Hakim Malam

Mahesa
Chapter #1

PROLOG

Pagi itu, pasar penuh sesak. Bau tanah basah bercampur dengan suara tawar-menawar yang saling bersahutan.


Seorang wanita berjalan cepat, hampir berlari, menggandeng tangan anaknya erat. Terlalu erat.

Langkahnya tergesa. Napasnya tak beraturan.

Seolah ada sesuatu yang mengejar mereka.


“Bu… kita kenapa?”


Anak itu menoleh ke belakang, mencoba mencari apa yang membuat ibunya begitu panik. Namun yang ia lihat hanya kerumunan orang yang berlalu-lalang tanpa arah, tanpa peduli.


Wanita itu tidak menjawab.


Ia terus menarik anaknya, menyusuri lorong-lorong sempit pasar, berbelok tanpa ragu, seakan sudah hafal jalan pelarian ini.


Bukan pertama kalinya.


Akhirnya, mereka berhenti di sebuah gang sempit nan gelap, lembap, dan sepi dari keramaian pasar.


Wanita itu berjongkok, menggenggam kedua bahu anaknya.


“Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana.”


Anak itu mengangguk pelan.


Dengan hati-hati, wanita itu melangkah keluar dari persembunyian. Ia menyusuri gang, matanya waspada, menatap ke setiap sudut, memastikan keadaan aman.


Beberapa detik terasa seperti menit.


Sunyi.


Perlahan, ia menoleh ke arah anaknya.


“Nak, ayo… kita bisa pul—”


Raungan mesin memecah udara.


Sebuah mobil pick up melesat dari ujung gang.


Terlalu cepat.


Mobil itu tidak melambat.

Tidak berusaha menghindar.


Seolah sudah mengincar sejak awal.


Terlalu dekat.


BRUK!


Tubuh wanita itu terpental. Hilang dari pandangan sang anak.


Dunia seakan berhenti.


Anak itu membeku. Napasnya tertahan. Kakinya tak mampu bergerak.


Matanya hanya menatap kosong ke arah tempat ibunya berdiri beberapa detik yang lalu.


Lalu… ia melihatnya.


Di balik kaca mobil, sebuah senyuman tipis.

Penuh kepuasan.


Seolah semua ini memang bagian dari rencana.


Mobil itu melaju pergi, meninggalkan keheningan yang mencekik.


Beberapa jam kemudian, kerumunan mulai mengelilingi tubuh yang tergeletak di jalan.

Langit menguning.

Suara sirine polisi dan ambulans bersahutan. Garis kuning terbentang, membatasi rasa penasaran orang-orang.


Tubuh wanita itu kini tertutup kain putih.


Tak lama, seorang pria menerobos kerumunan.


“Permisi! Itu istri saya!” Suaranya pecah.


Ia jatuh berlutut di samping tubuh yang telah kaku, tangisnya tak terbendung.

Lihat selengkapnya