Raina selalu tahu jarak dari kosnya ke rumah. Bukan dalam angka yang tepat, karena angka kadang terlalu jujur dan ia sedang tidak membutuhkan kejujuran semacam itu. Namun ia tahu kira-kira berapa lama jika jalanan baik hati. Ia tahu berapa lama jika hujan turun di jam pulang kantor. Ia tahu titik mana yang biasanya macet, lampu merah mana yang terasa lebih lama dari seharusnya, dan simpang mana yang membuatnya sering berpikir untuk memutar balik saja.
Dari Benhil ke Japos bukan perjalanan antarnegara. Bukan pula perjalanan yang melintasi laut seperti hidup Rendra sekarang. Tidak ada imigrasi. Tidak ada tiket pesawat. Tidak ada jadwal crew change. Tidak ada alasan besar yang terdengar masuk akal ketika diucapkan di depan keluarga. Hanya Jakarta, Tangerang Selatan, macet, lelah, dan satu kalimat yang selalu menunggu di ujungnya:
Kamu kan paling dekat.
Kalimat itu tidak selalu diucapkan dengan nada menuduh. Kadang muncul sebagai candaan. Kadang sebagai permintaan tolong. Kadang sebagai fakta yang terdengar biasa saja. Tetapi bagi Raina, kata-kata itu lama-lama menjadi semacam tali kecil yang diikatkan di pergelangan kakinya. Tidak benar-benar kencang. Tapi cukup untuk mengingatkan bahwa sejauh apa pun ia berjalan, rumah selalu merasa punya hak untuk memanggilnya pulang lebih dulu.
Sore itu, Raina duduk di kursi kerjanya dengan punggung yang mulai pegal dan mata yang terasa kering. Di layar laptopnya, dashboard penjualan bulanan terbuka dalam beberapa tab. Ada grafik yang harus diperbarui, query yang belum selesai berjalan, dan file Excel dari tim bisnis yang nama kolomnya tidak konsisten.
Sebagai junior data analyst, Raina belajar bahwa hidup sering kali tidak kacau karena datanya terlalu banyak, melainkan karena semua orang merasa cara mereka menulis data sudah paling benar.
“Rain, angka retention minggu lalu sudah final?” tanya Niko dari meja sebelah.
Raina tidak langsung menjawab. Ia masih menatap pesan di grup 3R.
Renata: Aku pulang Jumat malam. Sampai Jakarta sekitar jam 10.
Rendra: Aku bisa pulang. Sabtu sampai Jakarta.
Kalimat-kalimat itu seharusnya membuatnya lega.
Akhirnya bukan hanya dia.
Akhirnya bukan Raina yang harus menjelaskan semuanya sendirian kepada Ibu. Bukan Raina yang harus membaca wajah Bapak lebih dulu. Bukan Raina yang harus datang dengan rasa bersalah yang terlalu penuh sampai ia tidak tahu harus meletakkannya di mana.
Namun bersama kelegaan itu, ada rasa lain yang diam-diam muncul.
Renata pulang dari Singapura dan itu akan menjadi sebuah peristiwa. Rendra pulang dari offshore dan itu akan menjadi usaha. Sementara Raina pulang dari Jakarta, dan itu akan dianggap sudah seharusnya.
“Rain?”
Raina tersentak. “Hah?”
“Retention minggu lalu,” ulang Niko. “Sudah final belum?”
“Oh. Belum. Masih ada data refund yang belum masuk.”
“Bisa malam ini?”
Raina menatapnya.
Niko mengangkat kedua tangan. “Bukan gue yang minta. Mas Arman.”
Tentu saja.
Di kantor itu, banyak hal datang bukan dari orang yang mengucapkan, melainkan dari nama yang dibawa di belakangnya. Mas Arman minta. Tim bisnis butuh. Founder mau lihat. Investor meeting. Deck besok pagi. Data harus hari ini.
Raina mengusap wajah dengan kedua tangan. “Aku usahain.”
Begitu kalimat itu keluar, ia merasa kesal pada dirinya sendiri.
Usahain.
Kata itu seperti penyakit keluarga. Semua orang memakainya ketika ingin terdengar tidak berjanji, padahal diam-diam tahu orang lain akan tetap berharap.
Niko kembali ke mejanya. Raina menatap layar lagi, mencoba mengingat bagian mana yang terakhir ia kerjakan. Angka-angka bergerak di depannya, tetapi pikirannya sudah berada di tempat lain.
Di rumah Japos, Ibu mungkin sedang duduk di kursi rotan dekat jendela. Bapak mungkin sedang mencatat sesuatu dengan pulpen hitam. Obat, tekanan darah, jam makan, atau entah apa lagi yang menurut Bapak perlu diselamatkan dari kemungkinan lupa.
