Obrolan yang sangat amat menenangkan itu pun harus dihentikan dengan sebuah suara yang memang sangat sering menghentikan kebahagiaan-ku saat berada di taman sekolah. Yabenar, Bel sekolah yang seolah membatasi kebahagiaan-ku. Kebahagiaan-ku yang memang pada dasarnya pun sangat sulit untuk Aku dapatkan. Sangat sulit pula Aku ingat karena terlalu banyak timpaan kejadian perih dalam hidup-ku. Yang jika di kalkulasikan antara perih dan kebahagiaan-ku, ialah memilih rasio 1 : 1000.
Baru saja Aku mendapatkan ketenangan disaat beberapa menit yang lalu. Beberapa menit yang lalu Pak Jono hadir, dengan setidaknya memiliki alasan untuk sedikit menghapus kesedihan-ku. Dan saat Aku sudah berada dalam kelas, lagi – lagi Aku teringat akan perbuatan Dania pada-ku. Yang juga, Aku teringat perbuatan-ku yang secara tidak Aku sadari telah mencampaki Ayah. Aku telah mencampakki Ayah yang padahal sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini.
* * *
Aku masih tidak habis fikir apa yang sebenernya Dania lakukan. Dengan Ia yang sedari awal, membuat-ku secara tanpa sadar telah mencampakkan Ayah. Lalu dengan Aku yang secara tiba – tiba mendiami-nya. Lalu, Ia pun bertindak seolah tidak ingin Aku hilang dari lingkaran pertemanan-nya dengan cara, Ia mencoba menanyaiku perihal alasan-ku mendiami-nya. Lalu disaat Aku tetap mendiami-nya dan Aku pun merasa bersalah akan hal tersebut, Aku yang mencarinya untuk meminta maaf, justru di hadapkan dengan Dania yang sedang merendahkan-ku bersama para biadab amatiran. Apa yang sebenernya sudah merasuki kepala Dania pada saat itu. Pada saat itu Aku merasa seperti ada yang salah dengan pemikiran-nya. Karena, Dania yang kukenal tidaklah seperti itu saat pertama kali Aku bertemu dengan-nya.
Dania yang ku kenal saat pertama kali bertemu di bangku taman, pun dengan Ia yang datang dengan sendiri-nya menghampiri-ku. Memiliki sifat yang sangat rendah hati, tidak seperti para biadab amatiran itu. Yang hanya bisa menghina orang miskin seperti-ku, padahal mereka kaya pun karena harta yang orang tua mereka miliki.