Halaman Paling Belakang

Vitri Dwi Mantik
Chapter #1

Sang Tuan Tanah

Pada pagi ketika Kanjeng Panembahan Haryo Amartya Hadiningrat meninggalkan pekerjaannya untuk terakhir kali, hujan turun tipis-tipis di atas Yogyakarta.

Bukan hujan yang deras, bukan pula hujan yang cukup lama untuk membasahi tanah sampai ke akar. Hanya butiran kecil yang menggantung di udara, menempel di kaca-kaca jendela, lalu mengalir perlahan seperti jejak air mata yang tidak ingin diketahui siapa pun.

Amartya berdiri di serambi kantor, memandangi halaman yang mulai kosong. Beberapa pegawai telah pulang lebih dahulu setelah menyalaminya. Sebagian mengucapkan selamat, sebagian lain bertanya dengan nada heran mengapa seorang lelaki yang masih sehat dan memiliki kedudukan baik memilih pensiun sebelum waktunya.

Ia menjawab dengan kalimat yang sama kepada setiap orang.

“Saya ingin mengurus sesuatu yang selama ini terlalu lama saya tinggalkan.”

Tidak seorang pun bertanya lebih jauh. Gelar panjang di depan dan belakang namanya membuat orang-orang terbiasa menjaga jarak. Mereka mengenalnya sebagai bangsawan yang tenang, terpelajar, dan sulit ditebak. Ia tidak banyak bicara, tetapi sekali mengambil keputusan, orang lain tahu bahwa keputusan itu telah melalui pertimbangan panjang.

Di usianya yang belum terlalu tua, rambut Amartya memang mulai memutih di pelipis. Namun tubuhnya masih tegap. Langkahnya masih mantap. Sorot matanya tetap tajam di balik ketenangan yang menyerupai permukaan kolam.

Ia tidak meninggalkan pekerjaannya karena sakit.

Ia juga tidak sedang tersingkir.

Tidak ada skandal, pertikaian, ataupun kekalahan politik yang memaksanya mundur. Ia memilih pensiun dini karena mulai merasa bahwa hidupnya telah terlalu lama dihabiskan di antara meja, rapat, surat keputusan, serta percakapan-percakapan resmi yang tidak pernah benar-benar menyentuh tanah.

Padahal sejak kecil, ia selalu percaya bahwa kekuasaan seharusnya bermula dari tanah.

Tanah memberi makan.

Tanah menyimpan air.

Tanah menjadi tempat manusia membangun rumah, membesarkan anak, menguburkan orang tua, dan menanam segala harapan yang tidak bisa diserahkan kepada langit.

Di dalam mobil yang membawanya meninggalkan kantor, Amartya membuka jendela sedikit. Bau aspal basah bercampur dengan aroma daun dan asap kendaraan. Kota bergerak perlahan di hadapannya. Pedagang mendorong gerobak. Anak-anak berlari menyeberangi gang. Seorang perempuan tua menunggu pembeli di bawah payung yang bocor.

Pemandangan itu tidak asing baginya, tetapi pagi itu segalanya terasa berbeda.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia tidak sedang menuju pertemuan berikutnya.

Ia sedang pulang.

Kediaman keluarga Hadiningrat terletak tidak jauh dari kawasan Patehan. Rumah itu berdiri di balik pagar tinggi dengan pintu kayu tua yang selalu mengeluarkan bunyi panjang saat dibuka. Bangunannya menghadap ke halaman luas yang ditumbuhi sawo kecik, mangga, melati, dan beberapa pohon kenanga. Di sisi pendapa terdapat kolam kecil yang airnya sering dipenuhi daun jatuh.

Rumah itu diwariskan turun-temurun, tetapi Amartya tidak pernah benar-benar menganggap dirinya sebagai pemiliknya.

Menurutnya, manusia hanya diberi kesempatan untuk menjaga sesuatu sebelum menyerahkannya kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ketika ia mulai memikirkan masa pensiun, ia tidak tertarik memperbesar ruang tamu, mengganti perabot, atau membangun paviliun baru seperti yang disarankan beberapa kerabatnya.

Ia justru ingin memperluas halaman belakang.

Keinginan itu terdengar sederhana, tetapi tanah di belakang kediamannya bukanlah tanah kosong. Di balik tembok tua yang ditumbuhi lumut terdapat bentangan lahan pertanian yang dikenal warga sebagai Kampung Sayur.

