Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #10

Anak Laki-laki Satu-satunya

Malam turun dengan cara yang lebih berat setelah percakapan sore itu. Rumah tidak langsung sepi. Ada suara piring dipindahkan, pintu kamar dibuka dan ditutup pelan, air dari dispenser mengalir ke gelas, dan bisik-bisik pendek yang sengaja dibuat kecil agar tidak sampai ke kamar Ibu. Tetapi di antara suara-suara itu, ada sesuatu yang berubah.

Mereka semua sudah tahu. Ibu bukan hanya lelah. Ibu bukan hanya semakin tua. Ibu bukan hanya perlu istirahat lebih banyak. Ada penyakit yang sudah berjalan cukup jauh sebelum mereka sempat menyadarinya. Ada map pemeriksaan yang terlalu rapi. Ada catatan Bapak yang terlalu lengkap. Ada waktu yang tidak berani menyebut jumlahnya sendiri.

Setelah makan malam yang lebih hening daripada makan siang, Ibu kembali ke kamar. Bapak masuk sebentar untuk memastikan obat malam diminum, lalu keluar membawa gelas kosong. Raina duduk di ruang tengah dengan laptop terbuka, tetapi tidak mengetik apa pun. Renata membaca ulang beberapa istilah medis dari ponselnya dengan wajah tegang. Rendra berdiri di teras, menatap halaman yang semakin gelap.

Lampu teras menarik serangga kecil berputar-putar di bawahnya. Pohon mangga di halaman depan tampak hitam di bagian atas, hanya batangnya yang terkena cahaya. Di luar pagar, motor lewat sesekali. Dari rumah sebelah, terdengar suara televisi dan tawa anak kecil. Semua itu terasa tidak sopan karena tetap berjalan seperti biasa.

Rendra memasukkan kedua tangan ke saku celana. Udara malam Japos berbeda dari udara malam di laut. Tidak ada bau garam yang kuat, tidak ada suara mesin, tidak ada angin besar yang membuat tubuh harus menahan keseimbangan. Di sini, udara membawa bau tanah lembap, asap kendaraan, dan sisa masakan dari rumah-rumah tetangga. Udara rumah. Dulu ia pernah berpikir bahwa udara seperti ini membuatnya sesak. Sekarang ia tidak yakin apakah yang sesak adalah udaranya, atau dirinya sendiri.

Pintu rumah terbuka.

Bapak keluar membawa satu obeng dan senter kecil.

Rendra menoleh. “Mau ngapain, Pak?”

“Cek lampu pagar.”

“Kenapa?”

“Kadang mati-nyala.”

“Besok aja.”

“Sekarang kelihatan matinya.”

Rendra menatap lampu pagar yang memang berkedip sesekali. Cahaya putihnya menyala, redup, lalu menyala lagi.

“Pak, ini sudah malam.”

“Justru kelihatan.”

Rendra menarik napas. “Biar aku lihat.”

“Tidak usah.”

“Pak.”

Bapak sudah membuka kait pagar kecil dan berjalan keluar. Rendra mengikutinya tanpa menunggu izin.

Di luar pagar, lampu itu terpasang di tiang pendek dekat tembok. Letaknya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup untuk membuat Bapak harus sedikit mendongak. Rendra mengambil senter dari tangan Bapak.

“Sini, aku yang pegang.”

“Jangan sorot mata.”

“Aku tahu, Pak.”

“Saklarnya sudah dimatikan?”

Rendra berhenti.

Bapak menatapnya.

Rendra mengembuskan napas. “Belum. Aku matikan dulu.”

Ia masuk kembali ke teras, mematikan saklar lampu pagar, lalu keluar lagi. Ketika kembali, Bapak tidak mengatakan apa pun. Itu lebih menyebalkan daripada teguran.

“Pak, kalau mau bilang aku ceroboh, bilang aja.”

“Bapak tidak bilang.”

“Tapi wajah Bapak bilang.”

“Wajah Bapak banyak dituduh belakangan ini.”

Rendra hampir tertawa, tetapi tertahan di tenggorokan. Ia membuka penutup lampu dengan obeng. Gerakannya hati-hati, tetapi cepat. Pekerjaan kecil seperti itu bukan hal sulit. Ia terbiasa dengan sistem yang lebih rumit, baut yang lebih keras, panel yang lebih banyak risikonya. Lampu pagar rumah Japos seharusnya bukan sesuatu yang membuat tubuhnya menegang. Namun Bapak berdiri di sebelahnya. Itu saja cukup.

