Halaman yang hilang

Maulana izza mufti
Chapter #8

Arc 1 #Bab 7_Jawaban untuk Dua Pertanyaan

Hujan turun tipis di Kota Wirasena sore itu.

Bukan hujan yang membuat orang berlari mencari tempat berteduh.

Hanya hujan kecil yang cukup untuk membuat udara terasa lebih dingin.

Arka duduk di bangku paling belakang kelas sambil sesekali melihat jam di dinding.

Bukan karena dosennya membosankan.

Tapi karena pikirannya sudah berada di tempat lain.

Di sebuah perpustakaan tua.

Di rak paling ujung.

Dan di sebuah buku hitam yang tidak bisa ia lupakan.

"Lo ngelamun lagi."

Suara Rendra membuat Arka menoleh.

"Enggak."

"Kebohongan nomor seratus minggu ini," sahut Kailo dari kursi sebelah.

Zevan yang sedang membereskan bukunya hanya menggeleng pelan.

"Aku mulai penasaran sebenarnya apa yang lagi lo pikirin."

Arka tersenyum tipis.

"Tidak ada."

"Kebohongan nomor seratus satu," kata Rendra cepat.

Mereka tertawa.

Kecuali Arka.

Bukan karena tidak lucu.

Tapi karena sebagian pikirannya memang tidak berada di sana.


Begitu kuliah selesai, Arka langsung menuju Perpustakaan Niskala.

Langkahnya lebih cepat dari biasanya.

Entah kenapa.

Sejak beberapa hari terakhir, ia selalu merasa ada kemungkinan bahwa halaman buku itu berubah setiap kali ia datang.

Dan perasaan itu membuatnya terus kembali.

Lorong perpustakaan sepi.

Suara hujan terdengar samar dari luar.

Arka berjalan melewati rak-rak tua hingga sampai di tempat yang sudah sangat dikenalnya.

Codex Tempora masih ada di sana.

Seolah tidak pernah berpindah.

Lihat selengkapnya