Pagi setelah rumah itu kembali lengkap, tidak ada yang bangun pada waktu yang sama. Ibu bangun paling pagi, tetapi tidak langsung keluar kamar. Bapak melarangnya dengan cara yang tidak terdengar seperti larangan, melainkan seperti susunan fakta yang menurutnya tidak perlu diperdebatkan.
“Udara pagi masih dingin, Bu.”
“Ibu cuma mau ke dapur.”
“Nanti.”
“Mau lihat anak-anak.”
“Mereka masih tidur.”
“Kalau begitu Ibu juga tidak mengganggu siapa-siapa.”
“Obat dulu.”
Ibu menatap Bapak yang sudah berdiri di sisi tempat tidur dengan kotak pil dan gelas air hangat. Rambut laki-laki itu belum disisir. Kausnya agak kusut. Namun kotak obat sudah dibuka sesuai hari, jam, dan urutan yang tepat.
Dulu, saat anak-anak masih kecil, Ibu sering mengeluh bahwa Bapak terlalu kaku. Terlalu banyak mengatur. Terlalu yakin bahwa dunia akan lebih baik bila semua benda punya tempat dan semua urusan punya catatan.
Tetapi pagi itu, ketika tubuhnya sendiri terasa seperti sesuatu yang tidak lagi bisa ia atur sesuka hati, kekakuan Bapak terasa seperti pagar pendek di tepi jalan. Tidak selalu indah, tetapi membuatnya sedikit lebih aman.
“Iya, Pak,” katanya akhirnya.
Bapak menyerahkan obat.
Di luar kamar, rumah masih pelan. Renata baru keluar sekitar pukul delapan. Ia sudah mandi, rambutnya setengah basah, wajahnya segar meski semalam tidur tidak terlalu nyenyak. Raina menyusul beberapa menit kemudian dengan mata sembap dan rambut diikat asal. Rendra keluar paling akhir, memakai kaus yang agak kusut, berjalan sambil menguap, lalu berhenti di ambang ruang tengah seolah masih menimbang apakah benar ia berada di rumah yang sama dengan masa kecilnya.
“Bangun juga akhirnya,” kata Raina dari sofa.
Rendra menggaruk kepala. “Ini masih pagi.”
“Jam delapan lewat.”
“Bagi orang yang kemarin dari laut ke bandara ke Japos, ini subuh.”
Renata yang sedang menuang air putih menoleh. “Drama sekali.”
“Anak Singapura tidak boleh komentar. Kakak tidur di pesawat.”
“Aku tidak tidur.”
“Berarti salah sendiri.”
Raina tertawa kecil.
Dari dapur, Bapak muncul membawa piring berisi roti panggang. “Sarapan dulu.”
Rendra menatap roti itu. “Pak, ada nasi?”
“Ada.”
“Syukurlah.”
“Roti untuk Ibu.”
“Oh.”
“Untuk kamu ada nasi goreng.”
Wajah Rendra sedikit berubah, cepat sekali, hampir tidak tertangkap.
“Bapak masak nasi goreng?” tanya Raina.
“Tidak. Sisa nasi semalam Bapak goreng.”
“Itu namanya masak, Pak.”
“Kalau definisimu begitu.”
Renata mengambil piring dari rak. “Bapak kayaknya harus berhenti merendahkan karya sendiri.”
“Ini nasi goreng, bukan karya.”
“Bisa jadi karya kalau rasanya enak.”
Rendra duduk di meja makan. “Kalau hambar lagi, aku jujur ya.”
Bapak menatapnya.
Rendra langsung mengangkat tangan. “Bercanda.”
“Rendra Prawula.”
Nama itu membuat dapur kecil berhenti sebentar. Bukan karena Bapak mengatakannya keras. Justru karena ia mengatakannya pelan. Datar, tetapi penuh tanda baca. Ada cara tertentu ketika Bapak menyebut nama lengkap salah satu anaknya: bukan marah besar, bukan ancaman, bukan pula teguran yang membuat orang ingin melawan. Lebih seperti tangan yang diletakkan di bahu sebelum seseorang berjalan terlalu jauh.
