Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #3

Laut yang Tidak Bertanya

Di tengah laut, tidak ada yang punya waktu untuk menanyakan perasaan seseorang. Yang ada hanya suara mesin, jadwal kerja, laporan teknis, dan benda-benda besi yang harus tetap berfungsi meskipun angin berubah, cuaca memburuk, atau tubuh seseorang sedang tidak ingin menjadi kuat hari itu.

Rendra menyukai itu. Bukan lautnya. Bukan panasnya. Bukan rasa lengket garam di kulit yang tetap tertinggal meski ia sudah mandi dua kali. Bukan pula ranjang sempit di kamar istirahat yang membuat punggungnya kadang terasa seperti papan.

Ia menyukai kejelasannya. Di offshore, kalau ada baut longgar, baut itu dikencangkan. Kalau ada suara aneh dari pompa, sumbernya dicari. Kalau ada sistem yang bermasalah, ia diperiksa, dilaporkan, diperbaiki. Tidak ada yang berkata, “Kamu terlalu sensitif.” Tidak ada yang menganggap diam sebagai pembangkangan. Tidak ada yang menuntutnya memahami maksud tersembunyi dari kalimat seseorang.

Masalah di tempat itu sering kali berat, tetapi bentuknya jelas.

Rendra bisa menghadapi hal-hal yang jelas.

Pagi itu, area kerja masih dipenuhi bau oli, logam panas, dan kopi sachet yang diseduh terlalu kental. Matahari naik tanpa kelembutan. Cahayanya jatuh di permukaan laut dan memantul tajam, membuat segala sesuatu tampak lebih keras daripada aslinya.

Rendra berdiri di dekat panel, helm keselamatan terpasang di kepala, sarung tangan menggantung di pinggang. Di depannya, seorang teknisi lain sedang membaca catatan pemeriksaan sambil mengernyit.

“Yang kemarin sudah dicek ulang?” tanya Rendra.

“Sudah. Tapi pressure-nya masih turun sedikit.”

“Turunnya konsisten?”

“Belum tentu. Kadang stabil, kadang drop.”

Rendra mengambil tablet dari tangan temannya. Matanya bergerak cepat membaca angka, jam, dan catatan singkat. Ia tidak banyak bicara saat bekerja. Itu membuat beberapa orang mengira ia galak, padahal Rendra hanya tidak suka menghabiskan kalimat untuk sesuatu yang bisa diselesaikan dengan tindakan.

“Cek valve di jalur ini dulu,” katanya sambil menunjuk layar. “Kalau masih sama, baru lapor ke supervisor.”

Temannya mengangguk. “Siap.”

Rendra mengembalikan tablet, lalu berjalan menuju sisi lain platform. Di sekelilingnya, semua orang bergerak dengan tujuan. Sepatu keselamatan menghantam permukaan besi. Radio komunikasi sesekali berbunyi. Angin membawa suara mesin sampai menjadi dengung panjang yang seolah tinggal di dalam kepala.

Tidak ada ruang untuk menjadi anak siapa pun di sana.

Di tempat itu, Rendra hanya Rendra.

Dua puluh sembilan tahun. Lulusan Teknik Perkapalan. Offshore maintenance. Tubuh cukup kuat, tangan cukup cekatan, kepala cukup dingin. Orang yang bisa dipanggil ketika ada kerusakan kecil sebelum berubah menjadi masalah besar.

Di rumah Japos, ia tidak pernah merasa sesederhana itu. Di rumah, ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Kalimat itu terdengar seperti kehormatan ketika orang lain mengucapkannya. Bagi Rendra, kalimat itu lebih mirip beban yang diberi nama bagus.

Anak laki-laki satu-satunya harus kuat.

Anak laki-laki satu-satunya harus bisa diandalkan.

Anak laki-laki satu-satunya tidak boleh terlalu banyak mengeluh.

Anak laki-laki satu-satunya tidak boleh kalah oleh hal-hal kecil.

Bapak tidak pernah mengucapkannya sekaligus. Ia bukan orang yang suka memberi pidato. Namun sepanjang masa kecil Rendra, kalimat-kalimat itu jatuh sedikit demi sedikit, seperti paku yang ditancapkan pelan-pelan pada kayu.

Ketika Rendra menangis karena jatuh dari sepeda, Bapak berkata, “Bangun dulu. Lihat, berdarahnya sedikit.”

Ketika ia pulang dengan nilai matematika yang turun, Bapak berkata, “Kalau tidak bisa, belajar lagi. Jangan cuma menyesal.”

