Singapura membuat hidup Renata terlihat lebih mudah dirapikan. Di kota itu, kereta datang sesuai jadwal. Trotoar bersih bahkan setelah hujan. Orang-orang berjalan cepat dengan sepatu nyaman dan wajah yang tidak terlalu ingin tahu urusan orang lain. Lampu penyeberangan memberi waktu yang cukup bagi siapa pun untuk berpindah sisi jalan, asalkan mereka tidak terlalu lama ragu.
Renata menyukai hal-hal seperti itu. Ia menyukai pagi yang bisa diperkirakan. Menyukai jadwal kelas pilates yang tidak berubah-ubah. Menyukai kopi tanpa gula dari gerai kecil di bawah kantornya. Menyukai lift apartemen yang jarang rusak, kartu akses yang selalu bekerja, dan supermarket yang menata buah berdasarkan warna seolah hidup memang bisa menjadi lebih baik hanya dengan sedikit ketertiban.
Di Singapura, Renata bisa menjadi dirinya yang paling utuh menurut versinya sendiri. Atau setidaknya, dirinya yang paling mudah dijelaskan. Tiga puluh tahun. Lulusan S2 Manajemen. Brand Strategist di perusahaan kecantikan regional. Tinggal sendiri di apartemen kecil yang bersih. Rajin olahraga. Makan teratur. Kulit terawat. Rambut sehat. Gigi rapi. Bahasa Inggris lancar. Tabungan ada. Paspor aktif. Kalender penuh. Bila hidup seseorang bisa ditampilkan dalam satu slide presentasi, hidup Renata akan tampak meyakinkan.
Mungkin karena itulah ia memilih pekerjaan yang mengurus persepsi. Setiap hari, Renata membantu sebuah produk terlihat seperti jawaban atas kebutuhan seseorang. Pelembap bukan hanya pelembap, melainkan janji tentang kulit yang lebih tenang. Serum bukan hanya serum, melainkan harapan bahwa seseorang masih bisa memperbaiki sesuatu yang mulai berubah. Lip tint bukan hanya warna di bibir, melainkan keberanian kecil sebelum memasuki ruangan.
Renata paham betul bahwa manusia jarang membeli benda hanya karena benda itu sendiri.
Mereka membeli rasa.
Rasa lebih cantik.
Rasa lebih siap.
Rasa lebih muda.
Rasa lebih cukup.
Lucunya, di luar ruang rapat dan strategi kampanye, Renata tidak selalu berhasil menjual rasa cukup itu pada dirinya sendiri.
Siang itu, ia kembali ke mejanya setelah membaca pesan Raina di toilet kantor. Ruangan kantornya berada di lantai dua belas sebuah gedung yang terlalu banyak kaca. Dari sana, kota tampak seperti susunan garis bersih: jalan, gedung, pepohonan, atap stasiun, orang-orang yang bergerak kecil-kecil di bawah.
Di meja Renata, laptop masih menyala. Slide presentasi terbuka di layar. Ada foto model perempuan berkulit cerah kecokelatan, tersenyum dengan cara yang sudah melewati terlalu banyak proses seleksi. Di samping foto itu tertulis kalimat kampanye:
Feel seen. Feel ready. Feel you.
Renata menatap kalimat itu lama.
Lalu ponselnya menyala lagi.
Grup 3R masih belum sepenuhnya diam.
Rendra: Ibu kenapa?
Raina: Ibu bilang cuma capek. Tapi kayaknya kita memang harus pulang.
Renata membaca pesan itu dua kali.
Kata pulang selalu aneh baginya. Di Singapura, pulang berarti kembali ke apartemen setelah kerja, melepas sepatu di dekat pintu, menyalakan diffuser, mandi air hangat, lalu makan sesuatu yang praktis dan tidak terlalu berminyak. Di Jakarta, pulang berarti kembali ke rumah Japos, membuka pagar hijau yang suaranya selalu sama, mencium aroma lemari kayu, dan menjadi seseorang yang sudah lama ia tinggalkan tetapi tidak pernah benar-benar mati.
Di Singapura, ia adalah Renata.
Di rumah, ia adalah Kakak. Anak pertama. Anak perempuan. Anak yang katanya membanggakan. Anak yang katanya mandiri. Anak yang katanya hebat, tetapi masih membuat ibunya menghela napas setiap kali ada undangan pernikahan sepupu datang ke rumah.
“Ren?”
Renata mengangkat wajah.
Mei Ling, rekan satu timnya, berdiri di sisi meja sambil membawa tablet. Usianya mungkin dua atau tiga tahun lebih muda dari Renata, dengan rambut pendek sebahu dan gaya bicara yang selalu terdengar seperti baru saja keluar dari rapat penting.
“You okay?”
Renata segera mengunci layar ponselnya. “Yeah. Sorry. Family chat.”
