Arka kembali ke Perpustakaan Niskala seperti biasa.
Bukan karena ia punya alasan yang jelas.
Tapi karena pikirannya tidak pernah benar-benar meninggalkan buku itu sejak kemarin.
Codex Tempora.
Buku hitam tanpa penjelasan.
Buku yang seharusnya kosong.
Ia duduk di lantai yang sama.
Rak-rak tua tetap diam.
Lampu redup bergoyang pelan tanpa angin.
Semua terasa seperti kemarin.
Terlalu tidak berubah.
Arka menatap buku itu cukup lama sebelum menyentuhnya.
“Kalau ini cuma iseng…” gumamnya pelan.
Ia membuka halaman pertama.
Kosong.
Arka menghela napas.
“Ya sudah…”
Tangannya hampir menutup buku itu.
Namun…
ada sesuatu yang menahan gerakannya.
Bukan suara.
Bukan cahaya.
Hanya perasaan bahwa buku itu belum selesai.
Arka membuka lagi halaman pertama.
Dan saat itu…