Nama itu tidak tercatat sebagai nama resmi wilayah. Orang-orang mulai menyebutnya demikian karena selama puluhan tahun lahan tersebut menghasilkan beragam sayuran yang dijual ke pasar-pasar di sekitar Yogyakarta.

Pada pagi hari, jalan kecil di kampung itu dipenuhi keranjang sawi, bayam, cabai, terung, tomat, kacang panjang, dan daun-daun rempah. Bau tanah basah bercampur dengan pupuk kandang. Para petani berjalan dengan kaki berlumpur, memanggul hasil panen sambil saling melempar gurauan.

Di tengah kawasan itulah berdiri sebuah kebun yang lebih luas daripada lahan-lahan lainnya.

Orang-orang menyebutnya Kebun Induk.

Beberapa minggu setelah pensiun, Amartya datang ke sana tanpa rombongan besar. Ia hanya ditemani seorang abdi kepercayaan bernama Wiratama dan seorang juru ukur tanah.

Kedatangannya segera menarik perhatian warga.

Seorang bangsawan dengan pakaian rapi, sepatu bersih, dan kendaraan berpelat khusus tidak biasa terlihat berjalan di antara bedengan tanaman. Beberapa petani berhenti mencangkul. Para perempuan yang sedang memilah sayur berbisik satu sama lain. Anak-anak mengikuti dari kejauhan, menahan tawa saat sepatu Amartya mulai tertutup lumpur.

Namun Amartya tidak merasa terganggu.

Ia justru meminta Wiratama menunggu di tepi jalan.

“Saya ingin melihatnya dengan berjalan kaki,” katanya.

Ia menyusuri pematang sempit yang membelah petak-petak sayuran. Air mengalir pelan di dalam parit. Capung beterbangan rendah. Sesekali angin membawa bau daun busuk dan jerami.

Di kejauhan tampak beberapa bangunan sederhana: gudang pupuk, rumah penyimpanan alat, ruang pembibitan, serta sebuah bangunan tua beratap seng yang dahulu digunakan para peneliti.

Seorang lelaki kurus berusia sekitar enam puluh tahun menghampirinya. Ia mengenakan caping lebar dan kemeja lengan panjang yang warnanya telah memudar.

“Sugeng rawuh, Kanjeng,” katanya sambil membungkuk.

Amartya mengangguk. “Panjenengan siapa?”

“Nama saya Darso. Ketua Kelompok Tani Bumi Syahdu.”

Nama itu membuat Amartya menoleh ke arah hamparan kebun.

“Bumi Syahdu?”

Darso tersenyum kecil. “Nama pemberian para pendiri kelompok, Kanjeng. Mereka bilang tanah ini harus dirawat dengan hati tenang. Kalau orang datang dengan amarah, tanaman pun ikut susah tumbuh.”

Amartya mengamati wajah lelaki itu. Kulit Darso gelap terbakar matahari. Kukunya dipenuhi tanah. Telapak tangannya kasar, tetapi gerak-geriknya tenang.

“Sudah lama kelompok ini mengelola kebun?”

“Lebih lama daripada saya menjadi ketuanya.”

Darso kemudian mengajak Amartya menuju bangunan beratap seng. Di dalamnya terdapat meja kayu panjang, lemari arsip, beberapa alat ukur tua, dan foto-foto hitam putih yang ditempel di dinding.

Salah satu foto memperlihatkan sekelompok ilmuwan berdiri di tengah lahan kosong. Beberapa mengenakan jas putih. Yang lain membawa cangkul, buku catatan, dan tabung kaca.

“Dulu tanah ini bukan kebun,” kata Darso. “Sebagiannya rawa kecil, sebagiannya lahan keras yang tidak banyak menghasilkan. Lalu datang para ahli pertanian. Mereka meneliti jenis tanah, membuat saluran air, memilih bibit, dan mengajari warga menyemai.”

Darso menunjuk foto lain.

Dalam foto itu, para petani berdiri mengelilingi petak percobaan. Wajah mereka tampak tegang, tetapi penuh harapan.

“Mula-mula kebun ini hanya tempat penelitian,” lanjutnya. “Bibit yang berhasil tumbuh kemudian dibagikan kepada warga. Karena itu disebut Kebun Induk. Dari sinilah bibit-bibit terbaik berasal.”

Amartya berjalan mendekati foto tersebut.

“Siapa yang membiayai penelitian itu?”

“Banyak pihak. Ada lembaga pendidikan, ada bantuan pemerintah, ada pula sumbangan pribadi. Tetapi setelah para peneliti pergi, pengelolaannya diserahkan kepada warga.”

Lihat selengkapnya