Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #6

Meja Makan yang Terlalu Kecil

Malam itu, meja makan terasa lebih kecil daripada biasanya. Bukan karena ukurannya berubah. Meja itu masih meja yang sama, meja kayu tua dengan permukaan yang sudah beberapa kali dilapisi taplak berbeda, sudut kanan yang sedikit terkelupas, dan satu kaki yang pernah diganjal karton lipat karena tidak lagi sepenuhnya rata. Namun lima orang dewasa di sekelilingnya membuat meja itu tampak seperti benda dari masa lalu yang dipaksa menampung tubuh-tubuh baru.

Dulu, meja itu cukup untuk mereka berlima. Renata duduk dengan kaki yang belum menyentuh lantai. Rendra sering menendang kursi tanpa sengaja. Raina memakai kursi tambahan dengan bantal karena tubuhnya masih terlalu kecil. Ibu mondar-mandir dari dapur membawa lauk. Bapak duduk di ujung meja, sesekali menegur Rendra agar tidak mengambil ayam sebelum semua orang mendapat bagian.

Sekarang, Renata membawa aroma sabun hotel dan pelembap mahal yang samar. Rendra membawa bau matahari, besi, dan perjalanan jauh. Raina membawa lelah kantor yang masih tertinggal di bahunya. Ibu membawa sakit yang disembunyikan di balik senyum. Bapak membawa diam yang tidak berubah, tetapi terasa lebih padat karena semua orang sedang memperhatikannya.

Di atas meja ada nasi hangat, sayur bening, ayam kecap yang dimasak Bapak dengan bumbu terlalu sederhana, tahu goreng, sambal, dan sepiring kecil timun kupas.

Raina menatap piring timun itu.

“Pak,” katanya, “ini jangan-jangan sengaja buat aku lagi?”

Bapak mengambil tempat duduk di ujung meja. “Timun memang untuk dimakan.”

“Bukan itu maksudku.”

“Kalau mau dimakan, makan. Kalau tidak, jangan.”

Rendra mengambil sepotong timun. “Aku makan aja deh.”

“Itu kulitnya sudah dikupasin,” kata Renata.

Rendra mengunyah, lalu menoleh pada Raina dengan wajah dibuat serius. “Ternyata rasanya lebih manja.”

Raina melempar tatapan tajam. “Bang.”

“Apa? Aku sedang apresiasi.”

“Mulai ya.”

“Baru juga pulang,” kata Ibu dari kursinya.

Rendra langsung menunduk sedikit. “Iya, Bu. Maaf.”

Renata tersenyum kecil. “Cepat sekali jinaknya kalau Ibu yang negur.”

“Kalau Kak Renata yang negur, aku anggap background noise.”

“Bagus. Baru lima menit lengkap, sudah kurang ajar.”

Raina tertawa.

Ibu ikut tertawa, tetapi tawanya cepat berubah menjadi batuk kecil. Tidak panjang. Tidak keras. Namun cukup untuk membuat tawa di meja makan berhenti seperti lampu yang tiba-tiba padam.

Bapak langsung mengulurkan gelas.

“Minum dulu, Bu.”

Ibu menerima gelas itu dengan senyum yang terlalu siap. “Tidak apa-apa.”

“Minum.”

“Iya, Pak.”

Anak-anak melihat pertukaran kecil itu dalam diam. Bapak tidak menyentuh bahu Ibu. Tidak bertanya dengan suara cemas. Tidak menunjukkan wajah panik. Ia hanya memastikan gelas itu sampai ke tangan Ibu dan menunggu sampai beberapa teguk air benar-benar diminum. Renata memperhatikan cara Bapak menunggu. Raina memperhatikan cara Ibu pura-pura tidak ditunggu. Rendra memperhatikan keduanya, lalu menunduk ke piringnya.

Di rumah itu, banyak hal tidak disebutkan dengan nama yang sebenarnya. Khawatir menjadi “minum dulu”. Rindu menjadi “sudah makan?”. Marah menjadi “terserah”. Sakit menjadi “tidak apa-apa”. Dan malam itu, semua orang di meja makan tampaknya sedang sepakat untuk tidak membuka kamusnya terlalu cepat.

“Rendra,” kata Ibu setelah meletakkan gelas. “Kerja di sana makanmu bener?”

Rendra mengangguk. “Bener kok, Bu.”

“Jangan cuma mi instan.”

“Di offshore makanannya disediain.”

“Enak?”

“Lumayan.”

“Lumayan itu berarti tidak enak, tapi kamu tidak mau Ibu khawatir.”

Rendra tertawa kecil. “Lebih enak masakan Ibu.”

