Dan setelah Ibu-ku pergi meninggalkan rumah-ku. Meninggalkan Ayah, meninggalkan-ku, dan juga meninggalkan seseorang yang sebenarnya sangat membutuhkan diri-nya dibandingkan Aku dan Ayah, yaitu ialah Abi.
Ayah yang memang harus terus bekerja untung menghidupi-ku dan Abi, tentunya tidak bisa menjaga Abi dalam waktu 1x24 jam. Dan hal tersebut membuat-ku harus langsung pulang kerumah setiap habis pulang sekolah. Abi yang juga tidak mungkin Ayah bawa ke tempat kerjan-nya, membuat Ayah pun semakin was – was karena disaat Aku bersekolah, Ayah bekerja, dan Abi harus sendirian dirumah.
Untung saja, ada seorang tetangga-ku yang baik bernama Hong. Bapak Hong ialah salah satu juga yang merasakan penderitaan seperti keluarga-ku. Seorang laki – laki yang memang hidup hanya sebatang kara. Kerja sebagai pemulung sampah dan uang yang Ia dapatkan hanya untuk kebutuhan-nya sendiri. Bapak Hong adalah salah satu korban pada saat tragedi 1998, pada masa rezim Soeharto mulai runtuh.
Bapak Hong yang kehilangan 3 anak dan juga istri-nya pun membuat-nya harus hidup sendiri disisa umur-nya. Bapak Hong sudah lumayan cukup tua yaitu berumur 59 tahun. Kehilangan orang tersayang karena Ia adalah golongan Tiong Hoa, pun membuat-nya tidak putus asa menjalani hidup dan terus bertahan ditengah situasi kehidupan yang semakin sulit dan kejam.
Bisa dibilang, hanya Bapak Hong saja yang sangat peduli dengan keluarga-ku terutama Ia juga sayang kepada-ku dan juga Abi. Karena menurut Bapak Hong, dengan kehadiran Aku dan Abi, membuat-nya seolah memiliki anak yang dulu pernah Ia rasakan. Maka dari itu, Bapak Hong dengan sangat senang hati untuk menjaga Abi dengan sementara setiap hari saat Aku bersekolah, dan Ayah yang bekerja.
Dan karena Bapak Hong ingin menjaga Abi selama Ayah bekerja, Ayah pun dengan kemampuan yang lebih eksranya lagi bersedia memberikan makan juga pada Bapak Hong. Ayah-ku yang walaupun dengan pendapatannya sebagai kuli bangunan sangat pas untuk kebutuhan, bersedia karena memang Bapak Hong dengan senang hati ingin menjaga Abi. Dan Bapak Hong pun setuju untuk menjaga Abi dan tidak lagi pergi memulung botol – botol bekas.
Lagi pula, Ayah merasa kasihan dengan umur Bapak Hong yang sudah tidak bilang muda, tapi harus bekerja, dengan mengelilingi kota dibawah teriknya sinar matahari, hanya untuk mencari botol bekas untuk ditukarkan menjadi sesuap nasi. Selain rasa senang karena Bapak Hong ingin menjaga Abi dengan senang hati, Aku pun sekaligus merasakan kesedihan dari penampakkan tersebut.