Pagi di Kota Bahari selalu terasa sama bagi Laras.
Debur ombak yang jauh.
Langit cerah yang tidak pernah benar-benar dipertanyakan.
Dan rutinitas yang berjalan tanpa perubahan berarti.
Sekolah.
Pulang.
Obrolan ringan dengan teman-teman.
Lalu kembali ke kamar yang sunyi.
Itu saja.
Tidak ada yang istimewa dari hidupnya.
Setidaknya… sampai beberapa hari terakhir.
Di sekolah, Nayla Serafine selalu menjadi kebalikan Laras.
“Nanti pulang bareng ya, Ras!” kata Nayla sambil tersenyum lebar di depan kelas.
Laras mengangguk pelan.
“Iya.”
Nayla langsung menyenggol lengannya.
“Kamu tuh akhir-akhir ini kenapa sih? Diam terus kayak lagi mikirin sesuatu.”
Laras menggeleng kecil.
“Enggak apa-apa.”
Nayla menyipitkan mata.
“Jawaban ‘enggak apa-apa’ itu biasanya justru berarti ada apa-apa.”
Laras tidak menanggapi lagi.
Dari bangkunya yang tidak jauh, Reyhan Alvara memperhatikan percakapan itu sambil bersandar santai.
“Dia lagi mode silent kayaknya,” kata Reyhan pelan.
Nayla menoleh.
“Mode apa?”