“Masakan Bapak malam ini,” kata Raina.

Rendra menatap ayam kecap di piringnya, lalu menatap Bapak. “Oh.”

Bapak mengangkat wajah sedikit. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa, Pak. Pantes sederhana.”

Raina hampir tersedak.

Renata menutup mulutnya dengan punggung tangan.

Ibu menatap Rendra sambil berusaha tidak tertawa terlalu keras. “Baru pulang sudah cari perkara.”

Rendra buru-buru menambahkan, “Maksudku sederhana yang enak. Minimalis. Kayak desain Jepang.”

“Jangan banyak alasan,” kata Bapak.

Namun wajah Bapak tidak sepenuhnya keras. Ada sesuatu yang nyaris menjadi senyum, tetapi berhenti sebelum bisa dibuktikan.

Renata melihatnya. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia duduk semeja dengan Bapak cukup lama untuk menangkap ekspresi sekecil itu. Mungkin dulu sering ada, hanya saja ia terlalu sibuk merasa tidak dipahami untuk memperhatikannya. Atau mungkin itu pikiran yang terlalu baik untuk diberikan malam itu.

“Renata,” kata Ibu, mengalihkan perhatian. “Kamu di Singapura makan apa biasanya?”

Pertanyaan itu membuat Renata hampir tertawa. “Makan biasa, Bu.”

“Biasa itu apa?”

“Ya... salad, nasi, ayam, sup, kadang beli makanan Indonesia juga.”

“Masak sendiri?”

“Kadang.”

“Kadang itu berapa kali?”

Raina menoleh pada Renata. “Hati-hati, Kak. Ini audit.”

Renata tersenyum. “Seminggu dua-tiga kali.”

Ibu tampak cukup puas. “Bagus. Jangan karena tinggal sendiri terus makan asal.”

Kata tinggal sendiri membuat Rendra dan Raina sama-sama menunduk ke piring, seolah ada sesuatu yang tiba-tiba menarik perhatian mereka di sana.

Renata menyadarinya. Ia selalu menyadari perubahan kecil ketika percakapan mendekati wilayah itu. Selama bertahun-tahun, tubuhnya belajar lebih cepat daripada pikirannya. Begitu kata sendiri muncul, ia menyiapkan pertahanan bahkan sebelum ada yang menyerang.

Ibu mengambil tahu goreng. “Di sana ada teman yang sering makan bareng?”

Renata meletakkan sendok. “Ada, Bu. Teman kantor.”

“Teman dekat?”

Raina mengangkat wajah sedikit.

Rendra berhenti mengunyah.

Bapak tetap makan, tetapi gerak tangannya melambat.

Renata menatap Ibu. “Teman dekat gimana maksudnya?”

“Ibu cuma tanya.”

“Kalau teman, ada. Kalau yang Ibu maksud pasangan, belum.”

Ibu diam sebentar. “Ibu tidak bilang pasangan.”

“Tapi biasanya ke sana.”

Kalimat itu turun ke meja makan seperti sendok yang jatuh, tidak keras benar, tetapi cukup membuat semua orang melihat.

Ibu menunduk. “Ibu cuma ingin tahu kamu tidak kesepian.”

“Aku tidak kesepian.”

Jawaban Renata terlalu cepat.

Rendra mengambil air minum, mungkin agar punya alasan untuk tidak melihat siapa pun. Raina menggigit bibir. Ia tahu nada itu. Nada Renata ketika sesuatu di dalam dirinya sudah berdiri tegak dengan sepatu hak tinggi, siap menghadapi komentar yang bahkan belum keluar sepenuhnya.

“Ibu percaya,” kata Ibu pelan.

Masalahnya, Renata tidak terdengar seperti percaya bahwa Ibu percaya.

“Aku baik-baik saja, Bu,” katanya.

“Iya.”

“Aku punya teman. Kerjaan juga baik. Aku tahu cara urus diri.”

“Ibu tahu.”

“Terus kenapa selalu terdengar seperti aku kurang?”

Tidak ada yang langsung menjawab.

Bapak meletakkan sendok.

“Renata Prawula,” katanya.

Bukan keras. Namun nama itu membuat udara berubah. Bapak jarang memakai nama lengkap ketika suasana baik-baik saja. Biasanya ia memakai “Kakak” bila bicara di depan adik-adiknya, atau langsung memberi instruksi tanpa memanggil. Nama lengkap dari mulut Bapak sering datang ketika ia ingin menghentikan sesuatu.

Renata menoleh. “Apa, Pak?”

Bapak menatapnya dengan wajah yang sulit dibaca. “Ibu sedang makan.”

Lihat selengkapnya