“Pelan,” kata Bapak.

“Sudah pelan.”

“Obengnya jangan miring.”

“Pak, aku kerja maintenance.”

“Ini lampu rumah.”

“Prinsipnya sama.”

“Tidak semua sama.”

Rendra berhenti memutar obeng.

Ia menoleh. “Bapak selalu begitu ya.”

“Begitu apa?”

“Kalau aku pegang sesuatu, selalu ada yang kurang.”

Bapak memandangnya. Cahaya dari teras jatuh sebagian di wajahnya, membuat garis-garis tua di sekitar mulut terlihat lebih jelas.

“Bapak cuma bilang obengnya jangan miring.”

“Iya. Hari ini obeng. Dulu sepeda. Dulu nilai. Dulu cara ngomong. Dulu cara duduk. Selalu ada yang kurang.”

Dari dalam rumah, suara televisi terdengar pelan. Mungkin Raina menyalakannya untuk mengisi ruang. Mungkin Renata yang melakukannya agar ruang tengah tidak terlalu sunyi.

Di luar pagar, ayah dan anak laki-laki itu berdiri berhadapan dengan lampu mati di antara mereka.

Bapak menurunkan pandangan ke obeng di tangan Rendra.

“Rendra Prawula.”

“Jangan pakai nama lengkap dulu, Pak.”

Bapak diam.

Rendra tertawa pendek, tetapi tidak ada ringannya. “Kalau Bapak panggil begitu, biasanya aku harus berhenti. Aku tahu. Dari kecil juga begitu. Tapi mungkin kali ini aku nggak mau berhenti dulu.”

Bapak menatap jalan di depan rumah.

Tidak ada orang lewat. Hanya satu kucing menyeberang pelan di bawah cahaya lampu tetangga.

“Bicaranya jangan keras,” kata Bapak.

“Nah, itu juga. Jangan keras. Jangan marah. Jangan cengeng. Jangan sembunyi. Jangan salah. Jadi anak laki-laki di rumah ini isinya jangan semua.”

Bapak tidak menjawab. Mungkin karena tidak bisa. Mungkin karena belum sempat. Mungkin karena laki-laki itu memang paling mahir membuat diam terdengar seperti tembok.

Rendra kembali membuka penutup lampu. Kali ini gerakannya terlalu cepat sampai sekrup hampir jatuh. Ia menangkapnya sebelum mengenai lantai.

Bapak melihat, tetapi tidak berkomentar.

Rendra justru semakin marah karena tidak ditegur.

“Kok diam, Pak?”

“Katanya jangan pakai nama lengkap dulu.”

“Aku nggak bilang Bapak nggak boleh ngomong sama sekali.”

Bapak menarik napas, pelan sekali. “Kamu mau Bapak bilang apa?”

Pertanyaan itu membuat Rendra berhenti. Selama bertahun-tahun, ia membayangkan banyak percakapan dengan Bapak. Dalam bayangannya, Bapak selalu punya jawaban. Jawaban keras. Jawaban praktis. Jawaban yang membuat Rendra semakin yakin bahwa ia memang tidak pernah didengar. Namun malam itu, ketika Bapak bertanya apa yang harus ia katakan, Rendra justru tidak siap.

Ia menatap lampu pagar yang terbuka, kabel di dalamnya, bohlam yang sedikit longgar.

“Mungkin Bapak bisa mulai dari kenapa dulu selalu keras sama aku,” katanya akhirnya.

Bapak memasukkan senter ke saku celana.

“Karena kamu anak laki-laki.”

Rendra tersenyum pahit. “Nah. Jawaban favorit.”

“Dulu Bapak pikir itu alasan yang cukup.”

“Menurut Bapak cukup?”

“Dulu iya.”

“Sekarang?”

Bapak tidak langsung menjawab.

Dari dalam rumah, terdengar suara batuk Ibu. Rendra otomatis menoleh ke arah pintu. Bapak juga. Mereka sama-sama menunggu. Setelah beberapa detik, suara Raina terdengar pelan dari dalam, “Bu, minum dulu.” Lalu tidak ada batuk lagi.

Bapak kembali memandang lampu pagar.

“Sekarang Bapak tidak tahu,” katanya.

Rendra menatapnya.

Jawaban itu terlalu sederhana. Terlalu tidak siap. Terlalu bukan Bapak yang ia hafal.

“Aku pernah jatuh dari sepeda,” kata Rendra.

Bapak diam.

Lihat selengkapnya