Rumah itu tidak pernah benar-benar kosong. Bahkan pada hari-hari ketika hanya ada dua pasang sandal di depan pintu, ketika dapur lebih sering bersih daripada berantakan, ketika meja makan hanya dipakai di dua sisi, dan kamar-kamar anak sudah lama berhenti menyimpan suara, rumah itu tetap menahan sesuatu di dalam dindingnya.
Ada bekas tawa di ruang tengah. Ada sisa tangis di sudut kamar. Ada aroma kue yang tidak lagi dipanggang, tetapi seolah masih tertinggal di sela-sela lemari dapur. Ada suara langkah kecil yang dulu berlarian dari teras menuju halaman, meski sekarang halaman itu lebih sering dipenuhi daun kering dan pot tanaman yang lupa dipindahkan.
Di Japos, rumah-rumah seperti itu masih bisa ditemukan. Tidak tua benar, tetapi tidak lagi muda. Berdiri di tengah jalan perumahan yang dulu cukup lengang untuk anak-anak bermain sepeda, namun kini mulai sesak oleh motor, mobil tetangga, minimarket di ujung jalan, dan rumah-rumah baru yang catnya terlalu terang.
Rumah Bapak dan Ibu berada di salah satu belokan yang tidak banyak berubah. Pagarnya masih pagar besi lama berwarna hijau gelap, meski catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Di halaman depan, pohon mangga yang dulu ditanam Bapak ketika Renata masuk SD masih berdiri, lebih tinggi daripada atap teras. Pagi itu, Ibu duduk di kursi rotan dekat jendela ruang tengah.
Kursi itu dulu jarang kosong. Saat anak-anak masih kecil, ia sering duduk di sana sambil memilah pesanan kue, menempelkan stiker nama pada kotak, atau mencatat jumlah nasi kotak yang harus dikirim sebelum jam makan siang. Sekarang, di pangkuannya hanya ada selimut tipis dan satu gelas air hangat yang sudah tidak mengepul.
Tubuh Ibu mengecil, wajahnya masih menyimpan kelembutan yang sama, tetapi pipinya tidak lagi penuh. Kedua tangannya tampak ringan di atas selimut, seolah apa pun yang ia pegang sekarang bisa terlepas begitu saja bila ia lengah.
Dari dapur, terdengar bunyi sendok beradu dengan gelas. Bapak sedang menyiapkan obat.
Seumur hidup bekerja sebagai staf keuangan membuat Bapak percaya bahwa segala sesuatu harus punya tempat, urutan, dan alasan. Kuitansi disimpan berdasarkan bulan. Tagihan listrik dilipat di map berbeda. Kartu garansi kipas angin masih ada meskipun kipasnya sudah lebih dulu rusak.
Obat Ibu pun ia susun seperti laporan kecil: pagi, siang, malam. Masing-masing dalam kotak pil bertuliskan hari. Di dekatnya ada buku agenda kecil, tempat Bapak mencatat tekanan darah, jam minum obat, dan kapan Ibu terakhir makan lebih dari setengah porsi.
Bapak keluar dari dapur membawa obat dan segelas air baru.
“Yang tadi sudah dingin,” katanya.
Ibu menoleh. “Air dingin juga tetap air, Pak.”
“Tapi obatnya lebih baik diminum pakai air hangat.”
Ibu tersenyum kecil. “Bapak ini. Air saja diatur.”
Bapak tidak menjawab. Ia hanya meletakkan gelas di meja kecil sebelah kursi, lalu berdiri sebentar, memastikan Ibu benar-benar meminum obatnya.
Di antara mereka, percakapan sering berhenti di tempat-tempat sederhana seperti itu. Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, tetapi karena selama puluhan tahun, keduanya sudah terbiasa membaca hal-hal kecil.
Ibu tahu Bapak sedang khawatir dari cara laki-laki itu melipat ujung koran terlalu rapi.
Bapak tahu Ibu sedang menahan sakit dari cara perempuan itu tersenyum terlalu lama.
