Suara langkah kaki-ku pun seolah ada yang mengikuti tanpa Aku tahu siapa yang mengikuti-nya. Saat Aku merasakan bahwa ada seseorang yang telah mengikuti-ku yang juga Aku tidak tahu siapakah itu, Aku berfikir kalau itu hanyalah sugesti-ku saja. Jadi Aku pun terus melangkahkan kaki-ku menuju tempat para pejuang rupiah mencari nafkah.
Perasaan yang Aku rasakan saat ada orang yang mengikuti-ku pun membuat-ku merasa sangat pernasaran dan ingin mengetahui siapakah sebenarnya yang mengikuti-ku. Dan perasaan yakin-ku itu, yang dimana kalau Aku merasa kalau ada orang yang mengikuti-ku semakin dibuat yakin dengan jarak-ku menuju tempat Ayah bekerja semakin dekat.
Tapi, terlalu banyak fikiran yang membebani otak-ku yang masih kecil ini, jadi Aku benar – benar masa bodoh saja dengan hal tersebut.
* * *
Aku pun sampai ditempat Ayah setelah cukup lama dan jauh pula Aku berjalan kaki dari sekolah-ku menuju tempat dimana Ayah bekerja. Dengan Ayah dan teman – temannya yang sepertinya sudah menyelesaikan pekerjaan mereka pada hari itu, Aku pun tiba. Ayah yang sedang terduduk di atas tumpukan batako sebagai material rumah yang sedang Ia kerjakan, “Doorr...!!” Aku yang mengageti Ayah dari arah belakang. “Astaghfirullah...” Tengok Ayah langsung ke arah belakang. Dengan Ia melihat yang ternyata orang yang membuat-nya kaget itu adalah diri-ku, “Fajar..”. Lanjut Ayah, “Sudah pulang kamu..”