Rendra langsung menunduk sedikit, tetapi senyumnya masih ada.
“Iya, Pak. Maaf. Nasi goreng Bapak pasti enak.”
Raina menatap Renata, menahan tawa. Renata membalas tatapan itu dengan ekspresi yang kurang lebih berarti: jangan mulai. Namun keduanya sama-sama tersenyum. Nama lengkap mereka memang selalu punya efek begitu.
Prawula bukan nama keluarga yang diwariskan dari kakek atau nenek. Bukan nama marga. Bukan pula nama yang bisa ditemukan di pohon keluarga panjang. Nama itu diciptakan Bapak dan Ibu sendiri ketika Renata lahir, dari potongan nama mereka berdua: Hendra Prasetya dan Lestari Wulandari.
Pra dari Prasetya.
Wula dari Wulandari.
Dulu, saat Renata kecil bertanya mengapa nama belakangnya tidak sama seperti nama belakang teman-temannya yang kadang panjang, kadang asing, kadang terdengar seperti nama keluarga besar, Ibu menjawab sambil mengancingkan seragam sekolahnya.
“Karena kamu anak Bapak dan Ibu. Jadi namamu membawa kami berdua.”
Renata kecil tidak terlalu paham. Ia hanya senang karena namanya terdengar unik. Rendra pernah protes karena menurutnya Prawula terdengar terlalu lembut untuk anak laki-laki. Bapak hanya berkata, “Nama bukan untuk gaya-gayaan.” Raina, saat SD, sempat menulis nama lengkapnya di semua buku tulis dengan huruf besar-besar. Lalu ia menghiasnya dengan bintang, bunga, dan satu gambar kucing yang lebih mirip kentang.
Selama bertahun-tahun, Prawula menjadi nama yang muncul di rapor, sertifikat lomba, kartu pelajar, ijazah, surat panggilan sekolah, formulir rumah sakit, dan semua tempat yang membuat mereka terlihat resmi. Namun di rumah, nama itu punya fungsi lain. Kalau Ibu menyebut nama lengkap, biasanya artinya salah satu dari mereka benar-benar keterlaluan. Kalau Bapak menyebut nama lengkap, artinya suasana hampir tergelincir dan ia sedang mencoba menahannya dengan cara paling halus yang ia tahu.
“Renata Prawula,” pernah terdengar ketika Renata remaja mulai menaikkan suara pada Ibu.
“Rendra Prawula,” pernah terdengar ketika Rendra membanting pintu terlalu keras.
“Raina Prawula,” pernah terdengar ketika Raina menangis karena tidak mau mengaku telah memecahkan gelas.
Bapak tidak pernah pandai membujuk. Tetapi nama lengkap itu, entah bagaimana, selalu membuat mereka berhenti sebentar. Mungkin karena di dalamnya ada Bapak dan Ibu sekaligus. Mungkin karena ketika dipanggil begitu, mereka diingatkan bahwa sebelum menjadi orang-orang yang sibuk membela diri, mereka pernah menjadi anak-anak yang diberi nama dengan harapan.
Pagi itu, setelah Rendra ditegur dengan nama lengkapnya, suasana dapur kembali bergerak. Raina mengeluarkan piring. Renata menata gelas. Rendra duduk di meja makan dan menerima sepiring nasi goreng dari Bapak dengan ekspresi yang dibuat sangat serius.
Ia menyuap satu sendok.
Raina dan Renata langsung menatapnya.
Bapak pura-pura tidak menunggu.
“Gimana?” tanya Raina.
Rendra mengunyah lebih lama daripada perlu.
Renata menyipitkan mata. “Jangan cari penyakit.”
Rendra menelan. “Enak.”
Bapak mengambil gelas dari rak. “Tidak usah terdengar kaget.”
“Aku nggak kaget, Pak. Aku terharu.”
Bapak hanya terdiam.
“Baik. Aku diam.”
Ibu akhirnya keluar dari kamar ketika sarapan hampir selesai. Scarf krem dari Renata tersampir di bahunya. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya lebih terang melihat meja makan yang kembali dipakai.
