Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #8

Dapur yang Tidak Lagi Dihafal

Ada masa ketika dapur adalah wilayah Ibu sepenuhnya. Bukan karena Bapak tidak boleh masuk. Bapak masih masuk, tentu saja. Untuk mengambil air minum, meletakkan galon, memperbaiki engsel lemari yang longgar, atau berdiri di ambang pintu sambil mengingatkan bahwa gas hampir habis. Tetapi di luar urusan-urusan praktis itu, dapur milik Ibu.

Di sana, Ibu pernah menerima pesanan nasi kotak dari tetangga, membuat kue bolu untuk arisan, menggoreng risol sampai tengah malam, dan menghitung jumlah toples nastar yang harus selesai sebelum Lebaran. Di sana pula Renata pernah belajar mengocok telur sambil membaca buku pelajaran, Rendra mencuri ayam goreng yang belum dihitung jumlahnya, dan Raina duduk di lantai dengan baskom plastik di kepala, mengira dirinya sedang membantu.

Dapur itu tidak besar. Meja keramiknya sudah ada retak kecil di sudut. Rak bumbunya menggantung agak miring. Kompor dua tungku di dekat jendela belakang pernah diganti satu kali, tetapi noda minyak lama tetap seperti punya hak tinggal di dinding. Lemari atas berisi piring tamu yang jarang dipakai. Lemari bawah berisi loyang, cetakan kue, panci besar, dan benda-benda dapur lain yang jumlahnya selalu lebih banyak daripada yang bisa dijelaskan siapa pun.

Namun dulu, dapur itu sanggup menghidupi rumah. Sekarang, setelah Ibu dibawa kembali ke kamar untuk beristirahat, dapur tampak seperti seseorang yang kehilangan pemiliknya.

Renata berdiri di depan rak bumbu dengan tangan bersedekap. Raina duduk di kursi kecil dekat meja keramik sambil memegang name tag lamanya. Rendra bersandar di kusen pintu dapur, memandangi lantai.

Dari kamar, suara Bapak terdengar rendah, tetapi tidak jelas. Mungkin sedang meminta Ibu minum. Mungkin sedang bertanya apakah bantalnya cukup tinggi. Mungkin sedang mengucapkan salah satu kalimat pendek yang hanya bisa dipahami Ibu setelah puluhan tahun menikah.

“Kita harus tanya,” kata Renata akhirnya.

Raina mengangkat wajah. “Sekarang?”

“Kalau bukan sekarang, kapan?”

“Baru saja Ibu drop.”

“Justru karena itu.”

Rendra tidak langsung menimpali. Ia masih menatap lantai, pada satu ubin yang warnanya sedikit lebih gelap dari yang lain. Dulu, ubin itu pernah retak karena ia menjatuhkan panci besar saat kelas enam SD. Bapak tidak marah waktu itu. Atau mungkin marah, tapi terlalu sibuk memastikan kaki Rendra tidak kena pecahan keramik. Anehnya, hal-hal seperti itu lebih mudah diingat ketika seseorang sedang mencoba tidak memikirkan hal lain.

“Bapak pasti punya hasil pemeriksaannya,” kata Renata.

“Pasti,” jawab Raina.

“Di mana?”

“Kalau ini Bapak, mungkin di map plastik, diurutkan tanggal, terus ada label.”

Rendra tertawa pendek. “Akurat.”

Renata menoleh pada Rendra. “Kita minta lihat.”

Rendra akhirnya mengangkat wajah. “Minta, bukan cari diam-diam.”

“Aku tidak bilang cari diam-diam.”

“Mukamu bilang.”

“Mukaku banyak difitnah di rumah ini.”

Raina memeluk lutut. “Kalau kita tanya, Bapak mungkin jawab ‘nanti’.”

“Kalau dia jawab nanti, kita tanya lagi,” kata Renata.

“Kalau Bapak bilang jangan bikin Ibu kepikiran?”

“Berarti kita bilang kita yang kepikiran.”

Rendra mengusap wajah. “Kak, kamu kalau sudah mode meeting serem juga.”

“Ada yang harus pegang arah.”