Mei Ling mengangguk dengan wajah yang tidak terlalu bertanya, salah satu hal yang Renata sukai dari bekerja di sana. Orang-orang bisa peduli tanpa memaksa masuk.
“Client moved the call to three. We have about forty minutes.”
“Okay. I’ll revise the consumer insight slide.”
“You already did.”
“I want to adjust the wording.”
Mei Ling tersenyum kecil. “Of course you do.”
Renata membalas senyum itu, lalu membuka kembali file presentasinya. Ia membaca ulang slide yang sama, memindahkan satu kata, mengganti satu frasa, mengatur jarak antarbaris yang sebenarnya tidak akan diperhatikan siapa pun kecuali dirinya.
Di layar, kalimat tadi berubah menjadi:
For women who are ready to be seen, not fixed.
Renata berhenti.
Ia menyukai kalimat itu. Terasa kuat. Terasa modern. Terasa seperti sesuatu yang akan disetujui semua orang di ruang rapat.
Perempuan tidak perlu diperbaiki. Perempuan hanya perlu dilihat. Betapa mudahnya menulis kalimat seperti itu untuk sebuah produk. Betapa sulitnya mempercayainya di rumah sendiri.
Ponselnya kembali menyala. Kali ini bukan dari grup 3R.
Ibu
Renata membiarkannya bergetar sekali. Dua kali.
Lalu ia mengangkat.
“Halo, Bu.”
Suara Ibu masuk dari seberang, agak lebih pelan daripada yang Renata ingat dari panggilan terakhir mereka.
“Renata lagi kerja?”
“Iya, Bu. Kenapa, Bu?”
“Tidak apa-apa. Ibu cuma mau memastikan pesan Raina sudah dibaca.”
“Sudah kok, Bu.”
“Bisa pulang?”
Renata memutar kursinya sedikit, membelakangi ruangan kantor. Di balik kaca, bayangannya sendiri terlihat samar: blazer putih, rambut tertata, wajah yang dipoles tipis tapi tepat. Perempuan di pantulan itu tampak tenang. Perempuan di dalam tubuhnya tidak.
“Aku cek tiket dulu ya, Bu. Minggu ini agak padat.”
“Ibu tahu.”
“Bukan nggak mau pulang.”
“Ibu tidak bilang begitu.”
“Cuma ada presentasi. Terus Jumat ada dinner sama partner brand. Kalau aku pulang mendadak, harus adjust banyak.”
Tidak ada jawaban untuk beberapa detik.
Renata tahu ibunya tidak sedang menghitung presentasi, dinner, atau tiket. Ibu tidak benar-benar paham kalender kerja Renata, tetapi ia selalu mencoba berpura-pura paham agar anaknya tidak merasa disalahkan.
“Ibu mengerti,” kata Ibu akhirnya.
Kalimat itu membuat Renata semakin tidak nyaman.
“Bu,” katanya, lebih pelan. “Ibu sakit?”
Di rumah Japos, Ibu mungkin sedang tersenyum. Renata bisa membayangkannya: senyum kecil yang biasa dipakai ibunya ketika ingin menenangkan anak-anak, padahal tangannya sendiri sedang gemetar.
“Namanya juga orang tua, Ren.”
“Ibu belum tua.”
“Sudah punya anak umur tiga puluh masa belum tua?”
Renata menghela napas, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit. “Umur tiga puluh tuh belum tua juga.”
“Iya, iya. Sekarang semua orang umur tiga puluh masih muda.”
Ada jeda kecil setelah kalimat itu.
Renata tahu ke mana percakapan seperti ini bisa bergerak. Usia tiga puluh sering menjadi pintu yang dibuka pelan-pelan oleh ibunya, lalu dari balik pintu itu muncul hal-hal yang sama: teman hidup, kesendirian, anak sepupu yang sudah hamil anak kedua, tetangga yang bertanya kabar, dan kalimat Ibu cuma khawatir.
Tubuh Renata menegang sebelum apa pun benar-benar dikatakan. Namun hari itu, Ibu tidak masuk ke sana.
Ia hanya berkata, “Ibu kangen.”
Dua kata itu justru lebih sulit ditangkis.
Renata memandangi kukunya yang dipotong pendek dan diberi warna bening. “Aku juga kangen, Bu.”
“Kalau kangen, pulang.”
“Iya. Aku usahain.”
“Jangan usahain terus. Kadang-kadang harus jadi.”
Renata diam.
Dari kejauhan, suara kantor masih berjalan seperti biasa. Keyboard. Printer. Percakapan dalam bahasa Inggris. Tawa kecil. Pintu ruang meeting terbuka dan tertutup.
“Bapak gimana?” tanya Renata, mengalihkan sesuatu yang tidak sanggup ia pegang terlalu lama.
“Seperti biasa.”
“Masih nyatet-nyatet obat?”
“Lebih rajin dari dokter.”