Halaman yang hilang

Maulana izza mufti
Chapter #9

Arc 1 #Bab 8_Kata-Kata yang Menunggu

Pagi di Kota Bahari berjalan seperti biasanya.

Matahari terbit di balik laut.

Perahu-perahu nelayan mulai kembali ke dermaga.

Dan jalanan kecil di sekitar sekolah Laras perlahan ramai oleh orang-orang yang memulai hari.

Semuanya tampak sama.

Namun tidak dengan Laras.

Sudah beberapa hari ini, ada satu hal yang diam-diam menemaninya ke mana pun.

Bukan benda yang ia bawa.

Bukan suara yang terus terdengar.

Melainkan rasa penasaran yang tidak kunjung pergi.

Tentang buku itu.

Tentang tulisan-tulisan yang muncul di dalamnya.

Dan tentang seseorang yang berada di balik halaman-halamannya.

"Kamu melamun lagi."

Suara Nayla membuat Laras tersadar.

"Hah?"

Nayla terkekeh kecil.

"Itu. Tatapan kosong khas kamu."

Laras hanya menghela napas pelan.

"Aku nggak melamun."

"Kalau begitu, kenapa dari tadi aku ngomong soal tugas kelompok dan kamu cuma jawab 'hmm'?"

Laras tidak bisa membantah.

Di bangku belakang, Reyhan yang sedang membaca buku menurunkan pandangannya.

"Biarkan saja."

Nayla menoleh.

"Kenapa?"

"Karena orang yang lagi banyak pikiran biasanya nggak sadar kalau dia lagi banyak pikiran."

"Filosof sekali."

"Bukan filosof. Fakta."

Laras menggeleng kecil melihat mereka.

Percakapan itu berhasil membuatnya sedikit kembali ke kenyataan.

Sedikit.

Karena sebagian pikirannya masih tertinggal di kamar.

Di dalam laci meja belajarnya.

Bersama sebuah buku hitam.


Sepulang sekolah, Laras langsung masuk ke kamarnya.

Tidak seperti biasanya.

Bahkan ibunya sempat bertanya kenapa ia terburu-buru.

Laras hanya menjawab singkat lalu masuk.

Lihat selengkapnya