Hujan semalam masih meninggalkan jejak di Kota Wirasena.
Jalanan terlihat lebih bersih.
Udara terasa lebih sejuk.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Arka berjalan menuju kampus dengan suasana hati yang sedikit lebih ringan.
Meski ia sendiri tidak tahu alasannya.
Atau mungkin ia tahu.
Hanya saja belum mau mengakuinya.
"Kalian sadar nggak sih?"
Rendra tiba-tiba menghentikan langkahnya di koridor kampus.
Arka, Zevan, dan Kailo menoleh bersamaan.
"Sadar apa?"
"Arka."
"Aku kenapa?"
Rendra menunjuknya seperti seorang detektif yang baru menemukan petunjuk penting.
"Lo sekarang sering senyum sendiri."
Kailo langsung tertawa.
"Wah. Gejala berbahaya."
"Gejala apa?"
"Gejala orang yang sedang menyembunyikan sesuatu."
Arka menggeleng.
"Kalian kebanyakan waktu luang."
"Dia menghindari pertanyaan."
"Karena pertanyaannya aneh."
"Nah, itu juga jawaban orang mencurigakan."
Zevan yang sejak tadi diam hanya menghela napas.
"Aku nggak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi memang ada yang berubah."
"Kan?" Rendra langsung menunjuk Zevan.
Arka hanya tertawa kecil.
Lalu berjalan lebih dulu meninggalkan mereka.
Namun satu hal yang tidak diketahui ketiga sahabatnya...
untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memang merasa menunggu sesuatu.
Sore harinya, Arka kembali ke Perpustakaan Niskala.
Langkahnya sudah begitu hafal menuju rak paling ujung.
Tempat Codex Tempora berada.
Ia duduk di lantai.
Membuka buku itu.
Dan langsung mencari halaman terakhir.