Hari itu yang membuat-ku sangat benar – benar bimbang, membuat fikiran-ku secara singkat tersadar. Aku yang sangat membenci Ibu pun dibuat menangis dan terpaksa harus mengatakan, bahwa Aku sungguh mencitai-nya. Aku tidak hanya membohongi Ayah, Dania, dan Ibu saja. Bahkan Aku telah membohongi diri-ku sendiri atas perasaan-ku pada Ibu.
Entah apa yang direncakan oleh tuhan pada saat itu, seolah keadaan benar – benar cepat berbalik. Benci menjadi Cinta, dan rasa marah menjadi memaafkan yang paling sangat amat dalam. Dania yang diruang tamu-ku pada saat Aku sedang berfikir apa yang harus kulakukan, Ia pun menyalakan televisi. Ia yang menyalakan televisi langsung mendapatkan tontotan acara berita bahwa dikabarkan terjadi kecelakaan. “Yaa Allah, lihat deh Jar.. ada kecelekaan.. ini disiarkan langsung loh!” Ucap Dania pada-ku yang pada saat itu sedang tertunduk.
Dengan Ayah yang ternyata baru saja keluar dari kamar-nya, pun menghampiri Dania dan bertanya, “Nonton apa kamu Dania?” Tanya Ayah pada Dania yang langsung menjawab-nya, “Ini Yah.. siaran langsung. Ada kecelekaan.. Liat deh Yah mobilnya sampai hancur gituu.. Serem banget.. Semoga saja orangnya gapapa..” Ucap Dania yang entah kenapa membuat Ayah merasa pernasaran.
Ayah pun langsung dengan mata tajam-nya memperhatikan acara televisi tersebut. Dan entah apa yang Ayah lihat, “(Prakk..!!)” Suara remot yang Ayah pegang pun terbanting dan Ayah langsung menyebut, La.. laa.. Lastriii..!!” Teriak Ayah menyebut nama Ibu-ku. Ayah yang langsung memegang sebelah tangan-ku dengan cengkraman yang sangat kencang, “Fajar.. Ibu-mu Fajar.. Itu mobil Ibu-mu.. Ayah pasti tidak salah!!, Yabenar!!, Itu mobil Ibu-mu!!” Teriak Ayah secara histeris dengan menunjukkan telunjuk-nya ke arah televisi.