Aku pun telah salah dibuat bingung oleh Dania. Penilaian apa yang harusnya Aku berika pada Dania?, orang baik atau orang jahat?. Sebenarnya siapa yang munafik? Aku atau Dania. Aku yang saat bertengkar dengan-nya dulu telah sepenuhnya di kuasai oleh Iblis dalam diri-ku. Iblis yang mengambil alih dan memanfaatkan kehidupan-ku yang buruk dan justru semakin buruk. “Okee Fajar, mulai sekarang, lebih dewasa, lebih berfikir panjang dan kamu tidak pernah mengetahui hal apa yang terjadi di depan.” Ucap-ku pada bayangan-ku dicermin.
Dan setelah Aku dibuat menangis karena Dania, Aku pun dibuat kembali pada perasaan jiwa-ku dalama beberapa jam sebelumnya. “(Nditt.. Ndiit..)” Suara hand phone-ku yang bergetar. Aku pun langsung mengambil dari dalam saku-ku yang ternyata Ayah menelefon-ku. “Iyaa Yah, ada apa?” Tanya-ku pada Ayah yang langsung menjawab lewar telefon seluler, “Kamu dimana? Ayah ingin bicara pada-mu, Ayah tunggu-mu dirumah, (Tuut...)” Pungkas Ayah lewat panggilan telefon dan setelahnya langsung menutup telefon tanpa Aku mengatakan hal lain terlebih dahulu.
Dan saat Aku kembali ke meja tempat Aku dan Dania makan, yang juga bermaksud mengajak Dania ikut kerumah-ku, ternyata makanan yang ku-pesan sebelumnya sudah tiba. Dan terlihat juga Dania yang sedang makan, jadi Aku terlebih dulu menghabiskan makanan-ku dan Dania yang menghabiskan makanan-nya. “Dania, habis ini ikut Aku kerumah yaa, sekalian bertemu Ayah.. “Ucap-ku pada Dania yang langsung menjawab dengan murung dan hampir tersedak oleh makanan-nya, “(Uhug, uhug.), Ketemu Ayah-mu?!” Jawab-ku, “Iyaa ketemu Ayah. Kenapa memang?” Ujar Dania, “Gapapa.. Iyasudah iyaa..” Pungkas Dania yang menerima ajakan-ku.