Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #11

Yang Paling Dekat

Minggu pagi datang dengan langit yang terlalu cerah untuk rumah yang semalam penuh percakapan berat. Cahaya masuk dari jendela ruang tengah, jatuh di lantai, di kaki kursi rotan Ibu, di meja kayu, dan di kotak plastik berisi name tag lama yang belum sempat dikembalikan ke gudang. Di luar, daun mangga berserakan di halaman. Lampu pagar yang semalam diperbaiki Rendra sudah mati, tetapi bekas cahayanya seperti masih tertinggal di kepala semua orang.

Raina bangun paling pagi setelah Bapak. Ia tidak berniat begitu. Semalam ia tidur dengan kepala penuh, tubuh lelah, dan perasaan yang berantakan setelah melihat Rendra berbicara lebih jujur kepada Bapak daripada yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Ia pikir tubuhnya akan menagih tidur lebih lama. Namun pukul enam lewat sedikit, ia sudah membuka mata. Bukan karena alarm. Karena ponselnya bergetar. Satu pesan dari kantor masuk di grup kerja.

Mas Arman: Rain, sorry ganggu weekend. Bisa bantu cek angka cohort yang kemarin? Kayaknya ada mismatch sama deck final.

Raina menatap layar dengan wajah kosong. Di sebelah pesan itu, ada waktu: 06.12. Minggu pagi. Ia menutup mata lagi, menaruh ponsel di dada, dan mencoba bernapas perlahan.

Dari luar kamar, terdengar suara Bapak di dapur. Bunyi gelas. Bunyi sendok. Bunyi dispenser. Lalu batuk kecil Ibu dari kamar utama. Setelah itu, langkah Bapak bergerak cepat.

“Minum dulu, Bu,” suara Bapak terdengar samar.

Raina langsung duduk.

Di tangannya, ponsel kembali bergetar.

Mas Arman: Kalau belum bisa sekarang gapapa, tapi sebelum jam 9 ya. Founder mau lihat.

Raina memandang pesan itu lama. Kalau belum bisa sekarang gapapa. Tapi sebelum jam sembilan. Ia hampir tertawa. Ada jenis kalimat yang tampaknya memberi pilihan, padahal sebenarnya hanya memindahkan rasa bersalah ke tangan orang yang diminta.

Di rumah, bentuknya sering berbeda tetapi rasanya sama.

Kalau capek, tidak usah pulang.

Tapi Ibu kangen.

Kalau sibuk, nanti saja.

Tapi kamu paling dekat.

Kalau tidak bisa, tidak apa-apa.

Tapi siapa lagi?

Raina turun dari kasur, mengambil kacamata, lalu membuka laptop di meja kecil kamar. Kamar itu tidak dirancang untuk kerja jarak jauh. Meja belajarnya terlalu pendek. Kursinya keras. Stop kontaknya longgar. Sinyal Wi-Fi di sudut kamar kadang melemah karena router berada di ruang tengah. Namun Raina tetap duduk di sana.

Query ia jalankan sambil menahan kantuk. File ia buka. Dashboard ia periksa. Angka-angka menatapnya dengan dingin, seperti tidak peduli bahwa ibunya sedang sakit di kamar sebelah, bahwa kakaknya dari Singapura masih tidur di kamar depan, bahwa abang yang baru pulang dari laut mungkin belum sepenuhnya mengerti apa artinya bangun di rumah lagi.

Data tidak peduli. Data hanya salah atau benar. Manusia jauh lebih melelahkan karena bisa salah, benar, dan terluka pada saat bersamaan.

Pukul tujuh, pintu kamarnya diketuk pelan.

“Rain?”

Suara Renata.

Raina menoleh. “Masuk, Kak.”

Renata membuka pintu sedikit. Rambutnya masih tergerai, wajahnya tanpa makeup, tetapi tetap terlihat jauh lebih rapi daripada Raina yang duduk dengan kaus tidur dan kacamata miring.

“Kamu kerja?”

