Pagi hari Aku terbangun dengan tubuh-ku yang secara tanpa sadar telah tertidur dalam kesedihan, pun juga dalam posisi duduk dan bersandar di dinding. Dengan balutan kait yang sangat tipis dan entah sudah berapa orang yang memakai-ya, Aku terlindung dari dingin-nya malam. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah perbuatan Ayah. Aku juga tidak tahu jamberapa mata-ku terpejam, dan sudah berapa banyak debit air mata-ku yang menghabiskan cadangan air dalam tubuh kecil-ku pada saat itu. Yang Aku tahu, saat Aku terbangun mata-ku hampir menyamai seekor heran dari negeri tirai bambu.
Aku mengira saat Aku terbangun pada pagi itu, Aku bisa melupakan kejadian semalam yang membuat suasana rumah yang sangat krisis. Tapi ternyata, dengan Ayah yang ternyata membaluti-ku dengan kain, justru hal tersebut semakin membuat-ku merasa bersalah. Ayah yang telah mulai sedikit demi sedikit Aku lupakan, justru Ia tetap masih mencitai-ku, dan menyayangi-ku sepenuh hati-nya.
Entah apa Aku bisa melakukan hal tersebut jika Aku berada di posisi Ayah, dan memiliki anakk yang berlaku sama seperti diri-ku pada saat itu. Mungkin Aku sudah memarahi anak-ku dan menghajar-nya habis – habisan sampai Aku puas. Tapi, apa yang dilakukan Ayah sangatlah tidak seperti manusia normal. Ayah yang sangat sabar menghadapi berbagai macam cobaan yang mengantam-nya secara bertubi – tubi tanpa Ayah yang sempat menghela nafas sedikitpun.
Adakah yang kuat di dunia ini jika mendapatkan cobaan hidup seperti Ayah?, Aku rasa tidak. Tidak masuk dalam hitungan juga jikalau itu adalah seorang Nabi ataupun para sahabat – sahabatNya. Karena Nabi adalah manusia pilihan Allah secara langsung, jadi tidak mungkin jikalau seorang Nabi tidak memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup di atas rata – rata.
* * *