“Sudah mulai tanpa Ibu?”
“Bapak yang mulai,” kata Raina.
“Semua salah Bapak,” kata Bapak.
Ibu tersenyum. “Kadang memang.”
Rendra tertawa. “Bu, itu harusnya dibela.”
“Bapak sudah terlalu sering dibela diam-diam.”
Kalimat itu membuat Bapak menoleh. Tidak ada nama yang disebut. Tidak ada penjelasan tambahan. Tetapi tatapan Bapak dan Ibu bertemu sebentar, cukup lama untuk membuat anak-anak merasa mereka baru saja melihat pintu kecil yang biasanya tertutup. Renata menunduk ke piringnya. Raina memperhatikan scarf di bahu Ibu. Rendra menyuap nasi goreng lagi, lebih pelan dari sebelumnya.
Kadang-kadang, anak-anak lupa bahwa sebelum menjadi orang tua, Bapak dan Ibu pernah menjadi dua orang yang memilih satu sama lain. Dua orang yang punya lelucon, rahasia, luka, dan cara sendiri untuk saling memahami. Di mata anak-anak, orang tua sering lahir bersamaan dengan mereka. Seolah Hendra dan Lestari baru ada saat Renata menangis pertama kali di ruang bersalin, lalu setelah itu berubah selamanya menjadi Bapak dan Ibu.
Padahal ada hidup sebelum mereka. Ada nama sebelum Pak dan Bu. Ada cinta sebelum rumah penuh mainan. Dan mungkin, justru karena semua itu terlalu jarang terlihat, setiap kali muncul, anak-anak tidak tahu harus melihat ke mana.
Setelah sarapan, Ibu meminta duduk di ruang tengah. Bapak menyuruhnya istirahat lagi. Ibu menolak. Bapak tidak langsung kalah, tetapi wajah Ibu pagi itu punya tekad yang tenang.
“Sebentar saja, Pak.”
“Sebentar itu berapa lama?”
“Kalau pakai ukuran Bapak, mungkin lima belas menit. Kalau pakai ukuran Ibu, sampai Ibu bosan.”
“Berarti tidak jelas.”
“Kadang hidup memang tidak jelas.”
Bapak menatapnya seperti orang yang mendengar pendapat berbahaya.
Raina tertawa. “Bu, jangan bikin Bapak stres pagi-pagi.”
“Ayo, bantu Ibu duduk di depan.”
Renata segera berdiri. “Aku bantu.”
Bapak ikut bergerak. “Pelan.”
“Pak, aku bisa pegang Ibu.”
“Bapak tidak bilang kamu tidak bisa.”
“Tapi nada Bapak begitu.”
Renata berhenti.
Ia menarik napas.
“Iya, Pak.”
Bapak tidak melanjutkan teguran. Ia hanya memindahkan bantal kecil ke kursi rotan, memastikan posisi kursi tidak terlalu dekat dengan jendela yang terbuka, lalu membiarkan Renata membantu Ibu berjalan.
Raina melihat semua itu sambil berdiri di dekat meja makan. Ada sesuatu yang ganjil sekaligus akrab dari pemandangan itu. Bapak, dengan caranya yang tidak pernah manis, sedang membiarkan Renata mengambil bagian. Renata, dengan caranya yang selalu ingin mampu, sedang belajar tidak menganggap setiap instruksi sebagai tuduhan. Mereka tampak seperti dua orang yang sama-sama ingin menjaga Ibu, tetapi belum tahu cara menjaga tanpa saling menyenggol luka.
Setelah Ibu duduk di kursi rotan, Rendra membawa kipas angin kecil dari sudut ruangan.
“Ini masih hidup?” tanyanya.
“Masih,” kata Bapak.
“Dari aku kecil?”
“Bapak ganti kabelnya.”
Rendra memutar kepala kipas. “Pak, benda-benda di rumah ini pada punya nyawa kedua ya.”
“Kalau masih bisa diperbaiki, jangan dibuang.”