Raina dulu menganggap kebiasaan itu lucu. Sekarang, setelah suara Ibu di telepon terdengar lebih tipis dari biasanya, kebiasaan itu terasa menakutkan.
Ia membuka chat pribadi dengan Ibu.
Pesan terakhir dari Ibu dikirim kemarin malam.
Ibu: Jangan lupa makan. Kalau pulang Jumat, kabari Ibu ya.
Raina belum membalas. Bukan karena ia lupa. Justru karena setiap kali hendak menjawab, ia merasa jawabannya terlalu kecil untuk menebus semua ketidakhadirannya.
Ia mengetik:
Aku pulang Jumat malam ya, Bu. Mungkin agak malam karena kerjaan.
Lalu ia menghapus kata “mungkin”.
Mengetik lagi:
Aku pulang Jumat malam ya, Bu. Habis kerja aku langsung ke rumah.
Ia menatap kalimat itu sebentar, kemudian mengirimnya sebelum sempat mencari alasan lain.
Balasan Ibu datang hampir langsung.
Ibu: Jangan buru-buru kalau capek. Hati-hati di jalan.
Raina memandang layar.
Ia ingin menangis, tetapi kantor bukan tempat yang baik untuk menangis. Terlalu banyak kaca. Terlalu banyak orang berpura-pura produktif. Terlalu banyak kemungkinan seseorang menepuk bahunya dan bertanya, “Kamu oke?” dengan nada yang membuat jawaban tidak jujur terdengar lebih sopan.
Ia meletakkan ponsel terbalik di meja.
“Rain,” panggil suara lain.
Kali ini Mas Arman berdiri di belakangnya, membawa tumbler kopi dan wajah orang yang tidak pernah benar-benar merasa permintaannya merepotkan.
“Bisa ke ruang meeting sebentar?”
Raina menelan napas. “Bisa, Mas.”
“Sebentar aja.”
Di kantor itu, kata sebentar hampir selalu berarti lebih lama daripada yang dijanjikan.
Mereka pindah ke ruang meeting kecil yang dinding kacanya ditempeli stiker buram setengah badan. Di dalam, AC terlalu dingin dan kursinya terlalu rendah. Mas Arman membuka laptop, lalu memutar layar ke arah Raina.
“Ini angka active user kok beda sama deck minggu lalu?”
“Karena definisinya beda, Mas. Minggu lalu pakai login activity. Yang ini pakai completed transaction.”
“Lho, harusnya sama dong.”
“Justru karena metriknya beda, hasilnya nggak bisa sama.”
Mas Arman mengernyit. “Tapi kalau kelihatan turun, nanti jadi pertanyaan.”
Raina menatap grafik di layar. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, sebagian teknis, sebagian tidak. Bahwa data bukan hiasan. Bahwa angka tidak bisa dibuat lebih manis hanya karena seseorang takut ditanya. Bahwa kalau definisi diganti diam-diam, yang berubah bukan performa, melainkan cerita yang ingin dijual.
Namun ia hanya berkata, “Aku bisa tambahkan note metodologinya.”
“Jangan terlalu panjang. Nanti orang jadi fokus ke situ.”
“Kalau nggak dijelaskan, nanti misleading.”
Mas Arman menyandarkan punggung. “Rain, aku ngerti kamu anak data. Tapi kita juga harus mikir komunikasi bisnisnya.”
Kalimat itu membuat Raina tersenyum sedikit, bukan karena lucu, melainkan karena lelah.
Anak data.
Anak bungsu.
Anak paling dimanja.
Anak yang paling dekat.
Seolah hidupnya selalu lebih mudah dipanggil dengan label daripada benar-benar dilihat.
“Aku rapikan malam ini,” katanya akhirnya.
Mas Arman tersenyum lega. “Nah. Thanks ya. Bisa banget kan sebenarnya.”
Raina mengangguk.
Bisa banget.
Ia sering mendengar kalimat itu. Di kantor, kalimat itu berarti orang lain senang karena ia tidak menolak. Di rumah, kalimat itu berarti ia tidak punya alasan untuk tidak membantu. Lama-lama, Raina tidak tahu lagi apakah kemampuannya adalah sesuatu yang ia banggakan atau sesuatu yang membuat orang lain semakin mudah menaruh beban di tangannya.
Setelah meeting selesai, ia kembali ke meja. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Beberapa orang mulai pulang, beberapa lainnya memesan makan malam. Lampu gedung-gedung Jakarta Pusat menyala di luar jendela. Dari lantai tempat kantornya berada, kota tampak seperti sesuatu yang sibuk tapi tidak bahagia.
Raina membuka laptop lagi.
Ia bekerja sampai angka-angka di layar mulai kehilangan bentuk.
Pukul sembilan, Niko menoleh. “Lu belum pulang?”
“Sebentar lagi.”
“Nanti balik kos?”
Raina menggeleng. “Ke rumah orang tua.”
“Oh, jauh?”