Tok... tok... tok... tok.
"Alia, cepat bangun! Sudah hampir jam tujuh, nanti kamu telat."
Kreeeek...
Pintu kamar terbuka pelan, suara decitan panjang terdengar.
"Alia Puspasari, bangun! Hari ini masuk sekolah, libur panjang nya sudah selesai."
Ibu menarik selimut Alia perlahan.
"Lima menit lagi, Bu..."
Alia mencoba menahan selimutnya.
"Cepat! Nara sudah menunggu di depan!"
Ibunya mengguncang tubuh Alia sedikit lebih keras.
Alia akhirnya bangkit dengan tergesa.
"Oh iya... hari ini aku ada janji sama Nara."
"Ya sudah, cepat siap-siap. Sarapan sudah ibu siapkan di bawah."
Ibu melangkah keluar kamar.
Alia menghela napas.
Tubuhnya terasa sedikit berat pagi ini.
Beberapa menit kemudian, ia sudah rapi mengenakan seragam sekolah dan bergegas menuju pintu.
"Al, sarapan dulu."
suara ibu terdengar dari dapur.
"Nggak usah, Bu. Kasian Nara sudah nungguin di depan."
jawab Alia sambil mengenakan sepatu.
"Salah siapa kalau susah dibangunin."
ibu tersenyum sambil menghampiri Alia.
Ia memasukkan bekal makan siang ke tas Alia.
"Tunggu sebentar, ini sudah ibu siapkan."
"Terima kasih, Bu..."
Alia memeluk ibunya sebentar, mencium pipi wanita itu dengan lembut.
"Aku berangkat ya, Bu."
Alia berpaling sambil melambaikan tangan nya.
"Hati-hati di jalan."
Ibu nya tersenyum lembut, lalu membalas lambaian nya.
Alia membalas senyum, kemudian bergegas keluar.
Ibu masih berdiri di ambang pintu, menatap putrinya pergi.
"Anak itu... selalu saja membuatku tersenyum," gumamnya pelan.
"Maaf ya, Nara. Kamu jadi nunggu lama."
Alia sambil menutup gerbang rumahnya.
"Nggak apa-apa kok, Al. Lagian hari ini kayaknya di sekolah juga nggak bakal belajar."
"Iya sih. Kita baru naik kelas dua SMA, belum ada pembagian wali kelas juga."
pikir Alia.
"Nah, kan. Santai aja,"
Nara tersenyum.
"Ya sudah, ayo ke halte. Nanti busnya kelewat lagi."
Alia dan Nara berjalan beriringan.
Pagi itu cerah, matahari belum terlalu terik, angin sejuk menyentuh kulit mereka.
Tawa kecil mereka mengisi jalan yang masih sepi.
Dari kejauhan, halte sudah terlihat.
Beberapa siswa berdiri menunggu, termasuk sosok yang tidak asing bagi mereka.
Seorang gadis duduk sambil membaca buku, matanya fokus, tak terganggu oleh sekitarnya.
Nara mendekat perlahan.
"DOOOR!!"
Gadis itu terkejut, bukunya terjatuh, lalu ia menoleh cepat.
"Nara... kebiasaan kamu selalu jail."
ucap gadis itu.
"Maaf, Hana. Tapi kamu juga, kalau baca selalu terlalu fokus." jawab Nara santai.
Alia tertawa kecil melihat tingkah mereka.
"Al, kamu lama banget. Aku nunggu dari tadi."
kata Hana sambil menghela napas.
"Biasa lah, drama pagi Alia." Nara sambil tersenyum nakal.
Alia mengangkat kedua tangan dan merapatkan nya.
Seolah minta maaf
"Iya, maaf Han... semalam aku nonton drama sampai lupa waktu, jadi telat tidur."
Tak lama, terdengar suara mesin bus berderu mendekat.
"Nah, itu dia. Ayo!"
Kata Nara sambil memegang lengan keduanya.
Mereka bertiga bergegas menaiki bus menuju sekolah.
Bus melaju perlahan meninggalkan halte.
Obrolan ringan terdengar mengisi perjalanan mereka.
Tak terasa, bus sudah berhenti di pemberhentian dekat sekolah.
"Ayo, turun."
ujar Nara.
Mereka bertiga turun dari bus.
Dari kejauhan, terlihat Pak Tony, guru olahraga, sudah berdiri di gerbang sekolah.
Nara mendongak ke arah jam besar di atas gerbang.
Jarumnya hampir menunjuk angka sepuluh, tanda gerbang akan segera ditutup.
"Alia, Hana, ayo cepat! Lima menit lagi gerbangnya ditutup sama Pak Tony!"