Ketika ia kalah lomba renang antar sekolah dan menolak keluar kamar, Bapak mengetuk pintu sekali, lalu berkata dari luar, “Laki-laki kalah itu biasa. Yang tidak biasa kalau sembunyi.”

Bapak mungkin bermaksud mendidik. Rendra menerimanya sebagai bukti bahwa rasa sakitnya tidak pernah cukup penting untuk ditunggu.

Radio di pinggangnya berbunyi.

“Ren, dicari supervisor.”

Rendra menekan tombol. “On my way.”

Ia berjalan menuju ruang kontrol. Di sepanjang tangga besi, angin memukul sisi tubuhnya cukup keras. Di bawah, laut bergerak seperti sesuatu yang hidup dan tidak peduli. Rendra sering berpikir, dunia mungkin memang begitu. Terus bergerak tanpa menunggu seseorang siap.

Mungkin Bapak benar soal itu.

Pikiran itu selalu membuatnya kesal.

Ruang kontrol lebih dingin daripada area luar. AC bekerja terlalu keras, membuat keringat di leher Rendra cepat berubah menjadi dingin. Supervisor-nya, Pak Aryo, duduk di depan meja dengan laptop terbuka dan gelas kopi hitam di sampingnya.

“Ren,” panggil Pak Aryo tanpa menoleh. “Kamu minta tukar jadwal?”

Rendra berhenti di ambang pintu. “Iya, Pak.”

“Keluarga?”

“Ibu kurang sehat.”

Baru setelah kalimat itu keluar, Rendra menyadari betapa kecilnya kalimat tersebut dibandingkan rasa yang bergerak di dalam dirinya.

Ibu kurang sehat.

Seolah itu cukup menjelaskan suara Ibu yang lebih pelan. Seolah cukup menjelaskan pesan Raina yang terdengar panik meski hanya berupa teks. Seolah cukup menjelaskan sesuatu yang sejak kemarin duduk di dasar perutnya dan tidak mau pergi.

Pak Aryo akhirnya menoleh. Usianya mungkin mendekati lima puluh, dengan wajah orang yang terlalu sering melihat anak buah berpura-pura baik-baik saja.

“Sakitnya serius?”

“Belum tahu. Ibu bilang cuma capek.”

“Biasanya kalau ibu bilang cuma capek, anaknya yang harus curiga.”

Rendra tidak menjawab.

Pak Aryo mengetik sesuatu di laptop. “Jadwal kamu masih tiga hari lagi. Kalau mau pulang lebih cepat, harus ada yang cover. Dimas bisa?”

“Dimas bilang bisa ambil dua hari, tapi sisanya belum.”

“Coba nanti saya cek. Kalau memang keluarga, pulang saja.”

Rendra mengangguk. “Terima kasih, Pak.”

“Jangan terima kasih dulu. Belum tentu gampang.”

“Iya.”

Pak Aryo menatapnya sebentar. “Kamu dekat sama ibu?”

Pertanyaan itu sederhana. Jawabannya seharusnya juga sederhana.

Rendra dekat dengan Ibu dalam cara yang tidak pernah terlalu banyak dibicarakan. Ibu adalah orang yang tahu ia tidak suka daun bawang, tapi tidak pernah mengumumkannya di meja makan. Orang yang menyelipkan uang tambahan di tasnya saat ia pertama kali merantau kuliah, lalu pura-pura lupa ketika Rendra mengembalikannya. Orang yang mengirim pesan, “Makan yang benar,” tanpa membuatnya merasa sedang diperintah. Ibu tidak membuat rumah selalu mudah, tetapi ia membuat rumah masih mungkin disebut rumah.

“Dekat,” jawab Rendra akhirnya.

“Ya sudah. Nanti saya usahakan.”

Rendra keluar dari ruang kontrol dengan kepala lebih penuh daripada saat ia masuk. Di luar, ponselnya bergetar. Sinyal di area itu kadang timbul-tenggelam seperti niat seseorang untuk pulang. Pesan dari grup 3R masuk terlambat beberapa menit.

Renata: Aku pulang Jumat malam. Sampai Jakarta sekitar jam 10.

Raina: Oke Kak. Aku Jumat pulang duluan ke Japos.

Lalu pesan dari Renata lagi:

Ibu pengen kita lengkap.

Rendra menatap kalimat itu.

Lengkap.

Lihat selengkapnya