Sejak anak-anak lahir, nama mereka berdua seperti ikut berubah. Hendra perlahan menjadi Bapak, lalu cukup “Pak”. Lestari menjadi Ibu, lalu cukup “Bu”. Mula-mula panggilan itu dipakai di depan Renata yang masih belajar bicara. Lalu terbawa saat Rendra lahir. Lalu menetap sepenuhnya ketika Raina mulai berlari-lari di rumah sambil berteriak mencari mereka.
Bertahun-tahun kemudian, panggilan itu tidak pernah benar-benar pergi.
Di rumah itu, Bapak lebih sering memanggil istrinya “Bu” daripada “Lestari”. Ibu lebih sering memanggil suaminya “Pak” daripada “Hendra”. Nama masing-masing hanya muncul sesekali, biasanya ketika tidak ada anak-anak, tidak ada tetangga, tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua dan suara rumah yang mulai tua.
Bagi Ibu, justru di situlah romantisnya.
Bapak tidak pernah pandai memberi bunga. Tidak pernah menulis pesan manis. Tidak pernah tiba-tiba menggenggam tangannya di depan orang. Namun ada waktu-waktu tertentu, sangat jarang, ketika laki-laki itu memanggilnya dengan suara rendah, “Lestari,” dan perempuan itu merasa seolah seluruh masa muda mereka muncul sebentar di ruang yang sama.
Pagi itu, Bapak belum memanggilnya begitu.
Ia hanya berkata, “Obatnya diminum dulu, Bu.”
Ibu menurut.
Setelah obat ditelan, Ibu menyandarkan kepala. Matanya bergerak ke arah tiga kamar yang pintunya tertutup. Satu di dekat ruang tengah, dua lainnya melewati lorong kecil menuju belakang. Kamar-kamar itu tidak benar-benar kosong. Ada lemari, buku lama, kardus, beberapa pakaian yang tidak pernah diambil pemiliknya. Namun kamar tanpa orang yang pulang tetap saja terasa seperti ruangan yang menunggu dengan sia-sia.
“Pak,” panggil Ibu pelan.
“Hm?”
“Anak-anak kapan terakhir tidur di rumah bareng-bareng?”
Bapak sedang mengambil gelas kosong. Tangannya berhenti sebentar.
“Tahun baru dua tahun lalu,” jawabnya.
“Bukan. Waktu itu Rendra cuma semalam. Paginya langsung pergi.”
Bapak diam lagi. Ia tampak menghitung sesuatu dalam kepala, seperti sedang mencari angka yang tepat dari tumpukan ingatan.
“Mungkin sebelum Renata ke Singapura.”
“Itu sudah lama sekali.”
Bapak membawa gelas ke dapur. “Mereka kerja.”
“Ibu tahu.”
“Mereka punya hidup sendiri.”
“Itu Ibu juga tahu.”
Jawaban Ibu membuat Bapak tidak meneruskan kalimatnya. Ada percakapan yang tidak bisa dilawan dengan logika, dan Bapak, meski sering terlambat menyadarinya, tahu istrinya sedang tidak meminta penjelasan.
Bapak kembali ke ruang tengah. “Mau telepon mereka?”
Ibu memandang layar ponsel di meja. Sudah sejak pagi benda itu tergeletak di sana, cukup dekat untuk dijangkau, cukup jauh untuk memberinya waktu berpikir.
“Kalau Ibu telepon, mereka panik.”
“Kalau tidak ditelepon, mereka tidak tahu.”
“Kalau mereka tahu, mereka merasa bersalah.”
Bapak menarik kursi plastik dari dekat dinding lalu duduk di seberang istrinya. Bagi orang lain, gerakan itu mungkin tidak berarti banyak. Bagi Ibu, itu tanda bahwa Bapak sedang mencoba hadir lebih lama daripada biasanya.
“Rasa bersalah bukan urusan Ibu,” kata Bapak.
Ibu tertawa lirih. “Kalimat Bapak selalu begitu.”
“Memangnya salah?”
“Tidak. Cuma tidak enak didengar.”
