Sore datang lebih cepat daripada yang mereka inginkan. Setelah makan siang dan dapur selesai dibereskan, rumah sempat tenggelam dalam jeda yang aneh. Tidak benar-benar tenang, tetapi juga tidak cukup ramai untuk disebut hangat. Setiap orang seperti mencari kesibukan kecil agar tidak perlu duduk menunggu percakapan yang sudah dijanjikan.
Raina membuka laptop di ruang tengah, tetapi layarnya lebih banyak menampilkan kursor yang berkedip daripada pekerjaan yang benar-benar selesai. Ia mengubah satu angka, membaca ulang judul grafik, lalu berhenti. Sesekali matanya bergerak ke arah kamar Ibu.
Rendra duduk di teras belakang, memegang buku resep tua yang tadi ia temukan di dapur. Ia tidak membacanya terus-menerus. Hanya membuka halaman yang sama, melihat tulisan Ibu tentang perkedel, lalu menutupnya lagi seolah takut kalimat kecil itu akan berubah bila terlalu lama dipandang.
Renata masuk ke kamar depan dengan alasan membereskan koper. Tetapi koper itu sudah rapi. Pakaiannya sudah dilipat. Scarf untuk Ibu sudah diberikan. Teh rendah kafein untuk Bapak sudah diletakkan di rak dapur meskipun Bapak belum membukanya lagi setelah membaca labelnya terlalu lama. Yang Renata lakukan sebenarnya hanya berdiri di depan cermin lemari. Pantulan dirinya tampak sedikit berbeda di rumah itu.
Di Singapura, wajahnya adalah wajah yang ia kenal. Bersih, terawat, dewasa, cukup muda untuk usia tiga puluh, cukup matang untuk ruang rapat. Di rumah Japos, wajah yang sama terasa seperti milik seseorang yang sedang diawasi oleh masa lalu.
Renata menyentuh garis halus di bawah matanya. Tidak terlalu terlihat. Orang lain mungkin tidak akan menyadarinya. Tapi ia tahu. Ia tahu setiap perubahan kecil di wajahnya karena sebagian pekerjaannya adalah memahami bagaimana perempuan memandang perubahan kecil pada diri mereka sendiri. Ironisnya, ia bisa menyusun strategi untuk membuat ribuan perempuan merasa tidak takut pada usia, tetapi tidak bisa menghentikan tubuhnya sendiri menegang setiap kali Ibu menyebut angka tiga puluh.
Di luar kamar, suara Bapak terdengar.
“Renata.”
Renata menoleh.
Bapak berdiri di depan pintu yang terbuka setengah. Ia tidak mengetuk, tetapi juga tidak masuk.
“Iya, Pak?”
“Ibu sudah bangun. Kita bicara di ruang tengah.”
Renata mengangguk. “Sebentar.”
Bapak masih berdiri di tempatnya.
“Apa lagi, Pak?”
“Tidak usah siapkan wajah seperti mau meeting.”
Renata terdiam. Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada mengejek. Bapak juga tidak tersenyum. Namun justru karena datar, kalimat itu terasa lebih telanjang.
“Aku nggak begitu,” katanya.
Bapak menatapnya sebentar, lalu mengangguk kecil. “Ya sudah.”
Ia pergi sebelum Renata sempat membalas.
Renata memandang pintu yang ditinggalkan Bapak. Ada banyak hal tentang Bapak yang membuatnya jengkel. Cara laki-laki itu memotong percakapan. Cara ia selalu merasa tahu kapan sesuatu harus berhenti. Cara ia mengucapkan nama anak-anaknya, dan disebutkan lengkap seperti tanda peringatan sebelum semua orang kehilangan kendali. Namun yang paling menyebalkan dari Bapak adalah kadang ia melihat hal yang benar.
Renata menatap cermin sekali lagi. Lalu ia menghapus sedikit lip balm di sudut bibirnya dengan jari, seperti orang yang ingin terlihat lebih biasa daripada dirinya.
Di ruang tengah, Ibu sudah duduk di kursi rotan. Scarf krem masih melingkar di bahunya. Bantal kecil diselipkan di punggungnya. Di meja, Bapak sudah meletakkan beberapa lembar kertas, satu map bening, dan buku agenda kecil yang tadi pagi sempat dilihat anak-anak. Raina duduk di karpet dengan lutut dilipat. Rendra duduk di sofa, sedikit menjauh dari Renata yang kemudian mengambil tempat di sisi lain. Bapak tetap berdiri di dekat meja, seperti orang yang akan membacakan hasil rapat keluarga.
Ibu melihat ketiga anaknya bergantian.
“Jangan tegang begitu,” katanya.
Raina mencoba tersenyum. “Susah, Bu.”
“Kalau tegang, nanti Ibu ikut tegang.”
