Hadiah untuk Lentera

Kata Aksara
Chapter #2

BAB 1 - Tidak Semua Ketenangan Itu Pulang

“Abang Ben! Lihat ini!"

Suara anak kecil di sudut paling ujung menggema. Di samping anak itu, ada sosok perempuan dengan perut membuncit sedang merapikan kanvasnya. Suara nyaringnya penuh semangat, seperti tidak ada rasa ragu sedikit pun di dalamnya.

Benua sontak menoleh. Di sana, seorang anak kecil berdiri sambil mengangkat kertas gambarnya tinggi-tinggi, seolah takut jika tidak segera dilihat, warna-warna di atasnya akan menghilang begitu saja. Di sampingnya, seorang perempuan dengan perut membuncit tampak tengah merapikan kanvas, sesekali melirik ke arah anak itu diiringi gelengan kecil.

“Abang Benua masih sibuk sama anak lain. Emang kamu udah selesai gambarnya?” Kirana beralih. Ia menatap anak sulungnya dengan wajah sumringah.

“Udah. Aku gambar Ibu, Ayah, Alam, dan Dedek bayi.”

Hadiah Alam. Kirana dan Damar memberikan nama itu bukan sekadar nama. Putra sulung yang belum genap empat tahun itu adalah jawaban atas penantiannya yang tak sebentar. Kini, di dalam perut Kirana pun adik Alam akan segera hadir di tengah-tengah mereka.

Kirana menatap gambar sang putra. Disusul langkah Benua yang menenteng gambar anak lain.

“Bagus sekali, Alam. Kamu gambar apa ini?” Lelaki dua puluh dua tahun itu berjongkok di sebelah kursi kecil, tempat Alam duduk.

“Ini Ibu, Ayah, Alam, sama Dedek Bayi. Alam juga harus nambahin gambar Abang sama Kakak Mita di mana? Abang ada ide?”

Jemari mungil Alam sudah penuh dengan cat air. Namun, anak itu seakan abai dan memilih untuk mencari warna lain. Tak elak, wajah yang semula penuh bedak, sudah berganti cemong-cemong dengan warna sana-sini.

“Coba di sini. Sebelah Alam,” kata Benua sembari menunjuk space kosong yang belum Alam gambar. Lalu, ia membiarkan Alam menuangkan gambar itu. Ia beralih ke sebelah. Menatap Kirana yang masih belum usai mewarnai kanvasnya. “Kira-kira kapan ini adiknya Alam launching, Kak?”

Tawa Kirana meledak seketika. “Kamu kira anak Kakak produk skincare, pake dilaunching segala."

Benua menggaruk tengkuknya tak gatal. Ia tersenyum kikuk setelah merasa mulutnya tak terkontrol. Ia jadi menyesal tidak menutup kelas sore ini saja, timbang melayani membernya seorang diri tanpa Dimas—sang pemilik Galeri Lukis Swara Hati.

“Maksudnya, Kakak kapan lahiran?”

“Masih ada dua puluh harian lagi, tapi gak tahu, ya, kalau adeknya kebelet keluar. Harusnya pas Idul Fitri, makanya Kakak nggak mudik. Bosen banget, sebenarnya. Baru sadar juga kalau ada tempat ini, padahal kalian buka udah hampir setengah tahun. Apa, ya? Dimas bahkan sering banget ngasih pancake ke rumah-rumah, katanya sisaan doorprize buat anak-anak yang gambarannya bagus.” Kirana mengangkat kanvasnya ke atas, sebelum meniup sudut bingkainya setelah ia beri tanda tangan. “Ngomong-ngomong, tumben kamu sendiri. Dimas ke mana?”

“Bang Dimas lagi di kampus, bimbingan. Abis dia molor setahun. Bapak ibuknya udah kebelet punya cucu, Kak.” Benua membantu Kirana merapikan kuas beserta catnya. Ia beralih menatap Alam yang masih sibuk dengan gambar di depannya. “Lancar-lancar ya, Kak. Gak sabar lihat adeknya Alam laun—maksudnya lahir.”

“Lucu banget mulutmu, Ben.”

“Ibu, Ibu! Gambarku jadi!” Alam mengangkat setinggi mungkin kanvasnya. Lalu memamerkan pada dua orang dewasa di depannya.

Benua menepuk puncak kepala Alam gemas. Ia berjongkok lalu memberikan kotak krayon kecil dari dalam apronnya.

“Karena Alam udah berani gambar lebih banyak lagi, Abang kasih hadiah krayon. Lusa, gambar lagi ke sini, ya!” katanya. Benua menyamakan tinggi badannya dengan Alam. Lalu, mengusap surai legam balita itu yang tengah mengangkat hadiahnya tinggi-tinggi.

“Kok repot-repot?”

Benua menggeleng. Ia mengalihkan pandangannya, menyapu bersih sekitar enam anak kecil lainnya yang berusia mulai dari tujuh hingga dua belas tahun yang ada di sana. “Semua anak juga dapat hadiah kok, Kak. Kakak juga dapat, tapi nanti. Di meja soalnya.”

“Ya Allah. Baru juga join member, udah dapat hadiah? Ini, nyampe rumah langsung promosi deh biar makin rame ini galeri,” jawab Kirana sembari menyenggol bahu Alam yang masih sumringah dengan hadiahnya. “Ucap apa, Nak?”

“Makasih, Abang!”

Hati Benua seperti diserbu ribuan kupu-kupu. Ia mengusap surai legam milik Alam lembut. Senyumnya mengembang semakin lebar.

"Betah-betah di sini. Semoga jadi member tetap yang lama periodenya," ucap Benua sembari mengantar Kirana dan Alam keluar. Kedua orang itu menjadi orang paling terakhir yang pulang. Anak-anak lain sudah dijemput sejak setengah jam lalu. Namun, Kirana masih betah di sana sembari menunggu Magrib tiba.

"Kamu sama Dimas mampir ke rumah Kakak, lho. Mas Damar pasti suka banget kedatangan kalian. Alam tiap hari cerita tentang kalian, dan berharap kita bertiga ada waktu buat ngelukis bareng di sini."

"Pasti, Kak. Kalau senggang aku mampir sama Bang Dimas," jawab Benua meyakinkan.

Benua segera merapikan kembali kekacauan di galeri setelah dirasa tidak ada orang. Ia menatap bangunan yang dibangun bersama dengan temannya itu penuh rasa bangga.

"Bisa gak, ya?" ucapnya lirih sembari memunguti kuas-kuas yang berceceran di lantai. "Harus bisa sih. Masa superman mau kalah, hahaha."

Bunyi lonceng tanda orang datang menyapa telinga Benua kembali. Ia menatap Dimas yang baru saja tiba membawa ransel di punggungnya.

"Bosok. Gue udah nungguin berjam-jam berharap setelah kelas terakhirnya selesai, ternyata orangnya gak ada. Ini mah gak bakalan selesai-selesai yang ada."

Lihat selengkapnya