Hari Senin membuat rumah kembali ingat bahwa dunia luar masih berjalan. Sejak pagi, tanda-tandanya sudah muncul satu per satu. Alarm ponsel Raina berbunyi pukul enam lewat tiga puluh. Renata menerima email dari kantornya sebelum sarapan selesai. Rendra mendapat pesan dari supervisor yang menanyakan konfirmasi tanggal kembali. Di ruang tengah, Ibu duduk dengan selimut tipis di pangkuan, sementara Bapak mencatat tekanan darahnya di agenda kecil. Angkanya tidak bagus. Tidak buruk sekali, tetapi cukup membuat Bapak menatap layar alat tensi lebih lama daripada biasa.
“Pak,” kata Ibu.
Bapak tidak langsung menjawab. Ia mencatat angka itu, menambahkan jam, lalu menutup pulpen.
“Minum air dulu.”
“Bukan itu.”
“Apa?”
“Jangan pasang wajah begitu.”
“Wajah Bapak biasa.”
“Justru itu yang membuat anak-anak takut.”
Tiga anak yang duduk di meja makan otomatis berpura-pura tidak mendengar. Raina menusuk telur dadarnya dengan garpu. Renata membuka email di ponsel sambil terlihat terlalu fokus. Rendra mengangkat gelas dan minum lebih lama daripada perlu.
Bapak menoleh pada mereka.
Tentu saja semua orang mendengar.
“Tekanan darah Ibu agak rendah,” katanya akhirnya.
Renata langsung meletakkan ponsel. “Rendah berapa?”
Bapak menyebutkan angkanya.
Renata mengulang angka itu dalam kepala seperti sedang membaca data kampanye. “Itu karena kurang makan? Atau obat?”
“Bisa banyak hal,” jawab Bapak.
“Kita perlu tanya dokter.”
“Kontrolnya hari Kamis.”
“Kamis masih tiga hari lagi.”
“Kalau ada apa-apa, Bapak hubungi dokter.”
“Pak, seharusnya kita—”
“Renata Prawula.”
Renata berhenti, tetapi kali ini ia tidak terlihat marah. Hanya menahan diri dengan susah payah.
Bapak menatapnya. “Sarapan dulu.”
Renata menarik napas. “Iya, Pak.”
Raina memperhatikan kakaknya. Ada perubahan kecil di sana. Dulu, Renata mungkin akan terus mengejar jawaban sampai semua orang menyerah. Pagi itu, ia berhenti. Bukan karena setuju sepenuhnya, tetapi karena sedang belajar bahwa tidak semua kekhawatiran harus langsung menjadi perintah.
Rendra, di sisi lain, menatap kalender di ponselnya. Ia harus kembali dua hari lagi jika tidak mendapat perpanjangan cuti. Jadwal offshore tidak seperti cuti kantor yang bisa dinegosiasikan lewat email panjang dan alasan keluarga. Ada rotasi, pengganti, transportasi, dan orang lain yang ikut terdampak jika ia tidak kembali tepat waktu. Namun setelah melihat angka tekanan darah Ibu, kata kembali terasa seperti sesuatu yang kasar.
“Kamu kapan balik?” tanya Ibu, seolah membaca pikirannya.
Rendra mengangkat wajah. “Belum tahu.”
“Kemarin katanya Rabu.”
“Bisa aku coba mundurin.”
“Jangan kalau susah.”
Tiga anak itu menoleh pada Ibu dengan ekspresi yang hampir sama.
Ibu tersenyum kecil. “Kenapa melihat Ibu begitu?”
“Karena Ibu selalu bilang jangan kalau susah,” kata Raina.
“Memangnya harus bilang apa?”
“Bilang ingin,” jawab Renata pelan.
Ibu terdiam sebentar.
Bapak menatap Renata, tetapi tidak memotongnya.
Renata melanjutkan, “Kalau Ibu ingin kami tinggal lebih lama, bilang saja ingin. Jangan langsung kasih jalan keluar supaya kami tidak merasa bersalah.”
Ibu menunduk pada selimut di pangkuannya.
Untuk beberapa saat, hanya suara sendok Raina mengenai piring yang terdengar. Lalu Raina meletakkan garpunya, merasa suara kecil itu terlalu keras.
“Ibu ingin kalian tinggal,” kata Ibu akhirnya.
Kalimat itu sederhana. Tetapi karena Ibu jarang sekali meminta sesuatu langsung untuk dirinya sendiri, ruangan terasa berhenti.
Rendra mengangguk pelan. “Aku coba bicara lagi sama supervisor.”
Renata segera berkata, “Aku bisa extend sampai Kamis. Jumat paling lambat aku harus mulai kerja normal lagi, tapi masih bisa remote dari sini.”
