumnya Ayah bercanda pada-ku, Ayah-pun tiba – tiba memasag wajah murung yang tidak biasanya Aku lihat. Tidak mungkin Aku hanya terus berjalan dengan mulut-ku yang bisa terbungkam disaat melihat satu – satunya orang yang sangat Aku cintai dan Aku kagumi pun memajang wajah sedih. “Ayah?” Tanya-ku pada Ayah yang berwajah murung saat Kami berjalan kaki menuju rumah.

Saat pertama kali Aku tanyakan atas hal apa yang membuat wajah-nya itu menjadi murung, Ayah pun tidak menjawab. Entah Ayah tidak menjawab karena memang tidak mendengar-ku, atau mungkin dengan sengaja Ayah tidak menggubris ucapan-ku. Ayah hanya berjalan terus, dengan kepala-nya yang sedikit tertunduk dan dengan mata yang hampir kosong.

Pertanyaan-ku tidak mungkin terhenti hanya dengan satu kali coba saja. “Ayaa?!” Sedikit Aku naikan nada suara-ku yang Ayahpun juga tidak menanggapi-nya. Dan saat ketiga kali-nya sampai Aku berdiri dan menghadang Ayah tepat di hadapan-nya, barulah Aku tahu bahwa ternyata Ia sedang melamun. Entah apa yang Ayah lamunkan pada saat itu dengan kondisi Ia sembari berjalan.

Lihat selengkapnya