Halaman yang Tertinggal di Rumah

Kavi Vayne
Chapter #13

Ruang Tunggu

Hari Kamis selalu terdengar seperti hari yang hampir selesai, padahal pagi itu justru terasa seperti permulaan sesuatu yang tidak mereka inginkan. Sejak subuh, rumah bergerak lebih hati-hati.

Bapak bangun sebelum alarm. Ia memanaskan air, menyiapkan obat pagi, mengecek map hasil pemeriksaan, lalu memasukkan semuanya ke dalam tas selempang hitam yang biasa ia pakai jika pergi ke bank atau kantor kelurahan. Di atas meja makan, sudah ada daftar kecil yang ia tulis semalam.

KTP Ibu.

Kartu rumah sakit.

Hasil lab.

Resep terakhir.

Obat yang sedang diminum.

Air putih.

Biskuit tawar.

Tisu.

Renata menemukan daftar itu ketika keluar kamar pukul enam. Ia berdiri beberapa detik di depan meja, membaca tulisan tangan Bapak yang kecil dan rapi. Sebagian dirinya merasa lega karena semua sudah dipersiapkan. Sebagian lain merasa tersinggung tanpa alasan yang sepenuhnya benar, karena bahkan dalam urusan kontrol dokter pun Bapak tampak sudah lebih dulu tahu apa yang harus dilakukan.

“Bapak sudah siap dari jam berapa?” tanya Renata.

Bapak sedang memasukkan botol air ke tas. “Dari tadi.”

“Itu bukan jawaban.”

“Jam lima.”

“Kontrolnya jam sepuluh, Pak.”

“Lebih baik siap dulu.”

Renata mengambil map bening dari meja, memeriksa isinya. “Aku bawa salinannya juga di ponsel. Kemarin aku scan.”

“Bagus.”

“Kalau dokter jelasin, aku mau rekam suara. Biar Raina dan Rendra bisa dengar juga.”

“Boleh, kalau dokternya mengizinkan.”

“Aku tanya nanti.”

Bapak mengangguk. Tidak ada perdebatan. Tidak ada teguran. Tidak ada nama lengkap. Namun justru karena percakapan berjalan lancar, Renata merasa tubuhnya tetap tegang, seolah menunggu sesuatu patah di tengah jalan.

Dari kamar, terdengar batuk Ibu.

Bapak langsung menoleh.

Renata juga.

Mereka bergerak hampir bersamaan, tetapi Bapak lebih dulu mencapai pintu kamar. Renata berhenti satu langkah di belakangnya.

“Bu?” panggil Bapak.

“Iya,” jawab Ibu dari dalam. “Cuma batuk.”

“Minum dulu.”

“Sudah.”

“Bapak boleh masuk?”

“Masuk saja, Pak. Dari tadi juga pintunya tidak dikunci.”

Renata menahan senyum kecil meski dadanya berat.

Di kamar, Ibu duduk di sisi tempat tidur dengan cardigan tipis dan scarf krem di pangkuan. Wajahnya pucat, tetapi ia sudah menyisir rambut. Di sampingnya ada Raina, yang sebenarnya harus bekerja dari kantor pagi itu, tetapi belum berangkat. Raina sedang membantu memilih baju yang paling nyaman.

“Yang biru saja, Bu,” kata Raina. “Bahannya adem.”

“Yang biru terlalu rumah sakit.”

“Bu, kita memang ke rumah sakit.”

“Justru itu.”

Renata masuk. “Yang krem?”

Ibu menoleh. “Terlalu pucat.”

“Yang hijau muda?”

“Kerutnya susah.”

Bapak berdiri di dekat pintu. “Pakai yang nyaman.”

Tiga perempuan di kamar itu menoleh padanya.

Bapak tampak tidak mengerti kesalahannya.

Ibu menghela napas. “Pak, semua orang tahu harus pakai yang nyaman. Tapi Ibu juga ingin kelihatan seperti orang yang masih bisa memilih bajunya sendiri.”

Bapak diam sebentar, lalu mengangguk. “Yang hijau muda.”

Raina tersenyum. “Tuh, Bapak voting.”

Renata mengambil baju hijau muda dari gantungan. “Ini bagus, Bu.”

Ibu menerima baju itu. “Baik. Kalian keluar dulu.”

Bapak langsung bergerak. Renata menyusul. Raina tetap berdiri sebentar.

