Ringkasan medis dari rumah sakit datang lebih cepat daripada yang Renata duga. Email itu masuk pukul sembilan lewat dua puluh satu, ketika ia sedang duduk di meja makan dengan laptop terbuka, ponsel di sebelah kanan, notebook di sebelah kiri, dan segelas kopi yang sudah dingin sejak setengah jam lalu. Subjeknya singkat.
Ringkasan Medis — Lestari Wulandari
Untuk beberapa detik, Renata hanya menatap nama ibunya di layar.
Lestari Wulandari.
Nama itu terasa asing ketika berdiri sendiri tanpa kata Ibu di depannya. Seolah rumah sakit sedang mengembalikan ibunya menjadi seorang perempuan di luar perannya dalam keluarga. Bukan Ibu. Bukan Bu. Bukan orang yang hafal cara membuat perkedel kesukaan Rendra. Bukan orang yang memotong kulit timun untuk Raina. Bukan orang yang mengirim doa panjang di ulang tahun Renata.
Hanya nama pasien.
Lestari Wulandari.
Renata menarik napas, lalu mengunduh lampiran.
Dari dapur, Bapak keluar membawa air hangat. “Sudah masuk?”
Renata mengangguk. “Sudah.”
Bapak mendekat, tetapi tidak langsung melihat layar. Ia berdiri di sisi meja dengan tangan memegang gelas, seolah menunggu izin. Renata menyadarinya. Dulu, ia mungkin akan langsung merasa diawasi. Pagi itu, ia menggeser laptop sedikit agar Bapak bisa melihat.
“Ini ringkasannya,” katanya.
Bapak meletakkan gelas di meja, lalu berdiri di samping Renata. Keduanya membaca dalam diam.
Bahasa medis selalu punya cara sendiri untuk membuat hal yang menakutkan tampak rapi. Kalimat-kalimatnya terukur. Istilahnya bersih. Tidak ada air mata dalam paragraf. Tidak ada bunyi batuk. Tidak ada cara Ibu menahan mual agar anak-anaknya tidak panik. Tidak ada tangan Bapak yang bergerak cepat mengambil baskom. Hanya kondisi, riwayat, terapi, respons, rekomendasi.
Renata membaca sampai akhir. Lalu membaca lagi. Bapak tidak mengatakan apa-apa, tetapi Renata mendengar napasnya berubah sedikit pada bagian rekomendasi perawatan.
“Ini cukup untuk dikirim ke dokter lain,” kata Renata.
“Iya.”
“Aku sudah punya kontak klinik di Jakarta. Satu lagi rumah sakit di Singapura bisa review dokumen dulu.”
Bapak menoleh. “Singapura?”
“Review dokumen saja dulu, Pak. Ibu tidak perlu berangkat.”
Bapak diam.
Renata menunggu teguran. Menunggu nama lengkap. Menunggu kalimat bahwa jangan terlalu jauh dulu, jangan membuat Ibu lelah, jangan menjadikan semuanya rumit.
Namun Bapak hanya bertanya, “Butuh apa?”
Renata terdiam sebentar.
“File hasil lab lengkap. Foto obat yang sedang diminum. Mungkin kronologi singkat.”
“Bapak nanti buat kronologinya.”
“Aku bisa buat.”
“Bapak punya catatan harian.”
Renata menatapnya.
Bapak menambahkan, seolah takut kalimatnya terdengar seperti mengambil alih, “Nanti kamu rapikan kalau perlu.”
Renata mengangguk pelan. “Oke.”
Di ruang tengah, Ibu duduk di kursi rotan dengan selimut di pangkuan. Wajahnya tampak sedikit lebih segar dibanding kemarin malam, meskipun segar kini berarti ia bisa duduk tanpa langsung memejamkan mata.
Raina duduk di lantai dekat kakinya, laptop tertutup di samping badan. Hari itu ia meminta izin kerja dari rumah penuh. Bukan izin yang mudah, bukan tanpa konsekuensi, tetapi ia melakukannya. Ponselnya tetap beberapa kali menyala. Ia membiarkannya.
Ibu melihat gerakan mata Raina yang sesekali melirik layar.
“Kalau harus dijawab, jawab saja.”
Raina menggeleng. “Nanti.”
“Jangan nanti kalau penting.”
“Bu, aku lagi belajar membedakan penting dan orang lain panik.”
Ibu tersenyum kecil. “Sulit?”
“Sulit banget.”
“Dulu Ibu juga begitu.”
Raina menoleh. “Begitu?”
“Iya. Waktu masih terima pesanan kue. Semua orang merasa pesanannya paling mendesak. Bolu untuk arisan, risol untuk rapat RT, kue ulang tahun anak tetangga. Kalau Ibu bilang tidak bisa, rasanya seperti mengecewakan satu dunia.”
“Terus Ibu gimana?”
“Ibu sering tetap ambil.”
“Kok gitu, Bu?”
“Iya. Makanya Ibu bilang sulit.”
