Ibu-ku keluar rumah tanpa bisa dilerai lagi langkah kaki-nya, yang berkemungkinan besar karena memang ucapan-ku sangatlah kasar pada-nya. Namun, jangan salahkan Aku yang bersikap seperti demikian pada-nya. Sudah kukatakan, Dia memanglah Ibu-ku, tapi bukan berarti Aku tidak bisa membencin-nya. Ibu yang rela meninggalkan Ayah, Aku dan juga almarhum adik-ku yaitu Abi, sampai akhirnya membuat Abi meninggal. Ingatan itu tidak akan pernah Aku lupakan sampai Aku mati sekalipun. Dan sekarang, disaat Aku yang selalu menjaga kerendahan hati-ku terhadap orang lain karena nasihat Ayah, harus terlepas dikarenakan Ibu-ku sendiri. Ibu yang akhirnya mendatangi-ku disaat Aku sudah cukup sukses dan merubah kehidupan-ku dan Ayah menjadi lebih layak.
Aku yang duduk dengan perasaan bimbang dan diikuti rasa bingung. Rasa bingung yang seolah saling tarik menarik antara rasa bersalah dan tidak, atas apa yang telah Aku lakukan pada Ibu. Dan Aku yakin, Ibu pun juga merasakan hal yang sama seperti apa yang Aku rasakan. Tapi yang lebih dominan dari perasaan Ibu ialah, rasa menyesal.
* * *