“Sedikit.”

“Ini Minggu pagi.”

“Startup.”

Renata masuk dan berdiri di belakangnya. “Bisa ditunda?”

“Kata Mas Arman­­­­­­­­-atasanku sebelum jam sembilan harus clear.”

Renata membaca sekilas layar laptop Raina. “Kamu selalu jawab kalau dia chat?”

“Nggak selalu.”

“Sering?”

Raina tidak menjawab.

Renata menarik kursi kecil dari sudut kamar lalu duduk. “Rain, kamu di rumah sekarang.”

“Iya, Kak. Aku sadar. Dindingnya banyak stiker lamaku.”

“Aku serius.”

“Aku juga.”

Renata memandang adiknya. “Kamu bisa bilang tidak.”

Raina tertawa pendek. “Kakak ngomong gitu gampang banget.”

“Karena memang harus belajar.”

“Dari orang yang bisa remote dari Singapura dan punya posisi bagus, iya, pasti kelihatan gampang.”

Renata terdiam.

Raina langsung menyesal, tetapi tidak cukup cepat untuk menarik kalimatnya kembali. Ia memindahkan satu file, membuka tabel lain, lalu pura-pura sibuk agar tidak perlu melihat wajah kakaknya.

“Maaf,” katanya akhirnya.

Renata diam sebentar. “Nggak apa-apa.”

“Nada Kakak tadi kayak seminar work-life balance.”

Kali ini Renata tersenyum sedikit. “Aku tahu.”

“Kakak nggak salah. Cuma... aku belum punya ruang sebesar itu buat bilang nggak.”

Renata menatap layar laptop Raina. “Kamu capek.”

“Semua orang capek.”

“Rain.”

“Aku tahu aku capek, Kak. Tapi aku juga tahu kalau kerjaanku nggak beres, orang lain kena. Kalau aku nolak, aku dianggap nggak reliable. Kalau aku nggak jawab, Senin nanti aku harus jelasin. Dan aku capek jelasin.”

Renata tidak langsung membalas.

Dari luar kamar, terdengar suara Rendra menguap panjang, lalu suara Bapak menegur, “Cuci muka dulu sebelum duduk di meja.”

Rendra menjawab sesuatu yang tidak jelas. Raina dan Renata sama-sama menoleh ke arah pintu, lalu tertawa kecil hampir bersamaan.

Tawa itu membantu sedikit.

Renata berdiri. “Aku ambil air ya.”

“Buat Kakak?”

“Buat kamu.”

“Aku bisa ambil sendiri.”

“Aku tahu.”

Renata keluar sebelum Raina sempat menolak.

Raina menatap pintu yang terbuka sedikit. Ia belum terbiasa dengan Renata yang seperti itu. Renata yang tidak langsung mengatur. Renata yang tidak memenangkan percakapan. Renata yang mengambil air tanpa menjadikan air sebagai bukti bahwa ia lebih dewasa. Mungkin mereka semua memang sedang mencoba. Masalahnya, mencoba pun melelahkan.

Pukul delapan lewat sedikit, Raina akhirnya mengirim file revisi ke Mas Arman.

Raina: Sudah aku cek. Mismatch karena deck pakai cohort weekly, dashboard pakai monthly. Aku kirim sheet pembandingnya di sini.

Mas Arman membalas lima menit kemudian.

Mas Arman: Mantap thanks Rain. Good job.

Raina menatap dua kata itu.

Good job.

Ia menutup laptop lebih keras dari seharusnya.

Di ruang tengah, Ibu sudah duduk di kursi rotan. Wajahnya lebih pucat daripada kemarin, tetapi ia bersikeras ingin melihat Rendra mengeluarkan sepeda hitam dari gudang. Bapak awalnya menolak. Ibu mengabaikan. Anak-anak mendukung Ibu, sebagian karena ingin melihat sepeda, sebagian karena tidak tega melihat Ibu meminta sesuatu yang begitu kecil.