Raina menatap keduanya, lalu menunduk. “Aku hari ini harus masuk kantor setengah hari.”
Ibu langsung menoleh. “Ya sudah, kerja dulu.”
“Bu.”
“Ibu cuma bilang kerja.”
“Cara Ibu bilangnya bikin aku merasa jahat.”
Ibu menarik napas, lalu mengangguk seperti murid yang baru diingatkan. “Baik. Ibu ulang.”
Raina menatapnya.
“Ibu ingin kamu di rumah,” kata Ibu pelan. “Tapi Ibu juga tahu kamu punya pekerjaan. Jadi pulanglah setelah selesai. Tidak perlu merasa kamu kurang sayang hanya karena pergi ke kantor.”
Raina menggigit bibir. Renata menatap adiknya dengan lembut. Rendra menggaruk alisnya, tidak tahu harus melihat ke mana ketika kalimat-kalimat jujur mulai terlalu banyak memenuhi meja makan.
“Begitu lebih baik?” tanya Ibu.
Raina mengangguk. “Lebih sakit, tapi lebih baik.”
Ibu tersenyum sedih. “Kadang yang benar memang begitu.”
Bapak menutup agenda kecilnya.
“Kalau begitu kita buat jadwal,” katanya.
Tiga anaknya langsung menoleh.
Bapak menatap mereka bergantian. “Apa?”
Renata hampir tersenyum. “Tidak apa-apa. Cuma terdengar sangat Bapak.”
“Kalau tidak ada jadwal, nanti semua bingung.”
“Benar,” kata Renata.
Raina menatap kakaknya. “Kamu senang, kan?”
“Aku menahan diri untuk tidak terlalu senang.”
“Terlihat gagal.”
Rendra bersandar di kursi. “Jadwal apa? Jadwal jaga Ibu?”
“Jadwal kontrol, obat, belanja, makan, siapa di rumah, siapa bisa dihubungi,” kata Bapak.
Renata sudah mengambil notebook dari tasnya.
Raina menunjuknya. “Tuh kan.”
Renata mengangkat tangan. “Aku hanya menyediakan media.”
“Media katanya.”
Rendra tersenyum kecil. “Kakak kalau keluarga ini perusahaan, dia pasti langsung jadi direktur.”
“Rendra Prawula,” kata Bapak.
Rendra langsung menunduk. “Baik. Maaf. Lanjutkan meeting keluarga.”
Ibu tertawa pelan, tetapi kali ini ia cepat menahan diri sebelum batuk.
Mereka pindah ke ruang tengah setelah sarapan. Renata duduk di sofa dengan notebook terbuka. Raina duduk di karpet sambil membuka kalender ponsel. Rendra duduk di lantai dekat meja, masih memegang ponsel untuk menunggu balasan supervisor. Bapak duduk di kursi plastik dengan agenda kecilnya, sedangkan Ibu di kursi rotan menjadi pusat dari semua rencana yang sebenarnya tidak ia minta menjadi begitu resmi.
“Pertama, kontrol Kamis,” kata Renata. “Siapa yang antar?”
“Bapak,” jawab Bapak.
Renata mencatat. “Aku ikut.”
“Tidak perlu semua ikut,” kata Bapak.
“Aku ingin dengar langsung.”
“Kalau terlalu banyak, nanti dokter—”
“Pak.”
Bapak berhenti.
Renata menatapnya. “Aku tidak mau membaca semuanya dari catatan Bapak saja. Aku perlu dengar langsung. Bukan karena aku tidak percaya Bapak. Karena aku anak Ibu juga.”
Bapak tidak langsung menjawab.
Ibu memandang Renata, lalu Bapak.
“Biarkan Renata ikut, Pak.”
Bapak mengangguk kecil. “Baik.”
Raina mengangkat tangan sedikit. “Aku mungkin nggak bisa Kamis pagi. Ada sprint review.”
“Tidak apa-apa,” kata Ibu cepat.
Raina menatapnya.
Ibu mengoreksi diri. “Maksud Ibu, Ibu ingin kamu ikut kalau bisa. Kalau tidak bisa, nanti kamu dengar dari Kakak dan Bapak. Begitu?”
Raina tersenyum kecil. “Lumayan, Bu.”
“Ibu masih belajar.”
Rendra berkata, “Aku belum tahu Kamis masih di sini atau nggak.”
Renata mencatat tanpa komentar.
Rendra melihat gerakan pena itu. “Kak.”
“Hm?”
“Jangan tulis aku sebagai tanda tanya besar yang menyedihkan.”
Renata berhenti menulis.