Aku yang sebelumnya telah ketempat terjadinya kecelakaan mobil Ibu, dan mendapatkan informasi kemana Ibu dibawa, pun Kami langsung menuju tempat tersebut. Dengan cepat Aku meminta Dania untuk segera menuju rumah sakit tersebut, yaitu rumah sakit ketempat dimana Ibu dibawa oleh warga yang melihat. Perjalan kali itu ternyata perjalanan yang lebih menyedihkan jika dibandingkan perjalan hidup-ku. Perjalanan hidup-ku yang berjuang bersama Ayah. Dan pada saat itu, tetes air mata-ku menjadi petunjuk arah yang kulalui, dan seberapa cepat mobil yang kuminta Dania untuk mengendarai-nya pada saat itu melaju.
Aku yang telah sampai disebuah rumah sakit di Jakarta, namun hanya bisa terduduk di kursi tunggu. Dengan Ayah dan Dania yang langsung menuju meja administrasi untuk mengetahui diruangan mana Ibu mendapatkan pertolongan. Ayah yang didampingi Dania untuk menyakan keberadaan ruangan Ibu dengan gelagat-nya yang sedang sangat panik dan cemas, sangatlah jelas terdengar di telinga-ku, “Mbaa.. Pasien yang baru saja terjadi kecelakaan mobil, bernama Lastri Permata Sari. Coba tolong dicek segera Mba..!!”
Aku yang mendengar informasi itu dibuat semakin cemas dan hanya bisa berkata, “Tolong ya Tuhan.. Semoga belum terlambat!! (Hikss.. hiks.. hiks..)” dengan kedua telapak tangan yang ku-katupkan dan isakan tangisan yang belum bisa kuhentikan karena mendengar, “Pasien dengan nama Nyonya Lastri Permata Sari langsung dibawa ke ruangan Instalasi Gawat Darurat (IGD) Pak.” Ucap petugas adiministrasi dirumah sakit tersebut.
Dengan segera Aku, Ayah dan Dania pun langsung menuju ruangan tersebut dan menunggu dokter yang sedang menangani Ibu. Dengan Kami yang hanya bisa menunggu Ayah dibangku yang tersedia di depan ruangan tersebut, dan hanya bisa berdoa agar, semoga saja semuanya belum terlambat.