Pagi di Kota Bahari selalu datang dengan cara yang sama.
Debur ombak dari kejauhan.
Angin lembap yang masuk lewat jendela kayu.
Dan kehidupan yang berjalan tanpa pernah benar-benar berubah.
Laras bangun seperti biasa.
Sekolah.
Sarapan.
Lalu pulang tanpa ada yang terasa istimewa.
Sampai sore itu.
Di dalam tasnya, ada sebuah buku bersampul hitam.
Tidak ada judul.
Tidak ada nama pemilik.
Tidak ada penjelasan apa pun.
Ia tidak ingat pernah memilikinya.
Tapi anehnya… ia juga tidak merasa itu benda asing.
Seolah buku itu memang selalu menjadi bagian dari dirinya.
Di kamarnya, Laras duduk di lantai.
Membuka buku itu perlahan.
Halaman pertama kosong.
Halaman kedua kosong.
Semua halaman kosong.
“Hah…” ia menghela napas pelan.
“Buku kosong…”
Ia menutupnya.
Menatapnya sebentar.