Angin laut bertiup cukup kencang sore itu.
Dari jendela kamarnya, Laras bisa melihat langit Kota Bahari yang mulai berubah jingga.
Perahu-perahu nelayan tampak seperti titik-titik kecil di kejauhan.
Pemandangan yang sudah ia lihat ratusan kali.
Mungkin ribuan kali.
Namun hari ini, pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Sejak pulang sekolah, ada satu hal yang terus mengusiknya.
Sebuah buku hitam yang tersimpan rapi di dalam laci meja belajarnya.
Dan sebuah kalimat yang belum sempat ia baca.
Hari itu di sekolah berjalan seperti biasa.
Atau setidaknya, hampir biasa.
"Ras."
Nayla melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya.
Laras berkedip.
"Hm?"
"Nah, kan. Aku ngomong dari tadi."
"Apa?"
Nayla memegang dadanya dramatis.
"Sakit. Teman sendiri sudah tidak mendengarkan."
Reyhan yang duduk di belakang mereka terkekeh kecil.
"Aku bilang juga apa. Dia lagi banyak pikiran."
"Aku nggak banyak pikiran."
"Kata semua orang yang lagi banyak pikiran," sahut Reyhan santai.
Laras menghela napas.
Percakapan itu berhasil membuat Nayla tertawa.
Namun jauh di dalam hati, Laras tahu mereka tidak sepenuhnya salah.
Akhir-akhir ini memang ada sesuatu yang selalu memenuhi pikirannya.
Sore harinya, setelah membantu ibunya membereskan beberapa pekerjaan rumah, Laras akhirnya masuk ke kamar.
Langit di luar mulai gelap.
Suara ombak terdengar samar dari kejauhan.
Ia membuka laci meja.
Mengeluarkan Codex Tempora.
Sampul hitamnya masih terlihat sama.
Diam.
Tenang.
Seolah tidak pernah menyimpan rahasia apa pun.
Padahal Laras tahu kenyataannya tidak seperti itu.
Perlahan ia membuka halaman terakhir.
Dan menemukan tulisan baru.