Hadiah dari TUHAN

Rizky Ade Putra
Chapter #29

Menggunakan hati tidak selalu berdampak buruk atau menyakitkan.

Aku mengira, yang Aku rasakan pada saat itu adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidup-ku. Yabenar, Aku beranggapan dengan Dania yang mengatakan, “Aku juga sebenarnya tidak mau.. Tapi Aku sangat kasihan pada-nya. apalagi saat Aku melihat secara langsung dimana dan seperti apa tempat tinggalnya. Lagian juga Ia pintar, jadi lumayan untuk membantu-ku mengerjakan tugas.” . Itu adalah yang paling membuat-ku sedih. Tapi ternyata Aku salah.

Aku sangat salah dan kurang berfikir lebih luas jikalau mengira dengan Dania berkata tersebut adalah hal yang paling membuat-ku hancur. Ternyata, disaat Aku berfikir lebih jauh lagi dengan suasana kehancuran hati yang mengiringi-ku, ada hal yang paling membuat hati-ku lebih hancur jika bandingkan Aku yang mendengar secara langsung ucapan Dania sebelumnya.

Hal yang paling membuat hati-ku sangat hancur adalah, ternyata selama ini, secara tanpa sadar Aku telah meninggalkan orang yang telah benar – benar memberikan-ku dunia-nya dengan tulus, hanya karena orang yang memberikan semakin kuman kecil dari isi dunia ini. Aku telah meninggalkan Ayah yang secara jelas Aku mengetahui dengan secara sadar pula. Aku yang secara sadar tahu dan mengerti penderitaan yang Ayah rasakan, dan apa yang sudah Ia berikan pada-ku. “(Hikss.. Hiks.. Hiks)” Suara tangis-ku, juga dengan deruh air mata yang membasahi pipi dan baju-ku yang mencoba untuk mengeringkannya.

Saat Aku sedang dalam keadaan sedih, sesorang yang mungkin juga dalam hidup-nya merasakan apa yang aku rasakan. Walaupun entah Aku tidak tahu siapa yang paling menderita. “Kenapa Fajar? Kenapa kamu menangis.” Dengan Aku yang melihat ke arah bawah seseorang yang datang tersebut memegang sapu lidi besar. Dan saat kepala-ku yang sedang tertunduk sedih Aku angkatkan, ternyata itu adalah Pak Jono.

Ketika melihat Pak Jono yang secara tiba – tiba berada di hadapan-ku yang sedang menangis, pun Aku langsung dengan cepat membasuh air mata-ku. “Pak Jono?, Kok bapak tahu nama saya?” Tanya-ku pada-nya dengan wajah heran yang juga dengan rawut sisa kesedihan. “Itu, ada nama-mu di bagian kanan baju-mu.” Ujar Pak Jono dengan tersenyum, dengan Ia menunjuk nama di baju bagian kanan-ku. Karena Pak Jono tiba, Aku pun berusaha memasangkan wajah tersenyum agar Ia pun tidak mengetahui apa yang sedang Aku rasakan. “Duduk Pak, duduk..” Ucap-ku pada Pak Jono yang masih berdiri tepat di hadapan-ku.

Lihat selengkapnya