Hadiah dari TUHAN

Rizky Ade Putra
Chapter #34

Urat malu-nya memang sudah putus!!

Sebenernya, ada hal yang lebih menyakitkan dan bukan hanya untuk-ku saja. Luka lama yang mungkin sudah terkubur dalam – dalam dari hati-ku dan Ayah-ku. Perihal kematian adik-ku yang sangat Aku cintai dan sangat Aku rindukan. Luka lama yang secara terpaksa harus terbuka kembali pada hati-ku dan hati Ayah, karena ikut beriringan dengan semua cerita-ku pada Dania di sore itu.

Pada saat itu, umur-ku berusia 9 tahun dan Aku pun masih bersekolah tingkat sekolah dasar, Dan Abi adik-ku yang berjarak kurang lebih 3 tahun dari-ku dan berumur 6 tahun. Abi Gusti Darmono. Nama dari Ayah-ku yang diletakkannya sendiri dinama Adik kecil-ku pada saat itu. Abi yang harusnya pada usia 6 tahun itu harus bersekolah seperti anak – anak lain seusianya, tapi hanya bisa berdiam diri dirumah.

Terlalu banyak kendala yang membuat adik-ku Abi tidak bersekolah yang padahal umur-nya sudah mencukupi. Selain adik-ku Abi yang tidak bersekolah karena faktor financial keluarga-ku, Abi pun tidak bisa bersekolah ditempat anak – anak normal atau mungkin sama seperti tempat-ku bersekolah.

Pada saat lahir, Adik-ku Abi masih seperti anak – anak normal lainnya dan tidak ada yang berbeda. Jika Aku mengajaknya bercanda Ia pun tertawa. Jika Ibu marah pada-nya dan mencubit-nya, karena nakal yang tidak Ia sengaja dan Ia sendiripun tidak mengerti, Ia pun menangis.

Tapi saat umur-nya menginjak sekitara 4 tahun, Abi mulai terlihat berbeda seperti anak – anak normal lain-nya. Hal itulah yang paling membuat Abi tidak bisa bersekolah sama seperti-ku. Untuk biaya sekolah untuk anak – anak normal seperti-ku saja Ayah harus banting tulang. Dan semua orang pun tahu berapa biaya sekolah untuk anak berkebutuhan khusus seperti adik-ku.

Namun, orang tua-ku tidak pernah menyesal, marah, atau merasa iri kepada orang tua lain-nya yang mendapatkan anak yang normal, dan tidak seperti adik-ku.Karena menurut Ayah-ku, anak perempuan atau laki – laki, berkulit hitam atau putih, normal atau tidaknya tetaplah anugerah dari Tuhan yang harus kita syukuri.Tapi tidak begitu juga apa yang difikirkan Ibu-ku terhadap Abi.

Lihat selengkapnya