Pagi setelah Rendra berangkat, rumah terasa ganjil. Bukan kosong. Belum. Masih ada Bapak yang sejak subuh sudah bergerak di dapur. Masih ada Ibu yang berbaring di kamar dengan napas pelan. Masih ada Renata di meja makan dengan laptop terbuka dan cangkir kopi yang hampir tidak disentuh. Masih ada Raina di kamar lamanya, mengikuti rapat kantor dengan suara pelan agar tidak terdengar sampai ruang tengah.
Namun rumah itu kehilangan satu jenis suara. Tidak ada langkah berat Rendra dari kamar menuju dapur. Tidak ada komentar pendek tentang makanan. Tidak ada tawa kecil yang sering muncul setengah terlambat, seolah ia sendiri baru menyadari bahwa sesuatu cukup lucu untuk ditertawakan. Tidak ada sepatu berat di dekat pintu yang membuat teras tampak seperti baru saja kedatangan seseorang dari dunia lain.
Kursi Rendra di meja makan kosong lagi. Kali ini, kekosongannya tidak setajam sebelum ia pulang. Tetapi justru karena kursi itu sempat terisi, kosongnya menjadi lebih terlihat. Renata menyadari dirinya beberapa kali melirik kursi itu. Setiap kali sadar, ia memaksa mata kembali ke layar laptop.
Di layar, ada email dari kantornya. Subjeknya pendek:
Re: Campaign Timeline Adjustment
Renata sudah membaca email itu tiga kali, tetapi belum membalas. Di dalamnya ada pertanyaan yang seharusnya mudah: apakah ia bisa tetap memimpin presentasi final minggu depan secara remote, atau perlu digantikan sementara oleh Mei Ling.
Secara profesional, jawabannya jelas. Ia bisa. Renata selalu bisa. Ia bisa memimpin rapat dari meja makan rumah Japos dengan latar belakang dimatikan. Ia bisa menulis strategi kampanye sambil menunggu Ibu minum obat. Ia bisa mengatur jadwal kontrol dokter, membaca hasil lab, mencari second opinion, membalas email kantor, dan tetap terlihat tenang. Masalahnya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Renata tidak yakin apakah ia ingin terus membuktikan bahwa ia bisa.
Dari dapur, Bapak keluar membawa nampan kecil berisi bubur, air hangat, dan obat pagi.
“Bapak ke kamar Ibu dulu,” katanya.
Renata mengangkat wajah. “Aku ikut.”
“Buburnya sedikit. Kalau terlalu banyak orang, Ibu tidak nyaman makan.”
Renata menahan napas.
Kalimat itu masuk akal. Justru karena masuk akal, ia lebih sulit dibantah.
“Iya deh,” katanya.
Bapak berhenti sebentar, seolah mendengar usaha Renata menahan diri.
Lalu ia berkata, “Nanti kalau Ibu sudah makan, kamu masuk.”
Renata mengangguk.
Bapak membawa nampan itu ke kamar.
Pintu tidak ditutup sepenuhnya. Dari meja makan, Renata bisa mendengar suara mereka samar-samar.
“Bu, makan sedikit dulu.”
“Tidak lapar.”
“Dua sendok.”
“Satu.”
“Dua.”
“Pak, ini bukan tawar-menawar di pasar.”
“Kalau di pasar, Bapak minta tiga.”
Ibu tertawa pelan. Tawa itu kecil, tetapi cukup membuat Renata menunduk dan memejamkan mata sebentar.
Di kamar lain, suara Raina terdengar dari rapat daring.
“Iya, Mas, aku share screen sebentar.”
Lalu jeda.
“Bukan, yang segment ini pakai definisi baru.”
Renata membuka ponselnya. Grup keluarga memiliki pesan baru dari Rendra, dikirim pukul lima pagi.
Rendra: Sudah sampai mess transit. Sinyal jelek. Nanti malam baru bisa dengar rekaman full.
Di bawahnya, Raina membalas pukul enam lebih sedikit.
Raina: Oke Bang. Aku kirim juga summary singkat nanti.
Renata membaca pesan itu, lalu mengetik:
Aku sudah catat poin utama. Nanti kukirim setelah rapat kantor.
Ia hampir menambahkan: Aku juga mau cari second opinion hari ini.
