Pagi di rumah Japos tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan sebelum orang-orangnya bangun, rumah itu sudah lebih dulu hidup oleh suara yang kecil-kecil: air menetes dari keran belakang yang tidak pernah tertutup sempurna, daun mangga jatuh di halaman, motor tetangga dipanaskan terlalu lama, dan suara gerobak roti melewati gang dengan bunyi yang sama sejak Renata, Rendra, dan Raina masih percaya bahwa roti cokelat dari gerobak keliling adalah salah satu hal terbaik di dunia.
Sabtu itu, rumah Bapak dan Ibu bangun dengan dua anak perempuan di dalamnya.
Raina tidur di kamar lamanya, masih dengan pakaian rumah yang ia ambil asal dari lemari semalam. Ia baru benar-benar tidur lewat pukul dua, setelah mandi, membalas beberapa pesan kantor, lalu terbaring lama sambil mendengarkan batuk Ibu dari ruang tengah dan langkah Bapak yang beberapa kali bolak-balik menuju dapur.
Renata tiba lebih lambat dari yang direncanakan. Penerbangannya mendarat hampir tengah malam. Antrean imigrasi, bagasi, taksi, dan jalanan yang masih cukup ramai membuatnya baru sampai di rumah lewat pukul dua dini hari. Raina sempat tertidur sebentar ketika suara pagar dibuka membangunkannya. Bapak yang membukakan pagar. Bukan Raina. Bukan Ibu. Tentu saja Bapak.
Renata keluar dari mobil dengan koper kecil, blazer yang sudah dilepas dan digantung di lengan, serta wajah yang tampak tetap rapi meski matanya lelah. Di bawah lampu teras yang agak kekuningan, ia terlihat seperti seseorang yang datang dari kota lain, hidup lain, mungkin bahkan keluarga lain.
“Pak,” katanya pelan.
Bapak mengambil koper dari tangannya.
“Berat?” tanyanya.
“Enggak. Aku bisa.”
Namun Bapak sudah lebih dulu menarik koper itu melewati ambang pagar. Renata tidak membantah. Mungkin karena terlalu lelah. Mungkin karena sudah tahu bahwa beberapa bentuk perhatian Bapak memang tidak memberi ruang untuk ditolak.
Ibu belum tidur malam itu. Ia menunggu di kursi rotan dekat jendela dengan selimut di pangkuan dan mata yang terang oleh rindu. Ketika Renata masuk, perempuan itu membuka tangan.
“Renata.”
Panggilan itu membuat Renata berhenti satu detik lebih lama daripada seharusnya. Bukan “Ren”. Bukan “Kak”. Bukan “anak Ibu”. Namanya, dengan suara Ibu yang lelah, jatuh seperti sesuatu yang disimpan terlalu lama.
Renata berlutut di depan kursi rotan dan memeluk ibunya.
“Ibu kok belum tidur?” Bisiknya.
“Anak Ibu pulang masa Ibu tidur?”
Raina yang berdiri di dekat sofa mendengar kalimat yang sama beberapa jam sebelumnya. Ia hampir tersenyum, tetapi senyumnya patah ketika melihat tangan Renata mengerat di punggung Ibu, hati-hati sekali, seperti sedang memeluk sesuatu yang mudah pecah.
Malam itu, tidak banyak yang mereka bicarakan. Bapak meminta Renata mandi, Ibu meminta Renata makan sedikit, Raina memanaskan sisa sayur, dan rumah menerima satu koper lagi di dekat kamar depan. Menjelang pukul tiga, lampu-lampu akhirnya dipadamkan. Dan keesokan harinya, pagi tetap datang seperti biasa.
Ketika Raina keluar kamar pukul tujuh lewat, ia mendapati Renata sudah duduk di meja makan dengan segelas air putih dan ponsel di tangan. Rambutnya sudah disisir. Wajahnya bersih. Ia memakai kaus putih polos dan celana kain longgar, pakaian yang tampaknya santai tetapi tetap terlihat dipilih dengan sadar. Raina, sebaliknya, masih memakai kaus tidur lama dan rambut yang diikat asal.
“Kakak tidur berapa jam?” tanya Raina sambil menguap.
Renata menoleh. “Tiga, mungkin.”
“Terus sudah bangun serapi ini?”
“Ini nggak rapi.”
“Standar kita beda.”
Renata tersenyum kecil.
Di dapur, terdengar suara Bapak membuka-tutup lemari. Aroma nasi hangat dan telur dadar mulai memenuhi ruangan. Ibu belum keluar dari kamar. Setelah subuh, Bapak meminta istrinya pindah sebentar ke kamar untuk tidur lebih nyaman. Permintaan itu lebih terdengar seperti instruksi, dan Ibu, mungkin karena terlalu lelah, menurut tanpa protes panjang.
Raina berjalan ke dapur. “Pak, aku bantu.”
Bapak sedang memotong timun.
“Ambil piring.”
Raina berhenti sebentar, hampir tertawa. Tidak ada ucapan “tidak usah” pagi itu. Mungkin Bapak terlalu sibuk. Mungkin kehadiran dua anak membuatnya lupa memperlakukan Raina seperti anak yang baru pulang kerja. Atau mungkin Bapak memang hanya memberi tugas yang menurutnya aman.
Raina mengambil piring dari rak.
Renata menyusul ke dapur. “Aku bisa bantu apa?”
Bapak menoleh sebentar. “Duduk saja. Baru sampai.”
“Aku nggak sakit, Pak.”
“Bapak tidak bilang kamu sakit.”
“Berarti aku bisa bantu.”
