Aku benar – benar memikirkan setiap kalimat yang Ayah lontarkan dalam telinga-ku dengan sangat baik. Jika memang benar Ayah sampai merasakan hal tersebut, maka celakalah Aku. Celakalah Aku karena secara tanpa sadar dan tidak bermaksud pula Aku telah membuat Ayah merasa kesepian. Aku yang harusnya menjadi teman Ayah sekaligus menjadi seorang anak, pun juga sebagai satu – satunya yang masih Ayah miliki di dunia ini. Justru, Aku malah mengabaikannya.
Aku telah mengabaikan Ayah yang telah memberikan-ku apapun yang Ia miliki, hanya karena sebuah sepatu mahal yang padahal tidak lebih mahal dari apa yang telah Ayah berikan pada-ku. Apa yang Ayah berikan pada-ku tidaklah akan bisa ternilai harganya dan tidak akan pernah bisa ditimbang dengan uang dunia yang fana ini.
Karena hal tersebut, Aku pun mencoba berfikir dengan melangkahi umur-ku yang masih berusia SMP kelas 1. Dengan mencoba Aku memahami situasi yang sedang terjadi pada saat itu, dengan cara Aku mencoba berfikir dari apa yang Ayah rasakan. Walaupun memang rasa yang hanya Aku bayangkan tidak sama betul seperti apa yang Ayah rasakan, tapi setidaknya Aku juga sedikit mengenal. Dengan begitu pula, Aku jadi tahu apa yang sebenarnya Ayah inginkan disaat seperti itu.
Ayah yang untuk pertama kalinya, dalam seumur hidup-ku, tidak mengajak-ku berbicara pada malam itu. Tapi, walaupun Ayah yang mungkin sedang marah pada-ku, Ayah tetap menyiapkan makan untuk-ku. Dan hanya satu kalimat yang Ayah ucapkan pada-ku saat mata dan fikiran-ku sedang sibuk pada-nya, “Jangan sampai lupa belajar!”. Yaa benar, hanya itu saja yang Ayah katakan pada-ku, dan tidak ada hal atau perkataan lain.