Hari itu benar – benar sangat berarti bagi-ku dan tidak pernah Aku lupakan seumur hidup-ku. Dengan Ibu yang kembali dan mengakui kesalahan-nya, dan juga berjanji untuk memperbaiki semampunya dan tidak akan mengulangi kembali. Sekaligus, Abi yang ternyata belum tiada dan telah kembali ke pangkuan-ku yang memang jika pada saat itu tubuhnya tidaklah semungil dulu saat Aku menyangka Abi telah tiada.
Saat itu Aku benar – benar berfikir dan merasa menyesal. Bukan menyesal pada Aku yang memarahi Ibu sebelumnya. Aku yang sampai membuat Ayah berfikir bahwa Aku adalah anak yang kurangajar, atau dengan Aku yang dulu dengan seenaknya memaki – maki Dania.
Tapi Aku menyesal pada prasangka dan ucapan keputus asaan-ku pada Allah, yaitu Tuhan alam semesta. Allah yang memberiakn-ku hadiah yang sangat amat mewah. Hadiah yang tidak pernah Aku sangka sebelumnya bahwa seperti inilah hadiah dari Tuhan. Sungguh indah skenario-mu ya Tuhan. Tapi apa yang bisa Aku lakukan pada-Nya selain hanya mengeluh disaat ia memberikan cobaan.
Apa yang terlintah dari benak setiap manusia saat mendengar kata Hadiah dari Tuhan. Harta, Jabatan?, atau apapun. Bahkan Dunia pun bukan Hadiah dari Tuhan. Dan jika dijelaskan lebih detil dari sisi kehidupan-ku, Apakah Hadiah yang Aku maksudkan adalah Aku yang bisa sukses? Dengan Aku yang mendapatkan gelar pendidikan tinggi. Apakah Hadiah dari Tuhan ialah Rumah-ku yang saat ini besar?. Apakah Hadiah dari Tuhan adalah seorang pendamping hidup yang Cantik, baik, dan mencintai-mu apa adanya? Atau Hadiah dari Tuhan ialah sebuah hal atau sesosok orang yang pernah pergi atau kamu sudah menanggap-nya hilang dari hidup-mu tapi Tuhan memberikan-nya kembali?
Tidak salah jika banyak manusia menanggap bahwa Hadiah dari Tuhan adalah berupa, Jabatan tinggi, Harta menjulang sampai melewai gundukan Gunung. Atau diberikan kembali yang pernah kehilangan.