Bapak diam, lalu menunjuk kompor. “Aduk sayur. Jangan sampai mendidih lagi.”
Renata mengambil sendok sayur.
Untuk beberapa saat, dapur itu berisi tiga orang yang tidak sepenuhnya tahu cara bekerja bersama. Bapak bergerak dengan urutan yang sudah ia pahami. Raina mengambil piring, gelas, dan sendok. Renata mengaduk sayur terlalu hati-hati, seolah sup bening itu bagian dari presentasi penting.
“Jangan diaduk terus,” kata Bapak.
Renata berhenti. “Katanya disuruh aduk.”
“Sesekali.”
“Bapak bilang aduk.”
“Bukan berarti terus.”
Raina menahan tawa.
Renata meliriknya. “Jangan ketawa.”
“Aku nggak ketawa.”
“Mukamu ketawa.”
Raina akhirnya tertawa kecil.
Dari kamar, suara Ibu terdengar, pelan tapi jelas. “Ribut apa pagi-pagi?”
Raina segera keluar dari dapur. “Ibu sudah bangun?”
Ibu muncul di ambang kamar dengan cardigan tipis dan rambut yang sudah disisir seadanya. Tubuhnya tampak kecil di antara kusen pintu. Renata langsung meletakkan sendok sayur dan berjalan mendekat.
“Bu, kok bangun?”
“Lapar.”
“Bilang aja harusnya, nanti biar aku ambilkan.”
Ibu tersenyum. “Baru pulang sudah mau mengatur Ibu?”
Renata terdiam, lalu tersenyum kikuk. “Bukan mengatur.”
“Anak Bapak semua,” kata Ibu sambil berjalan pelan ke arah meja makan. “Kalau khawatir, nadanya jadi seperti instruksi.”
Bapak pura-pura tidak mendengar.
Pagi itu, meja makan terisi empat orang. Satu kursi masih kosong. Kursi Rendra. Tidak ada yang langsung menyebutnya, tetapi semua orang melihatnya. Kursi itu berada di sisi meja yang menghadap dapur. Dulu, Rendra selalu duduk di sana karena dekat dengan nasi dan lauk. Saat kecil ia makan paling banyak, paling cepat, dan paling sering ditegur Ibu karena mengunyah sambil bicara. Sekarang kursi itu masih kosong, dan kekosongannya terasa seperti seseorang yang terlambat masuk ke dalam foto keluarga.
“Rendra jam berapa sampai?” tanya Ibu akhirnya.
Raina menjawab sambil membuka ponsel. “Katanya landing sekitar jam dua. Tapi dari bandara ke sini mungkin sore.”
“Dia dari mana dulu?” tanya Renata.
“Dari Batam transit Jakarta,” jawab Raina. “Atau dari Pekanbaru, ya? Aku lupa. Pokoknya ribet.”
Bapak meletakkan semangkuk sayur di tengah meja. “Dia bilang nanti dikabari kalau sudah di jalan.”
Renata menatap Bapak sekilas. “Bapak sudah chat Bang Rendra?”
“Semalam.”
“Dia balas?”
“Balas.”
“Apa katanya?”
“Katanya iya.”
Raina mengambil telur dadar. “Percakapan Bapak sama Bang Rendra hemat banget ya.”
“Yang penting jelas,” kata Bapak.
Renata hampir tersenyum, tetapi wajahnya berubah ketika Ibu terbatuk. Batuk itu tidak panjang, tetapi cukup untuk membuat sendok Raina berhenti di udara dan Bapak segera berdiri mengambil air. Renata menatap ibunya dengan tubuh menegang.
Ibu menerima gelas dari Bapak. “Tidak apa-apa.”
“Bu,” kata Renata pelan.
“Tidak apa-apa,” ulang Ibu, kali ini dengan senyum.
Bapak tidak duduk sampai Ibu minum beberapa teguk. Raina memperhatikan Bapak. Gerakannya cepat, tetapi tidak panik. Seolah tubuh Bapak sudah hafal kapan harus berdiri, ke mana tangan harus meraih, berapa banyak air yang perlu dituang, dan bagaimana menunggu tanpa membuat Ibu merasa diawasi.
Renata juga melihatnya. Untuk sesaat, dua kakak-beradik itu tidak saling bicara, tetapi mata mereka bertemu di atas meja. Ada pertanyaan yang sama di sana: sejak kapan Ibu seperti ini? Atau lebih jujur lagi: sudah berapa lama mereka tidak ada di rumah untuk melihatnya?
Sarapan berlanjut dengan suara yang lebih hati-hati.
Raina bercerita sedikit tentang kantor. Tentang data yang berantakan, atasan yang meminta grafik terlihat “lebih optimistis”, dan Niko yang hampir salah mengirim file ke klien. Ibu mendengarkan dengan senyum kecil, meski mungkin tidak sepenuhnya memahami pekerjaan Raina. Renata sesekali bertanya istilah teknis, lalu Raina menjawab dengan semangat kecil yang jarang muncul jika ia merasa sedang dihakimi.
“Jadi kerja kamu itu lihat angka terus?” tanya Ibu.
“Kurang lebih, Bu.”
“Matanya nggak capek?”
“Capek.”
“Makanya jangan dekat-dekat layar.”
Raina tertawa. “Kalau jauh-jauh nggak kelihatan, Bu.”
Bapak berkata dari ujung meja, “Pakai kacamata anti radiasi.”
Raina menoleh. “Pak, itu mitos atau beneran sih?”
“Bapak baca katanya membantu.”
“Baca di mana?”