“Rain,” kata Ibu.

“Iya. Aku keluar.”

Namun sebelum keluar, Raina berjongkok di depan ibunya. “Aku tetap coba izin ke kantor buat nyusul.”

“Kalau tidak bisa, tidak apa-apa.”

Raina menatapnya.

Ibu menarik napas pelan, lalu memperbaiki kalimatnya. “Ibu ingin kamu ikut. Tapi kalau kerjaanmu tidak bisa ditinggal, Ibu akan cerita nanti. Bapak dan Kak Renata juga ada.”

Raina mengangguk. “Lebih baik.”

“Sulit juga bicara jujur terus.”

“Memang, Bu.”

Ibu menyentuh pipi anak bungsunya sebentar. “Kamu juga jangan lupa bicara jujur kalau capek.”

Raina tersenyum kecil, lalu keluar.

Di ruang tengah, Rendra sedang duduk di lantai, memasang tali sepatu. Ia mendapat perpanjangan jadwal hanya sampai Kamis sore. Malam itu ia harus berangkat ke bandara untuk kembali ke area kerja. Artinya, ia tidak bisa ikut kontrol sampai selesai. Pukul sebelas paling lambat ia harus bersiap, lalu berangkat.

Sejak pagi, hal itu membuat wajahnya kaku.

“Bang,” kata Raina. “Kamu yakin nggak ikut sampai dokter?”

“Aku anter sampai rumah sakit. Setelah itu lihat jam.”

“Kalau mepet?”

“Ya pulang.”

Jawaban itu terlalu pendek.

Renata, yang sedang menyusun dokumen di meja, mengangkat wajah. “Kita bisa kirim rekamannya.”

Rendra mengangguk. “Iya.”

Raina duduk di sofa, memeluk tas laptopnya. “Aku merasa jahat banget nggak bisa ikut.”

“Rain,” kata Renata.

“Aku tahu. Jangan mulai.”

“Aku cuma mau bilang aku juga merasa begitu dulu.”

Raina terdiam.

Rendra selesai mengikat sepatu. Ia menatap kedua saudarinya. “Kita semua akan merasa jahat dalam versi masing-masing. Kalau dipikirin terus, nggak ada yang jalan.”

Renata menatapnya. “Kamu terdengar dewasa.”

“Efek lampu pagar.”

Raina tertawa kecil.

Bapak keluar dari kamar membawa tas Ibu. “Siap?”

“Sebentar lagi,” jawab Ibu dari dalam.

Bapak menatap jam dinding.

Raina langsung berkata, “Pak, jangan.”

“Apa?”

“Jangan bilang nanti terlambat.”

“Bapak belum bilang.”

“Tapi wajah Bapak sudah menghitung estimasi macet.”

Bapak tidak membantah.

Rendra berdiri. “Aku pesan mobil sekarang?”

“Bapak bawa mobil,” jawab Bapak.

“Pak, parkir rumah sakit susah.”

“Lebih mudah kalau Ibu harus pulang cepat.”

Rendra hendak menjawab, tetapi berhenti. Ia menatap Bapak beberapa detik, lalu mengangguk. “Iya. Masuk akal.”

Bapak tampak sedikit kaget karena tidak dilawan. Renata melihat pertukaran itu dan menyimpannya diam-diam. Kadang perubahan di rumah itu bukan berupa pelukan atau permintaan maaf. Kadang hanya berupa anak yang menahan komentar, atau Bapak yang menunggu setengah detik lebih lama sebelum memberi instruksi.

Ibu keluar dari kamar dengan baju hijau muda. Untuk sesaat, semua anaknya terdiam. Bukan karena bajunya sangat indah. Bukan karena Ibu tiba-tiba tampak sehat. Justru sebaliknya. Warna lembut itu membuat pucat wajahnya lebih terlihat. Tubuhnya tampak kecil di dalam pakaian yang dulu mungkin pas. Namun ia berdiri dengan punggung lebih tegak daripada pagi-pagi sebelumnya.

“Bagaimana?” tanya Ibu.

“Cantik,” jawab Renata cepat.

“Segar, Bu,” tambah Raina.

Rendra mengangguk. “Kayak mau kondangan.”

Ibu tertawa pelan. “Rumah sakit rasa kondangan.”

Bapak mengambil scarf krem dari tangan Renata dan menyampirkannya ke bahu Ibu. Gerakannya kaku, tetapi hati-hati.