Rendra menyandarkan siku ke lutut. “Maaf.”
“Tidak usah minta maaf. Ibu juga tegang.”
Renata menatap map di meja. “Bu, sebenarnya sakit Ibu sejauh apa?”
Ibu tidak langsung menjawab. Ia menoleh pada Bapak.
Bapak membuka map bening itu. Kertas-kertas di dalamnya tersusun rapi, sesuai perkiraan Raina. Ada hasil laboratorium, catatan dokter, jadwal kontrol, salinan resep, dan beberapa lembar yang diberi tanda kecil di sudut atas dengan tulisan tangan Bapak.
Tanggal. Jam. Nama dokter. Catatan singkat.
Semua terlalu rapi untuk sesuatu yang menakutkan.
Bapak mengambil satu lembar.
“Pemeriksaan terakhir menunjukkan kondisinya memburuk,” katanya.
Suara Bapak datar, tetapi kali ini datarnya tidak menyembunyikan apa pun. Justru seperti satu-satunya cara agar kalimat itu bisa keluar tanpa pecah.
“Memburuk gimana?” tanya Raina.
“Pengobatan yang sekarang tidak bekerja sebaik sebelumnya.”
“Berarti bisa diganti?” tanya Renata cepat. “Ada opsi lain?”
Bapak melihat kertas. “Dokter bilang ada beberapa pilihan. Tapi semuanya harus mempertimbangkan kondisi Ibu sekarang.”
“Itu maksudnya apa?”
“Renata,” kata Ibu pelan.
Renata menatapnya. “Aku cuma mau jelas, Bu.”
“Ibu tahu.”
“Kalau ada pilihan, kita cari. Kalau harus second opinion, aku bisa bantu. Di Singapura—”
“Renata Prawula,” kata Bapak.
Renata menoleh tajam. “Pak, jangan potong dulu.”
Bapak diam. Untuk pertama kalinya sejak mereka pulang, nama lengkap itu tidak berhasil menghentikannya sepenuhnya.
“Aku serius,” lanjut Renata. “Kalau memang perlu, aku bisa cari dokter lain. Aku bisa atur. Kita bisa bawa hasilnya, kirim dulu, cari jadwal—”
“Renata,” kata Ibu.
Bukan Renata Prawula. Bukan Kakak. Bukan Nak.
Hanya Renata.
Suara Ibu tidak keras, tetapi cukup membuat semua rencana di kepala Renata berhenti berlari.
“Ibu sudah bicara dengan dokter,” kata Ibu. “Bapak juga sudah. Yang sekarang paling penting bukan mencari cara supaya Ibu terlihat sembuh di depan kalian.”
Tidak ada yang bergerak. Raina menunduk. Tangannya menggenggam ujung celana. Rendra menatap lantai.
Renata merasa tenggorokannya mengering. “Bu, jangan bilang begitu.”
“Ibu tidak bilang menyerah.”
“Tapi kedengarannya begitu.”
“Ibu cuma mau kalian tahu keadaan Ibu.”
“Kalau tahu keadaan, ya kita cari jalan.”
“Kadang jalan yang dicari bukan untuk membuat orang tinggal lebih lama,” kata Ibu pelan. “Kadang untuk membuat waktu yang ada tidak habis dipakai bertengkar dengan kenyataan.”
Renata ingin menjawab. Banyak sekali kalimat yang sudah naik ke mulutnya. Tentang kemajuan medis. Tentang uang. Tentang akses. Tentang jangan pasrah. Tentang jangan menunggu. Tentang bagaimana segala sesuatu bisa dicari bila orang cukup cepat bergerak. Namun ia melihat tangan Ibu di atas scarf krem.
Tangan itu tidak lagi sama dengan tangan yang dulu mengaduk adonan kue, mengikat rambut Raina, memukul pelan lengan Rendra ketika ia mencuri gorengan, atau menepuk bahu Renata saat belajar sampai malam. Tangan itu tampak lelah. Dan untuk pertama kalinya, Renata takut bahwa kecepatannya sendiri tidak akan mampu mengejar sesuatu yang sudah berjalan lebih dulu.
“Dokter bilang berapa lama?” tanya Rendra.
Pertanyaan itu jatuh terlalu berat.
Raina memejamkan mata.
Ibu menghela napas pelan. “Tidak ada yang bisa memastikan.”
“Tapi pasti ada perkiraan,” kata Rendra.
Bapak menatap anak laki-lakinya. “Bisa bulan. Bisa lebih. Bisa kurang.”
Rendra tertawa pendek tanpa suara. “Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban dokter.”
“Itu jawaban yang aman.”
“Karena memang tidak ada yang berani janji.”
Rendra berdiri. “Jadi selama ini Bapak tahu?”