Akhirnya Bapak menyerah dengan syarat yang panjang.

“Ibu duduk saja. Tidak usah ke gudang. Tidak usah kena debu. Nanti kalau mau foto, sepedanya yang dibawa ke depan.”

“Iya, Pak.”

“Jangan berdiri lama.”

“Iya.”

“Kalau capek, bilang.”

“Iya.”

“Jangan cuma iya.”

“Pak, kalau Ibu jawab tidak, Bapak lebih pusing.”

Rendra tertawa dari dekat pintu. “Valid, Bu.”

“Rendra Prawula,” kata Bapak.

Rendra langsung mengangkat tangan. “Aku setuju dengan penuh hormat.”

Raina, yang baru keluar kamar sambil membawa laptop tertutup, tersenyum kecil.

Renata menyerahkan segelas air padanya.

“Minum.”

Raina menerimanya. “Makasih.”

“Kamu sudah selesai?”

“Untuk sekarang.”

“Untuk sekarang itu serem.”

“Memang.”

Di halaman depan, Rendra dan Bapak mengeluarkan sepeda hitam dari gudang. Rendra mendorongnya pelan melewati teras belakang, melewati samping rumah, lalu ke halaman depan. Raina mengikuti sambil membawa kain lap. Renata membawa ponsel untuk mengambil foto. Ibu duduk di kursi yang dipindahkan dekat pintu depan, scarf krem di bahunya, wajahnya tampak bersemangat dengan cara yang membuat anak-anak terlalu takut untuk melarang.

Sepeda itu tampak lebih menyedihkan di bawah cahaya pagi. Cat hitamnya kusam. Rantainya kering. Ban depannya kempis. Namun ketika Rendra membersihkan debu dari setangnya, bentuk masa lalu itu mulai terlihat lagi.

“Ini beneran masih bisa,” kata Raina.

“Sudah kubilang,” jawab Rendra.

“Dulu kamu gaya banget pakai ini.”

“Aku memang gaya.”

“Dulu kamu jatuh pakai ini.”

“Detail tidak perlu.”

Renata mengangkat ponsel. “Ren, berdiri di sebelah sepeda.”

“Buat apa?”

“Foto.”

“Aku bukan anak kecil.”

“Ibu yang minta foto.”

Rendra langsung diam, lalu berdiri di sebelah sepeda.

Ibu tersenyum puas. “Pegang setangnya.”

“Bu.”

“Pegang.”

Rendra memegang setang dengan wajah pasrah.

Raina tertawa. “Mukanya jangan kayak mau interview kerja.”

“Memangnya harus bagaimana?”

“Sedikit sayang sama sepeda masa kecilmu.”

“Aku dan sepeda ini punya hubungan rumit.”

Renata mengambil beberapa foto. “Oke. Sekarang Ibu.”

Bapak langsung menoleh. “Ibu tidak usah berdiri.”

“Foto duduk saja, Pak,” kata Ibu.

“Sepedanya didekatkan.”

Rendra mendorong sepeda ke samping kursi Ibu. Raina berjongkok untuk memastikan roda tidak menyenggol kaki ibunya. Renata mengatur posisi, terlalu serius untuk ukuran foto keluarga dengan sepeda rusak.

“Pak, geser sedikit,” kata Renata.

Bapak yang berdiri di belakang kursi Ibu mengerutkan kening. “Bapak ikut?”

“Ya iya.”

“Tidak usah.”

“Pak.”

“Bapak tidak rapi.”

Renata menatap kaus polo tua dan sarung kotak-kotak yang dipakai Bapak. “Ini foto keluarga di teras, bukan laporan tahunan.”

Raina tertawa.

Ibu menoleh pada suaminya. “Ikut, Pak.”

Bapak tidak punya jawaban untuk itu. Ia berdiri di belakang kursi Ibu. Satu tangannya memegang sandaran kursi, bukan bahu Ibu. Namun posisi itu tetap terlihat seperti caranya menjaga.

Lihat selengkapnya