“Biar gak dingin,” katanya.

“Iya, Pak.”

Mereka berangkat pukul delapan lewat sedikit. Mobil Bapak sudah lama tidak digunakan untuk perjalanan jauh. Biasanya hanya untuk ke pasar, ke bank, atau mengantar Ibu kontrol. Pagi itu, mobil terasa penuh oleh tubuh-tubuh dewasa yang dulu pernah duduk bertiga di kursi belakang sambil berebut jendela.

Ibu duduk di depan, di samping Bapak. Renata, Rendra, dan Raina duduk di belakang. Pada awal perjalanan, tidak ada yang banyak bicara. Jalanan menuju rumah sakit dipenuhi hal-hal yang biasa: motor menyalip dari kiri, angkot berhenti mendadak, minimarket dengan promo kopi, spanduk perumahan baru, tukang bubur, anak sekolah, dan mobil-mobil yang sama-sama ingin tiba lebih cepat daripada yang mungkin.

Renata memandangi luar jendela. Ia sudah lama tidak memperhatikan perubahan jalan menuju rumah. Dulu beberapa bagian masih kosong. Sekarang ada ruko, kafe kecil, klinik gigi, laundry kiloan, dan satu cluster baru dengan gerbang putih besar yang membuat jalan terasa lebih sempit.

“Dulu di situ lapangan, ya?” tanya Renata tiba-tiba.

Ibu menoleh sedikit. “Iya. Kamu dulu belajar sepeda di situ.”

“Kakak belajar sepeda?” Rendra langsung tertarik. “Jatuh nggak?”

“Semua orang belajar sepeda pasti jatuh,” kata Renata.

“Tapi kamu jatuhnya elegan?”

“Rendra Prawula,” kata Bapak dari kursi depan.

Rendra langsung bersandar. “Aku baru pemanasan, Pak.”

Ibu tersenyum.

Raina menatap keluar jendela. “Lapangan itu sekarang jadi cluster?”

“Iya,” jawab Ibu. “Bapakmu dulu marah-marah waktu mulai dibangun.”

“Karena jalan jadi macet,” kata Bapak.

“Karena pohon-pohonnya ditebang,” kata Ibu.

Bapak tidak menjawab.

Ibu menoleh sedikit pada anak-anak. “Bapak kalian kalau sedih, sering menyebut macet.”

Renata tersenyum kecil. Rendra memandang belakang kepala Bapak. Raina menyimpan kalimat itu dalam hati. Di rumah mereka, bahkan kesedihan pun sering harus memakai alasan praktis agar bisa diucapkan.

Perjalanan memakan waktu hampir satu jam setengah. Di depan rumah sakit, Bapak menurunkan Ibu, Renata, dan Raina lebih dulu. Rendra ikut turun untuk membantu sebelum Bapak mencari parkir.

Lobi rumah sakit terlalu terang. Aroma antiseptik langsung menyambut, bercampur dengan dingin AC dan suara pengumuman dari pengeras suara. Orang-orang duduk di kursi tunggu dengan berbagai jenis kelelahan. Ada anak kecil tidur di pangkuan ibunya. Ada laki-laki tua dengan tongkat. Ada perempuan muda membawa map hasil lab. Ada keluarga yang berbicara terlalu pelan. Ada yang tertawa keras, mungkin karena tidak tahu cara lain menahan takut. Rumah sakit selalu memaksa manusia terlihat sama: sama-sama menunggu.

Rendra mengambil kursi roda yang disediakan di dekat pintu.

Ibu langsung menggeleng. “Tidak usah.”

“Bu,” kata tiga anaknya hampir bersamaan.

Bapak yang baru datang dari parkiran menatap kursi roda itu, lalu Ibu. “Pakai dulu.”

“Ibu masih bisa jalan.”

“Bisa bukan berarti harus.”

Ibu menatap Bapak. Bapak tidak memanggil nama. Tidak berkata panjang. Tetapi suaranya kali ini tidak terdengar seperti perintah. Lebih seperti permintaan yang tidak tahu cara menunduk. Akhirnya Ibu duduk.

Rendra mendorong kursi roda itu pelan. Ia tampak canggung, terlalu berhati-hati, seolah kursi itu berisi sesuatu yang jauh lebih rapuh daripada tubuh Ibu.

Lihat selengkapnya