“Ya, dan biasanya kamu merasa itu harus kamu.”

Kalimat itu tidak terlalu keras, tetapi cukup tajam.

Renata menatap Rendra. Raina menunduk. Ia mengenal tanda-tanda kecil sebelum pertengkaran muncul. Cara Renata menarik napas. Cara Rendra melipat lengan. Cara dapur tiba-tiba terasa lebih sempit.

“Bang,” kata Raina pelan.

Rendra mengangkat tangan sedikit. “Aku cuma bilang.”

“Dan aku cuma ingin tahu kondisi Ibu,” kata Renata.

“Aku juga.” Timpal Raina.

“Tapi kamu keberatan aku yang ngomong?” Tanya Renata.

“Aku keberatan kalau semua langsung berubah jadi cara Kakak.”

Wajah Renata mengeras.

Sebelum ia sempat menjawab, suara Bapak terdengar dari lorong.

“Renata Prawula.”

Mereka bertiga menoleh.

Bapak berdiri di ambang dapur. Tidak ada yang tahu sejak kapan ia berada di sana. Wajahnya tetap datar, tetapi matanya bergerak dari Renata, ke Rendra, ke Raina, lalu kembali ke Renata.

“Kalau mau bicara soal Ibu, jangan sambil saling menyalahkan.”

Renata menahan kalimat yang hampir keluar. Rendra melihat ke arah lain. Raina mengusap name tag di tangannya sampai debunya hilang sepenuhnya.

Bapak masuk ke dapur, membuka lemari atas, lalu mengambil satu gelas. Gerakannya terlalu biasa untuk ruangan yang baru saja menegang.

“Bapak punya hasil pemeriksaan Ibu?” tanya Renata.

“Punya.”

“Kami boleh lihat?”

“Boleh.”

Jawaban itu membuat ketiganya diam.

Mungkin karena mereka sudah menyiapkan diri untuk penolakan. Mungkin karena mereka terbiasa mengira Bapak akan menyimpan semuanya sendirian. Mungkin karena kata boleh dari mulut Bapak terdengar hampir asing ketika menyangkut sesuatu yang serius.

“Tapi tidak sekarang,” lanjut Bapak.

Renata menghela napas. “Pak—”

“Renata Prawula.”

Kali ini nama lengkap itu terdengar lebih tegas, meski tetap tidak keras.

Bapak meletakkan gelas di meja.

“Ibu baru tidur. Kalau kalian baca sekarang, kalian akan ribut di dapur. Ibu dengar. Nanti setelah Ibu bangun, Bapak jelaskan.”

“Kenapa harus setelah Ibu bangun?” tanya Rendra.

“Karena itu tubuh Ibu. Bukan laporan milik Bapak.”

Rendra terdiam. Renata juga. Raina menatap Bapak dengan sesuatu yang sulit ia namai. Selama ini, ia sering mengira Bapak menyimpan informasi karena ingin memegang kendali. Mungkin itu benar. Bapak memang suka kendali. Tetapi kalimat barusan membuat alasan itu tidak sesederhana yang mereka kira.

Bapak menuang air dari dispenser.

“Ibu tidak suka dibicarakan seperti sudah tidak ada di ruangan,” katanya.

Tidak ada yang menjawab.

Lalu dari kamar, suara Ibu terdengar lemah. “Pak.”

Bapak langsung menoleh.

“Iya, Bu?”

“Anak-anak jangan dimarahi.”

“Tidak dimarahi.”

“Kalau sudah pakai Prawula, biasanya hampir.”

Raina tidak bisa menahan senyum.

Bapak tampak ingin membantah, tetapi gagal menemukan kalimat yang cukup kuat. Ibu muncul di ujung lorong dengan langkah pelan. Satu tangan memegang dinding, tangan lain memegang scarf di bahunya. Renata langsung bergerak, tetapi Bapak sudah lebih dulu mendekat.

“Bu, kenapa bangun?”

“Dengar suara dapur.”

“Harusnya tidur.”

“Harusnya. Tapi dapur memanggil.”

“Dapur tidak memanggil.”

“Ibu yang punya dapur. Ibu lebih tahu.”

Lihat selengkapnya