Namun ia berhenti. Kalimat itu akan membuat percakapan lain dimulai. Rendra mungkin bertanya. Raina mungkin khawatir. Bapak mungkin membaca dan diam. Ibu mungkin tahu dari wajah mereka sebelum ada yang mengatakan apa-apa. Renata menghapus kalimat itu.
Ia hanya mengirim:
Kita update pelan-pelan.
Setelah pesan terkirim, ia menatap kalimatnya sendiri.
Pelan-pelan.
Aneh sekali melihat kata itu datang dari dirinya.
Pukul sembilan lewat, Ibu keluar dari kamar dengan bantuan Bapak. Wajahnya tampak lebih lelah daripada kemarin, tetapi ia tetap memaksa duduk di kursi rotan, bukan berbaring sepanjang pagi.
“Bu, yakin di luar?” tanya Renata.
“Kalau di kamar terus, Ibu merasa jadi orang sakit.”
Renata hampir menjawab bahwa Ibu memang sakit. Untung ia tidak. Bapak meliriknya, seolah tahu kalimat itu sempat lewat di kepalanya. Renata pura-pura tidak melihat.
Ibu duduk perlahan. Bapak membetulkan bantal di punggungnya, lalu mengambil selimut tipis dari sofa.
“Dingin?” tanya Bapak.
“Sedikit.”
“AC dimatikan saja.”
“Jangan. Nanti anak-anak panas.”
“Anak-anak bisa kipas-kipas.”
“Pak.”
Bapak berhenti. Lalu menaikan suhu AC sedikit saja, kompromi kecil yang tidak disebut sebagai kompromi.
Renata duduk di sofa dekat Ibu. Ia membawa ponsel dan notebook, tetapi tidak langsung membukanya.
“Bu,” katanya hati-hati. “Aku mau bahas soal second opinion.”
Ibu menoleh.
Bapak yang sedang melipat selimut di ujung sofa ikut berhenti.
Renata menyadarinya, tetapi terus bicara.
“Aku sudah cari beberapa opsi. Ada dokter di Jakarta juga, jadi nggak harus ke luar negeri dulu. Bisa mulai dari kirim ringkasan medis. Kalau memang perlu, baru konsultasi langsung.”
Ibu mendengarkan tanpa memotong.
“Aku nggak mau memaksa,” lanjut Renata cepat. “Aku ingat kata Ibu kemarin. Aku cuma mau memastikan kita nggak melewatkan kemungkinan.”
Ibu mengusap ujung scarf di bahunya.
“Renata,” katanya pelan, “kemungkinan itu banyak bentuknya.”
Renata menatapnya.
“Ada kemungkinan sembuh. Ada kemungkinan membaik sedikit. Ada kemungkinan obat membuat Ibu lebih nyaman. Ada kemungkinan waktu Ibu lebih pendek tapi lebih tenang. Ada kemungkinan waktu Ibu lebih panjang tapi habis di rumah sakit.”
Renata menggenggam notebook.
“Ibu tahu kamu ingin mengambil kemungkinan yang paling jauh,” kata Ibu. “Yang paling memberi harapan.”
“Bukankah harus begitu?”
“Tidak selalu.”
Renata merasa dadanya panas. “Kalau tidak begitu, rasanya seperti kita pasrah.”
“Pasrah tidak sama dengan berhenti peduli.”
“Tapi kalau masih ada yang bisa dicoba—”
“Renata Prawula,” kata Bapak.
Renata menoleh cepat. “Pak, aku belum selesai.”
Bapak menatapnya. “Ibu juga belum selesai.”
Kalimat itu membuat Renata diam.
Bukan karena nama lengkapnya. Bukan karena teguran. Tetapi karena ia sadar Bapak benar.
Ibu menyentuh tangan Renata.
“Ibu mau dicarikan second opinion,” katanya. “Ibu tidak menolak diperjuangkan.”
Renata mengangkat wajah.
“Tapi Ibu mau kamu tahu dari awal,” lanjut Ibu. “Kalau nanti jawabannya sama, Ibu tidak mau kamu marah pada dunia seolah dunia kurang bekerja keras.”
Renata tidak menjawab.
“Ibu juga tidak mau kamu marah pada diri sendiri.”
Kalimat itu membuat sesuatu di wajah Renata retak sedikit.
Bapak melihatnya, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
“Aku tidak tahu caranya, Bu,” kata Renata akhirnya.