Ke-esokan hari-nya pun tiba dengan Aku yang dibangunkan oleh Dania karena ternyata Ibu sudar siuman, dan Dokter telah mengizinkan Kami untuk melihat-nya. “Heii.. ngapain kesitu?” Tanya Dania pada-ku yang ingin menerobos masuk ruang IGD.” Ujar-ku langsung, “Kok Kamu tanya.. Ya Aku Mau ketemu Ibu Dan..!!” Sedikit keras nada suara-ku. Jelas Dania, “Ibu sudah dipindahkan ke ruang rawat Inap, dan bukan di IGD lagii.. Yuu Aku tunjukkan kamar-nya.” Ucap Dania yang langsung menarik tangan-ku. Aku yang dengan segera langsung ingin masuk ke ruangan IGD pun sampai dibuat salah paham. Karena ternyata Ibu sudah tidak berada di ruang IGD dan telah dipindahkan keruangan Rawat Inap.
Dan saat telah sampai di salah satu ruangan rumah sakit, yaitu tepatnya ruangan Ibu dipindahkan karena sudah siuman, langkah kaki-ku pun dibuat melamban jika saat sebelumnya Aku berlari. Langkah kaki-ku yang gagah dan berwibawa, tidak seperti dulu, pun pelan – pelan Aku membuka pintu ruangan yang didalam-nya ada Ibu sedang terbaring. “(Cklaak..)” Suara pintu yang terbuka.
“(Tap.. tap.. tap..)” Suara langkah kaki yang terbuat dari sepatu-ku yang perlahan, Ibu pun langsung menangis saat melihat-ku yang perlahan mendekati-nya. Dengan Ibu yang menangis kecil, “(Hiks.. hikss.) Fajar...)” langsung Aku dengan cepat memeluk Ibu yang sedang terbaring, dan memeluknya dengan erat. “(Hiks.. hiks.. hiks) suara tangis-ku, “Maafin Fajar Bu.. Maafin Fajar.” Lanjut ucapan-ku yang sembari menangis dan dalam pelukkan Ibu, “Karena Fajar Ibu jadi sampai begini.. Maafin Fajar Bu!!” Ucap-ku yang hanya bisa Ibu jawab, “Engga Nak.. Kamu enggasalah.. Ibu mengerti perasaan kecewa, benci dan sakit hati-mu atas apa yang Ibu lakukan dulu.” Lanjut Ibu yang juga menangis dan mengangkat kepala-ku untuk agar melihat dan menatap mata-nya, “Ibu juga minta maaf ya sayang.. Ibu menyesal karena telah meninggalkan kalian dulu..” Dengan tangan Ibu yang juga memegang tangan Ayah, “Maaf Aku ya mas..” Ucap Ibu pada Ayah yang lagi – lagi tidak bisa berkata – kata selain, menjawab dengan anggukan kepala-nya yang mengisyartkan sebuah kata yang mungkin berbunyi, “Termaafkan.”
* * *
Setelah Aku meminta maaf pada Ibu, Ibu yang meminta maaf pula kepada-ku dan Ayah atas kesalahan yang Ia perbuat, membuat-ku merasakan belasan tahun kebersaaman yang pernah hilang. Ditambah lagi, saat itu ada Dania yang membuat suasana semakin lengkap dengan umur-ku yang memang sudah membutuhkan pendamping hidup, dan untuk membantu-ku merawat Ayah.