"Aku nggak mau hari pertama masuk malah disuruh nyabutin rumput di lapangan!"
Tanpa menunggu, Nara langsung menarik mereka berdua dan berlari.
"Nar, pelan!"
Alia hampir terseret.
Pak Tony yang melihat dari jauh menggeleng pelan.
"Pagi, Pak Tony!"
seru Nara sambil berlari melewatinya.
"Hati-hati, Nara! Kasihan itu Alia sama Hana."
balas Pak Tony sambil tersenyum.
Nafas Alia dan Hana mulai terengah-engah, jelas kewalahan mengikuti langkah Nara.
"Sudah, cepat masuk ke kelas. Atau kamu mau di luar saja, Nar? Rumput di lapangan sudah banyak tuh."
goda Pak Tony.
"Nggak mau, Pak. Panas tau nyabutin rumput di tengah lapangan."
gumam Nara pelan.
Nara berlari masuk ke kelas barunya.
Tanpa ragu, ia langsung menempati bangku paling depan, tepat di dekat meja guru.
"Meja baruku!"
teriaknya penuh semangat.
Alia melihat tingkahnya hanya bisa tertawa kecil.
"Lihat, Han. Umurnya memang 16 tahun, tapi kelakuannya masih kayak anak kecil."
Hana tersenyum tipis.
"Aku juga heran, Al. Semangatnya nggak pernah habis. Capek sih ngikutinnya..."
Ia melirik Nara yang masih sibuk sendiri.
"Tapi tanpa dia... rasanya sepi."
"Iya. Kayak nggak ada nyawanya."
tambah Alia pelan.
Hana duduk di sebelah kiri Nara.
"Aku di sini ya, Nar. Tapi jangan berisik kalau lagi pelajaran."
"Siap, Bu Hana!"
jawab Nara tangan nya dikepala memberi hormat.
Alia duduk di sebelah kanan, memilih bangku dekat jendela.
"Al, kenapa sih kamu selalu pilih tempat dekat jendela?"
tanya Nara.
"Pengen aja."
"Silau tau."
Nara menatap Alia yang terlihat tenang memandang ke luar.
Alia menoleh pelan.
"Bagus dong. Kena sinar matahari."
Sejenak, cahaya pagi menyinari wajah Alia, senyumnya terlihat sedikit hangat... namun entah kenapa terasa berbeda.
Tak lama, pintu kelas terbuka.
Seorang guru masuk dengan langkah tenang.
Rambutnya panjang terkuncir, kacamata tipis bertengger di wajahnya, dan sebuah buku absen dipeluk erat.
"Perkenalkan, nama saya Bu Anna Aurelia."
"Saya akan menjadi wali kelas kalian tahun ini. Kalau ada yang ingin ditanyakan, jangan sungkan."
"Asik! Wali kelas kita Bu Anna!" seru Nara sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
"Seperti biasa, Nara pasti selalu ceria."
Bu Anna memandangnya dengan senyum tipis.
"Tapi jangan makan di jam pelajaran ya, Nara."
Bu Anna menggeleng pelan.
"Satu roti aja boleh kan, Bu?"
Nara mencoba merayu.
"Tetap nggak boleh. Ibu tahu, kamu pasti sudah bawa banyak roti di tasmu."
Ucapnya tegas.
"Hehehe... iya sih, Bu."
Nara membuka tasnya, lalu mengeluarkan beberapa roti.
Ia meletakkan satu di meja Bu Anna.
"Ini buat Ibu. Rasa cokelat stroberi. Menu baru di toko."
Bu Anna menatap roti itu sejenak, lalu tersenyum kecil.
"Terima kasih, Nara. Tapi kamu tetap nggak boleh makan saat pelajaran."
"Baik, kalau begitu Ibu mulai absen dari pojok ya."
Bu Anna membuka buku absennya.
"Alia Puspasari."
"Hadir, Bu."
Alia mengangkat tangannya sedikit.
"Nara Melarosa."
"Saya, Bu!"
Nara mengangkat kedua tangannya sambil melambai kecil.
"Hana Adelia."
"Hadir, Bu."
Hana mengangkat satu tangannya.
Setelah semua siswa terabsen, Bu Anna mulai membagikan jadwal pelajaran.
Seluruh siswa mulai mencatat jadwal pelajaran yang baru saja dibagikan Bu Anna.
"Karena ini hari pertama masuk kelas, jadi jam pelajaran hari ini kosong,"
ucap Bu Anna sambil menulis di papan.
Seketika, beberapa siswa bersorak kegirangan.