Raina menatap ibunya, lalu tertawa pelan. “Ternyata sifatku menurun dari Ibu juga.”
“Sebagian besar sifat anak-anak memang dari orang tua, hanya bentuknya lebih modern.”
“Kalau Kak Renata?”
“Dari Bapak dan Ibu. Ingin semua beres, tapi hatinya gampang cemas.”
“Bang Rendra?”
“Dari Bapak banyaknya. Kalau sakit, pura-pura kuat. Kalau sayang, bingung bentuknya.”
“Kalau aku?”
Ibu menatap Raina lama.
“Kamu dari rumah,” katanya.
Raina mengerutkan kening. “Maksudnya?”
“Kamu paling banyak menyimpan suara rumah. Itu sebabnya kamu paling terganggu kalau rumah berubah.”
Kalimat itu membuat Raina diam.
Ia tidak tahu harus merasa tersentuh atau terbebani. Mungkin keduanya.
Dari meja makan, Renata memanggil, “Rain, bisa bantu scan ulang hasil lab bulan lalu? File yang kemarin agak blur.”
“Bisa.”
Raina berdiri, lalu berhenti dan menoleh pada Ibu. “Aku tinggal sebentar, Bu.”
“Ibu tidak ke mana-mana.”
Raina menatapnya.
Ibu tersenyum. “Hari ini.”
Raina tidak suka tambahan itu, tetapi ia mulai belajar bahwa Ibu tidak lagi mau menghapus kenyataan hanya agar mereka nyaman.
Ia mengambil dokumen dari Bapak, memindainya dengan aplikasi di ponsel, lalu mengirim ke Renata. Bapak duduk di meja makan dengan agenda terbuka, mulai menyusun kronologi. Tulisannya tetap kecil, rapi, dan hampir tanpa emosi.
Minggu ke-1: nafsu makan menurun.
Minggu ke-2: mual lebih sering.
Tanggal 8: batuk malam, tidur terganggu.
Tanggal 11: anak-anak pulang.
Tanggal 12: muntah sedikit, obat mual membantu.
Renata membaca catatan itu dari samping.
Pada baris “anak-anak pulang”, ia berhenti.
“Pak,” katanya pelan.
“Hm?”
“Kenapa itu dicatat?”
Bapak melihat baris yang dimaksud.
“Karena setelah kalian pulang, Ibu makan lebih banyak.”
Renata tidak menjawab. Di luar dugaan, kalimat itu membuatnya lebih sedih daripada data medis apa pun pagi itu.
Bapak tidak menambahkan penjelasan. Mungkin karena menurutnya sudah cukup jelas. Mungkin karena ia tidak tahu bagaimana mengatakan bahwa kehadiran anak-anak mereka pernah menjadi gejala membaik yang paling ingin ia percayai.
Pukul sebelas, dokumen terkirim ke dua tempat. Satu dokter di Jakarta menjanjikan review sore. Rumah sakit di Singapura meminta waktu beberapa hari, tetapi Renata tetap mengirim semuanya. Setelah email terakhir terkirim, ia duduk diam di depan laptop.
Raina memperhatikannya. “Kak?
“Hm?”
“Sudah semua?”
“Sudah.”
“Terus sekarang?”
Pertanyaan itu seharusnya sederhana. Namun Renata tidak punya jawaban. Sekarang apa? Menunggu email. Menunggu dokter. Menunggu tubuh Ibu. Menunggu Rendra punya sinyal. Menunggu Bapak memberi kabar. Menunggu waktu yang sejak kemarin terasa seperti seseorang yang berdiri di lorong rumah, tidak masuk, tetapi tidak pergi.
Ibu menjawab dari kursi rotan.
“Sekarang kita makan siang.”
Renata menoleh.
Ibu tampak sangat serius.
“Bu, Ibu mau makan apa?” tanya Raina.
“Yang biasa saja.”
“Biasa itu apa?”
“Nasi sedikit. Sayur. Kalau ada telur, boleh.”
Bapak langsung berdiri. “Bapak buatkan.”
“Ibu mau anak-anak yang buat.”
Bapak berhenti.
Renata dan Raina saling menatap.
“Ibu yakin?” tanya Raina.
“Ibu tidak minta kalian buka restoran. Cuma makan siang.”
“Bapak boleh bantu?” tanya Bapak.
Ibu menatapnya. “Boleh, kalau tidak mengambil alih.”
Renata menahan senyum.
Bapak tampak seperti baru saja diberi syarat yang sangat sulit.
Mereka pindah ke dapur. Tidak ada Rendra hari itu untuk mengomentari potongan sayur atau membuat lelucon tentang kualitas masakan Bapak. Ketidakhadirannya terasa di dapur juga. Di tempat ia seharusnya bersandar di kusen, sekarang hanya ada kain lap tergantung.
Raina membuka kulkas. “Ada bayam. Wortel. Telur. Tahu.”
“Sayur bening saja,” kata Renata.
“Setuju. Risiko gagal paling kecil.”