Tidak terasa waktu yang telah terlewatkan dengan Aku yang hanya berfokus pada memperbaiki hidup-ku dan Ayah. Karena memang, tidak ada lagi yang ingin Aku bahagiakan selain Ayah-ku. Waktu yang sudah berlalu, sampai pada akhirnya Aku sudah berhasil meninjak pendidikan yang tinggi. Pendidikan yang juga setidaknya bisa membawa-ku pada kehidupan yang lebih layak. Dan Aku juga tidak pernah bisa membayangkan bahwa Aku bisa sampai bersekolah dan mendapatkan gelar S2 atau telah menjadi seorang Magister.
Pada saat Aku mendapatkan gelar S2-ku yang Aku telah menyelesaikan pendidikan, dan jika ditotalkan sudah selama 18 tahun. Selama 16 tahun pula Aku melakukan tersebut hanya berfokus pada Ayah yang memang harus ku bahagiakan. Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia untuk-ku, kembali tercampur oleh unsur kesedihan dengan kemarahan yang semkain menggebu pula.
Aku yang sudah berhasil mencapai pendidikan tinggi, seolah Aku dibuat menjadi anak yang pintar namun durhaka. Saat Aku dan Ayah telah keluar dari sebuah gedung selesai Aku dinobatkan mendapat gelar Magister, Ayah dibuat terkaget saat sudah berada di depan pintu lobby tempat para wisudawan. “Ka.. Kamu..?” Ucap Ayah pada seorang wanita yang awal-nya Aku sendiri tidak mengenal-nya. Wanita yang saat Ayah menyebut nama-nya, membuat wanita itu hanya tersenyum dengan sedikit raut wajah yang sendu. Aku yang heran melihat wajah Ayah membuat-ku harus bertanya. “Ayah? Wanita itu siapa?” Tanya-ku pada Ayah dengan pandangan-ku yang menoleh secara bergantian pada Ayah, pun juga dengan wanita itu.
Dengan Ayah yang mengela nafas panjang, memegang tangan-ku dan seolah Ayah ragu ingin mengajak-ku untuk menghampiri wanita tersebut atau tidak. Langkah kaki Ayah yang bermula ragu, pun menjadi berjalan lurus ke arah-nya, dengan tangan Ayah pula yang menarik tangan-ku dengan cepat.