Bip... Bip... Bip...
Suara mesin berdetak pelan di sampingnya.
Alia perlahan tersadar.
Matanya masih terpejam, tapi aroma ruangan itu terasa asing sekaligus familiar.
Udara terasa sedikit dingin.
Ia mencoba membuka mata. Cahaya putih langsung menyilaukan, membuatnya menyipit.
Hampir saja ia menutup matanya lagi.
Tangannya bergerak pelan, mengusap mata.
Pandangan mulai jelas.
Siluet seseorang terlihat di sampingnya.
Ayahnya.
Pria itu tertidur dengan posisi duduk, kepala sedikit menunduk. Wajahnya terlihat lelah, sangat lelah.
“Ayah…”
suara Alia serak.
Tangannya bergerak, menggenggam tangan ayahnya dengan lembut.
Ayahnya langsung terbangun. Matanya membesar saat melihat Alia sudah sadar.
“Syukurlah, kamu sudah bangun, Al,”
katanya lega, tapi berat.
Seolah menahan sesuatu.
Alia menatap sekeliling. Langit-langit putih, bau obat, dan suara mesin membuatnya merasa agak tidak nyata.
Namun Alia mengenal nya dan mencoba memastikan.
“Kenapa… aku di rumah sakit, Yah?”
suaranya serak terdengar pelan. Ia masih bingung dan tidak mengingat apa yang sebelumnya terjadi.
Ayahnya terdiam sejenak. Tangannya yang digenggam Alia mengencang sedikit. Pandangannya turun dan menghindar.
“Sebaiknya kamu istirahat dulu, Al. Nara dan Hana ada di luar. Mereka dari tadi menunggu kamu sadar.”
Ia mengalihkan pembicaraan, pertanyaan Alia diacuhkan seolah tidak ingin menjawab nya sekarang.
“Ibu…?”
Suara itu keluar begitu saja, pelan dan hati-hati.
Alia seolah takut mendengar jawaban sendiri.
“Ibu di mana, Yah?”
Ayahnya tidak langsung menjawab.
Beberapa detik terdiam. Akhirnya ia berdiri perlahan.
"Sebentar Al. Biar ayah bukakan pintu untuk Nara dan Hana."
Ia perlahan menuju pintu dan membuka nya perlahan.
Di balik pintu, Nara terlihat mengintip.
Begitu pintu terbuka, ia langsung berdiri tegak, sedikit kaget begitu juga Hana.
“Ayo masuk, Alia sudah bangun,” ucap ayah pelan.
Nara melangkah masuk lebih dulu.
Biasanya ia bicara banyak, tapi sekarang lebih banyak diam. Hana mengikuti di belakangnya dengan langkah yang lebih pelan.
“Al…”
Suara Nara jauh lebih kecil dari biasanya.
Ia mendekat ke samping tempat tidur, menatap Alia beberapa detik seolah memastikan.
“Gimana keadaanmu sekarang?”
Alia mencoba tersenyum tipis. “Aku… nggak apa-apa, Nar. Cuma sedikit pusing.”
Tangannya refleks memegang kepalanya.
Nara mengangguk pelan.
Ia tampak ingin mengatakan sesuatu tapi urung.
Sebagai gantinya, ia meletakkan kantong di meja samping.
“Ini… aku bawain roti dari toko,” katanya pelan, tidak seceria biasanya.
Hana maju sedikit.
“Aku juga bawakan beberapa buah, biar kamu cepat pulih, Al,” ucapnya lembut, menaruh kantong kecil di samping roti.
Setelah itu, hening.
Tidak ada yang langsung bicara. Nara berdiri kaku di samping tempat tidur dengan tangan saling menggenggam.
Hana hanya menatap Alia, matanya lembut tapi penuh sesuatu yang tidak terucap.
Alia membalas tatapan itu dan untuk pertama kalinya ia merasa ada sesuatu yang berbeda.
“Sudah… berapa lama aku pingsan, Nar?”
Tanya Alia pelan.
Nara terlihat berpikir sejenak. “Sekitar dua belas jam, Al.”
Ia melirik jam di dinding memastikan kembali.
“Sekarang sudah jam tujuh pagi, hari Selasa.”
Alia sedikit terkejut.
“Dua belas jam… itu bukan waktu yang sebentar. Kamu tahu kenapa aku bisa di sini?”
Tanyanya lagi, pelan.
Nara membuka mulut, hendak menjawab.
“Setelah kamu pulang dari rumahku…”
Kalimatnya terhenti.
Ia melirik sedikit ke arah ayah Alia.
Pria itu berdiri di dekat pintu, menggeleng pelan hampir tak terlihat.
Nara langsung diam.
“…Aku nggak terlalu tahu, Al,” lanjutnya cepat.
“Kata ayahmu, kamu ditemukan pingsan di rumah.”
Hening sejenak.
Alia menatap Nara, lalu ayahnya. Ada sesuatu yang tidak diceritakan.
Mereka berdua seperti menyembunyikannya.
“Ayah akan panggilkan dokter dulu, ya, Al.”
Tanpa menunggu jawaban, ayahnya berbalik dan keluar dari ruangan perlahan.
Pintu tertutup pelan.
Klik.
Ruangan kembali hening. Suasana kamar terasa canggung. Tidak ada yang bicara.
Alia menatap Nara dan Hana secara bergantian.
“Kalian… nggak ke sekolah?”
Nara menggeleng kecil, tapi tidak langsung menjawab.
Hana akhirnya bicara.
“Aku sudah izin ke Bu Anna,” suaranya pelan namun tegas.
"Karena hari ini masih belum ada pelajaran, jadi kami diizinkan untuk kesini menjenguk kamu.”
Alia mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi.
Ayahnya masuk bersama seorang dokter.
“Permisi,”
kata dokter itu mendekat ke sisi tempat tidur.
“Sebentar ya, Alia. Biar saya periksa dulu.”
Pemeriksaan berlangsung singkat.
Detak jantung, refleks, tekanan. Alia hanya diam. Beberapa menit kemudian dokter berdiri tegak.
“Secara umum, kondisinya normal,”
katanya sambil menoleh ke ayah Alia.
“Tidak ada tanda yang mengkhawatirkan.”
Lalu kembali menoleh ke Alia. “Kamu boleh pulang hari ini. Tapi tetap istirahat, ya.”
Ucapannya tidak terasa menenangkan, meski ia tersenyum tipis.
Alia perlahan turun dari tempat tidur.
Gerakannya pelan, tapi cukup stabil.
“Ayah… kita pulang sekarang?”
Ayahnya tidak langsung menjawab.
Ia hanya berdiri, menatap Alia beberapa detik seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
“…Al,”
panggilnya pelan.
“Ayah mau kamu lihat sesuatu dulu sebentar.”
Alia mengernyit.
“Apa, Yah?”
Ayahnya menarik napas panjang. Tatapannya terlihat begitu berat.
“…Ikut Ayah, ya.”
Mereka berempat keluar dari ruangan.
Ayah berjalan lebih dulu, langkahnya pelan, seolah tahu arah tapi tidak ingin sampai terlalu cepat.