Bapak menunduk, melihat kedua tangannya sendiri. Jari-jarinya sudah lebih tua daripada yang ia ingat. Ada bintik-bintik cokelat di punggung tangan, urat yang lebih menonjol, dan kuku yang selalu ia potong terlalu pendek.
“Telepon saja,” katanya akhirnya. “Bilang Ibu ingin mereka pulang.”
Ibu menatapnya.
“Bapak juga ingin?”
Bapak tidak langsung menjawab.
Dari luar rumah, terdengar suara tukang sayur lewat, memanggil dengan nada panjang yang sama sejak bertahun-tahun lalu. Dulu, Ibu hampir selalu keluar ketika suara itu datang. Kadang Renata mengikuti sambil membawa uang receh. Rendra pernah menangis karena tidak dibelikan pisang. Raina, yang masih kecil waktu itu, sering duduk di tangga teras dengan rambut berantakan, menunggu ibunya kembali membawa sesuatu yang bisa dimakan.
Sekarang suara itu lewat begitu saja.
Bapak melihat ke arah jendela. “Rumah memang terlalu sepi.”
Ibu menunduk, lalu mengambil ponselnya.
Ia tidak langsung menelepon Renata. Anak sulungnya itu berada di Singapura, satu jam lebih cepat dari Jakarta, tetapi selalu terasa hidup dalam waktu yang berbeda. Ibu sering membayangkan Renata berjalan di trotoar bersih, memegang kopi tanpa gula, mengenakan sepatu yang nyaman, dan membawa tas kerja yang rapi. Di foto-foto yang dikirimnya, Renata tampak bersinar: rambut tergerai sehat, kulit terawat, senyum terukur, tubuh langsing yang dijaga oleh makanan sehat dan olahraga rutin.
Sebentar lagi anak itu tiga puluh.
Ibu masih ingat Renata kecil yang selalu ingin memakai jepit rambut sendiri, meskipun hasilnya miring. Renata remaja yang belajar sampai larut. Renata dewasa yang bicara lewat video call dengan latar apartemen terang, sering berkata, “Ibu tenang saja, aku baik-baik saja,” dengan nada yang membuat Ibu justru tidak tenang.
Setelah sejenak terdiam, Ibu memilih nama Raina terlebih dahulu.
Mungkin karena Raina paling dekat. Mungkin karena yang paling dekat selalu terasa paling mungkin dijangkau. Atau mungkin karena selama ini Ibu terlalu sering menunda menghubungi anak bungsunya, takut mengganggu, takut terdengar menuntut, takut membuat Raina kembali merasa bahwa rumah selalu punya sesuatu yang harus ia urus.
Telepon berdering lama.
Di Jakarta Pusat, Raina sedang menatap layar laptop dengan mata yang sudah lelah sebelum jam makan siang.
Di layar itu ada tabel yang seharusnya selesai kemarin sore, grafik yang warnanya tidak konsisten, dan pesan dari atasannya yang masuk bertubi-tubi sejak pukul delapan pagi. Kantor startup tempatnya bekerja tidak pernah benar-benar diam. Bahkan ketika ruangan tidak ramai, notifikasi tetap menemukan cara untuk membuat semua orang merasa tertinggal.
Raina melihat nama Ibu muncul di layar ponsel. Ia membiarkannya berdering tiga kali. Bukan karena tidak mau mengangkat. Justru karena ia tahu, begitu suara Ibu terdengar, ada bagian dalam dirinya yang akan langsung merasa bersalah. Tentang minggu lalu yang batal pulang. Tentang pesan yang belum dibalas. Tentang obat yang pernah diminta tolong dibelikan tetapi baru ia kirim dua hari kemudian lewat ojek online. Tentang jarak Japos ke kosnya di Benhil yang tidak sejauh Singapura, tidak sejauh laut tempat Rendra bekerja, tetapi selalu terasa seperti perjalanan melintasi seluruh rasa bersalahnya sendiri.
Pada dering keempat, Raina mengangkat.